Posted on December 27th, 2011
Saya pertama kali ditugaskan ke pabrik, awal 1983. Selain merupakan lingkungan baru bagi saya, penugasan ini juga sangat menantang karena penanganan masalah Industrial Relations di sini akan menjadi barometer hubungan industrial untuk seluruh perusahaan.
Pada kesempatan pertama kami mengundang Bipartite meeting dengan rekan Serikat Pekerja di Unit Pabrik tersebut. Selain agenda dari kami, ternyata agenda dari pihak Serikat Pekerja pun cukup panjang, lebih dari satu halaman.
Dengan semangat “Musyawarah untuk mufakat” kami memulai pertemuan itu dengan menyamakan pandangan tentang berbagai persoalan yang ada di lokasi kerja tersebut. Pihak Serikat Pekerja mempunyai misi untuk membela kepentingan anggotanya, dan di pihak lain Pengusaha juga mempunyai misi untuk kesejahteraan karyawan. Ternyata yang dimaksud “anggota” oleh Serikat Pekerja adalah obyek yang sama dengan yang disebut “Karyawan” oleh Pengusaha.
Itu artinya baik Serikat Pekerja maupun Pengusaha mempunyai kepentingan yang sama.
Hari itu tidak semua agenda dapat dibahas. Namun kami sepakat bahwa yang mendesak akan didahulukan dan yang lain akan diagendakan untuk pertemuan berikutnya. Bulan demi bulan, agendanya semakin menurun jumlahnya, dan ini merupakan kesempatan kami untuk juga memberikan berbagai informasi tentang perusahaan atau tentang hal-hal lain yang perlu diketahui oleh rekan-rekan Serikat Pekerja.
Apakah dengan berkurangnya agenda, tugas kami sudah selesai??
Tidak. Tugas besar berikutnya adalah memberikan edukasi kepada para Management, terutama yang berada di front line, tentang pentingnya Industrial Relations dan apa peran mereka sebagai kepala bagian di unit masing-masing. Para pimpinan sering berganti, pindah, promosi dan pimpinan yang muda terus hadir. Bayangkan kehadiran seorang pimpinan muda dengan masa kerja pendek, yang membawahi anak buah yang mempunyai masa kerja panjang dan punya pengalaman Industrial Relations yang juga panjang. Mereka perlu kita bekali dari waktu ke waktu, karena kalau issue kecil bisa diatasi di tingkat unit, maka tidak akan ada eskalasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ini akan menciptakan Industrial Peace yang akan menunjang peningkatan produktivitas.
Foto ini menunjukkan aktivitas Team Building Management dan Serikat Pekerja dengan tema: Future is in our Hands
Para leluhur kita sudah mewariskan kita budaya “Musyawarah dan Mufakat”. Tinggal tantangan untuk kita adalah, apakah kita mau membuka diri untuk dialog, mau berbesar hati untuk memulai musyawarah.
josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...
Malla Latif:
Setiap baca refleksi dari Bapak selalu bikin berhenti sejenak dan re-align arah hidup. Terima kasih ya...
josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...
Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..
josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam
Dari pihak manajemen sampai pihak operasional dilibatkan untuk membentuk lingkungan kerja yang kondusif….
Musyawarah juga dijalankan dengan efektif,,,
Bisa diterapkan dalam berorganisasi di kampus dong Opa?
Fanny, Musyawarah dan Mufakat adalah warisan leluhur kita yg luar biasa, dan perlu kita letarikan. Dan dalam perjalanan sejarah bangsa,ataupun organisai, pendektan ini sangat membantu. Fanny bisa gunakan di organisasi sekolah atau lainnya.
Mantaaab !!!