Kecerdasan Para Humoris

Posted on July 17th, 2020

“It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge.” (Albert Einstein)

RAMAI dan ceria. Dalam setiap kelompok ada saja hadir ragam type orang. Yang humoris, yang serius, yang suka kepo, yang senang berargumentasi, yang suka menanggapi pendapat yang lain dari perspektif yang berbeda-beda. Ada yang suka usulin ide-ide baru, ada juga yang suka usilin postingan orang lain, bahkan dengan cara yang bisa dibilang rada jail (atau jahil?). Kita memang senang dengan keragaman, kita bisa memahami masing-masing karakter itu karena sudah kenal lama, dan kalau sudah nyerempet (apa saja), bila dibelokin dengan mengangkat sisi humornya, maka tawa ceria bisa terpancing, bahkan di wa group sekalipun. Bukan hanya bercanda, sesekali muncul postingan foto lama, seakan mengingatkan kalau Covid sudah berlalu, acara rekreasi perlu segera dirancang. Contoh foto lama, saat rekreasi tim ke Surbaya dan Suramadu.

Kosa Kata, Definisi dan Ragam Pribadi

Berawal dari postingan menu makan siang teman, muncul dialog bernada kepo, menggoda atau bahkan cenderung jahil. Namun ada saja teman yang ingin menengahi komentar jahil tersebut dengan mengatakan: dia jahil tapi baik.

Bahkan ada yang berusaha menjelaskan perbedaan jahil dan jail:

Mau mengingatkan: Jail = suka mengganggu (menggoda dan sebagainya) orang lain; nakal, sementara Jahil = bodoh

Diskusipun berlanjut membahas definisi ini …… diselingi dengan postingan lainnya.

Tujuh jam kemudian, di jam 19:08, saya melihat postingan tanggapan seorang kawan, masih tentang makna kata tersebut. Kemudian sayapun menimpali dengan candaan:

Ini diskusi terpanjang tentang Jail/jahil, dari 12:50 sd 19:08. Pasti penting sekali untuk Future HR. Maksudnya, untuk masa depan HR

Saya sepenuhnya sadar, alur obrolan diatas sekedar bercanda. Dan 7 jam itupun bukan sepenuhnya membicarakan yang itu saja. Maka muncul kembali tanggapan. Kali ini tanggapan yang menengahi,

Penting untuk Pagiyuban: yang penting, memang penting kan ya.

Sementara itu kawan yang suka berkutat dengan Big Data, selain memberikan kita makna kata Jahil/Jail sesuai komen diatas, juga menengahi dengan:

Memastikan tidak ada anggota Pagiyuban yang jahil …. Penting ini. Kalau yang jail buanyak.

Tak diduga, muncul teman yang agenda hariannya penuh dengan urusan “Culture dan Happiness”, membagikan link tulisan di WEF … dengan komen:

Jail pangkal lucu pangkal pintar

Kita simak bersama apa isi tulisan tersebut.

Humoris ternyata lebih Pintar

Tulisan Lowri Dowthwaite, Lecturer in Psychological Interventions, University of Central Lancashire, seputar World Economic Forum, mengambil judul:

Funny people are also more intelligent, according to new research.

Banyak studi yang coba menghubungkan humor dan intelligence. Beberapa butir penting dari studi periset di Austria adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang lucu, mempunyai IQ lebih tinggi dibandingkan dengan teman2nya yang kurang lucu, karena dibutuhkan kemampuan cognitive dan emosional untuk memproses dan membuat humor
  2. Orang yang lucu, mempunyai inteligensi Verbal dan non-verbal lebih tinggi dan mempunyai score rendah pada mood disturbance dan aggressiveness.
  3. Selain smart, orang yang lucu juga disenangi orang-orang sekitarnya. Eviden juga membuktikan bahwa ada hubungan antara good sense of humor dengan high emotional intelligence dan highly desirable quality in a partner.
  4. Evolutionary psychologists juga menjelaskan humor sebagai:
    A “heritable trait” that signals mental fitness and intellectual agility to prospective mates. In studies of attractiveness, both men and women rate funny people as more attractive, and cite having a good sense of humour as being one of the most important traits in a long-term partner.
  5. Dalam ilmu psychology, penggunaan “positive humour style” merujuk pada: People who use humour to enhance relationships and reduce conflict. This type of humour is associated with relationship satisfaction, extroversion and high self-esteem. Having a humorous outlook on life is also a good coping strategy. It helps people better manage stress and adversity.
  6. Humoris tidak saja membuat orang lain tertawa, tapi mereka sendiri juga lebih banyak tertawa. Dan neurobiology memperlihatkan bahwa tertawa membuat otak berubah, yang bisa menjelaskan hubungan humor dan inteligensi.
  7. Neuropsychological studies have found that experiencing positive emotional states, such as joy, fun and happiness, increases the production of dopamine in the brain. Dopamine not only make us feel great, it also opens up the learning centres of the brain, which enables and sustains more neural connections. As a result, we become more flexible and creative in our thinking, and better at solving problems. It also boosts our working memory.
  8. Evidence juga memperlihatkan bahwa humor juga boosts perceptions of confidence, competence and status, membuat humoris lebih berpengaruh. Humor menarik perhatian orang, membantu penyampaian pesan dan juga sebagai alat bantu dalam belajar. Humor juga digunakan banyak leader dalam membangun team yang solid dan budaya di perusahaan. Studi juga memperlihatkan bahwa semakin banyak fun di tempat kerja akan semakin produktif, dan kecil kemungkinan untuk kita mengalami burn-out.
  9. Dampak pada well-being: The “broaden and build” theory also supports the idea that experiencing positive emotions through humour actually alters our thoughts, actions and physiological responses. It creates a virtuous circle effect that enhances well-being.
  10. Research juga membuktikan bahwa murid akan lebih menikmati pelajaran yang dibawakan dengan banyak humor.

Menyimak daftar panjang diatas, kita boleh gembira bahwa diantara komunitas kita ada ragam karakter orang, termasuk yang punya kemampuan humor. Ini akan membuat setiap pertemuan atau percakapan, virtual atau face to face menjadi ceria dengan beragam warna. Dan teman yang suka melucu boleh berbangga dengan hasil riset itu, bahwa kemampuan humor sangat membantu peran anda sebagai trainer/facilitator, atau sebagai leader, terutama dalam mencegah burn-out dan sekaligus membawa suasana kerja penuh FUN di tengah tim anda.

“A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done.” (Dwight D. Eisenhower)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life