Tuntutan Teknologi dan Sentuhan Manusiawi

Posted on November 8th, 2013

“Change is not meant to be COMFORTABLE because all change that really matters takes you beyond the limits of your COMFORT zone.” (Che Garman)

SERING KALISentuhan Manusiawi’ dipertentangkan dengan ‘Penerapan Teknologi’ tertentu. Ketika email diperkenalkan, orang berkomentar: “Apakah ini tidak membuat orang sibuk di balik komputer dan tidak berinteraksi langsung dengan manusia??”

Padahal mereka lupa kalau email itu bisa mengganti peran menulis surat yang membutuhkan waktu dan energi lebih banyak. Dan ternyata, perlu waktu yang cukup lama untuk transformasi, karena masih ada yang membuat draft tertulis untuk diketik sekretarisnya di komputer, dan meminta dicetak email yang masuk untuk dibaca.

Demikian juga ketika teknologi memperkenalkan sistem untuk Performance Management System, orang bertanya: “Akankah tatap muka untuk mendiskusikan performance dan karier akan diambil alih oleh mesin??”

Disini pun aspek lain yang tidak dilihat adalah teknologi ini lebih sebagai enabler, dan sama sekali tidak mengambil alih peran atasan yang tetap harus membuat sesi tatap muka untuk performance discussion.

Masih banyak lagi contoh yang kita semua hadapi, kita semua bertanya di awalnya, namun arus teknologi tidak bisa dibendung lagi. Terima atau tidak, teknologi sudah hadir di tengah kita. Dan untuk itu kami diundang untuk ikut urun rembuk dalam  roundtable discussion HR Brunch Microsoft Tech Days yang diberi judul: “Enterprise Social Agenda, Transforming The Way We Work.” Acara yang merupakan kerjasama Microsoft Indonesia dengan PortalHR tersebut diselenggarakan di Balai Kartini Jakarta, 24 Oktober 2013 silam.

Transformasi Demi Memudahkan Kerja

Sejalan dengan perubahan akan tuntutan informasi terkini, kita dihadapkan pada situasi di mana data yang dikelola terus menggunung. Ini perlu dikelola, dianalisa demi pengambilan keputusan. Cara kerja manual tentu bukan lagi merupakan opsi. Maka, hadirlah berbagai pilihan teknologi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam bekerja, bukan saja bekerja di kantor, tapi di tempat-tempat lain.

Namun demikian, dalam memperkenalkannya, terlalu sering kita berpusat pada menjual kehebatan teknologi tersebut, dan lupa bahwa elemen penting lainnya adalah memperkenalkan perubahan pada pelakunya, mengubah perilaku dalam bekerja. Gagal melakukan ini, akan membuat mereka yang tadinya sepakat untuk menggunakan teknologi yang disediakan, akhirnya enggan melakukannya.

Generasi yang Berbeda

Dengan penuh humor Pak Krisbiyanto, senior partner PortalHR yang menjadi pembicara sebelumnya, mencontohkan 4 generasi berlainan yang memiliki gaya komunikasi yang berbeda-beda, yang disimpulkan dengan: Generasi Senior: “Write me”, Baby Boomer: “Call me”, Gen X: “Email me”, dan Gen Y “Text me”.

Tentu saja pendekatannya juga berbeda untuk masing-masing lintas generasi ini. Menurut hemat saya yang paling direpotkan adalah Generasi X. Di samping mereka perlu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan teknologi ini, mereka harus terus melakukan adaptasi dengan Boomers dan yang lebih senior lagi, sementara itu sudah hadir lagi Gen Y yang juga perlu mendapat perhatian, kalau memang kita ingin mereka bisa bertahan kerja lebih lama di perusahaan kita.

Peran HR dalam Duet dengan Bagian IT

Sadar atau tidak, Gen Y adalah masa depan, dan Teknologi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari generasi ini. Trend tentang gaya kerja yang berbeda, sudah menembus tembok kantor untuk memberikan kemudahan karyawan untuk mempunyai fleksibilitas bekerja di mana saja, tanpa harus terkungkung pada sebuah tempat tertentu yang namanya Kantor.

Bahkan ketika membuat janji makan siang baru-baru ini, seorang sahabat memilih tiba di restoran tujuan jauh lebih awal untuk menghindari macet, dan dia bisa bekerja dengan menggunakan Wi-Fi di restoran tersebut. Dan tidak aneh kalau dewasa ini sudah banyak yang mulai bekerja dari rumah, dari kafe atau tempat-tempat umum yang menyediakan fasilitas Wi-Fi.

Dalam kaitan dengan teknologi untuk memudahkan kerja, terutama dalam menunjang pengelolaan Sumber Daya Manusia, duet HR dan bagian IT sangat kritikal, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan, menerjemahkan ke dalam teknologi yang efisien, mempersiapkan berbagai argumentasi untuk menjual ide kepada manajemen, serta mempersiapkan berbagai langkah untuk memperkenalkan perubahan, bilamana teknologi dihadirkan.

Menjadi Contoh

Pandangan umum yang beredar adalah, para direksi atau pimpinan tinggi perusahaan identik dengan Gaptek, alias gagap teknologi, terutama untuk Social Media. Sejak dini, sayapun belajar dan terus belajar untuk familiarisasi dengan berbagai sarana media sosial, untuk mematahkan mitos tersebut di atas.

Secara aktif saya rutin untuk sharing di blog www.josefbataona.com juga mempunyai akun di Twitter, FaceBook, LinkedIn dan Instagram. Semuanya saya berdayakan untuk menjaring komunitas pembelajaran. Ditunjang dengan sebuah iPad, setiap moment yang tersedia saya bisa hadir di jaringan sosial untuk belajar dan berbagi.

Apa Lagi yang Ditunggu??

PortalHR terus menggugah praktisi HR untuk menyadari bahwa teknologi sebagai enabler, akan sangat menunjang kerja, dan sama sekali tidak menghilangkan Human Touch.  Bahkan kalau media sosial bisa digunakan secara tepat, akan dapat meningkatkan engagement bahkan produktivitas karyawan, dan karyawan sebetulnya juga dapat dioptimalkan menjadi ambassador perusahaan di social media.

“The greatest difficulty in the world is not for people to accept new ideas, but to make them forget about old ideas.” (John Maynard Keynes)

Bookmark and Share

6 Responses to Tuntutan Teknologi dan Sentuhan Manusiawi

  1. devi says:

    Sebelumnya saya mengucapkan SEMANGAT PAGI kepada Pak Josef Bataona yg selalu menyuguhkan hidangan pembuka pagi dengan sesuatu yg selalu menggelitik fikiran kita. Topik yg bapak angkat pagi Jum’at ini menyadarkan kepada kita bahwa disekeliling kita selalu akan berubah seirang dg pergeseran waktu, temasuk tentang Tekhnology sbg bahagian kemajuan yg bisa kita manfaatkan dlm kegiatan apapun kearah yang positif. Sekali lagi terima aksih Pak Joseph.

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi, perubahan terus hadir disekitar kita. Semoga kita jeli menyimak dan mengambil langkah untuk menyesuaikan diri ke arah yang lebih positif

  2. Sri Kumala Dewi says:

    Teknologi sebagai enabler…. Suka sekali dengan kalimat ini dan 100% setuju Pak.

    Salah satu bukti nyatanya adalah transfer of knowledge yg Pak Josef hadirkan via blog inspiratif ini, yang lekat dg Wisdom nya dunia HR. Seolah-olah saya merasa ikutan sesi ‘tatap muka langsung’ tiap minggu hehe

    Teknologi mempermudah pekerjaan, seringkali jd ‘teman setia’ tuk balas email dan melanjutkan kerja di tengah kemacetan, jd lbh sabar dan ‘menikmati’ macet 🙂

    GBU, Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Dewi, terutama untuk mengikuti “tatap muka langsung” via kisah2 di blog ini. Masih banyak lagi kemudahan yang kita dapatkan kalau kita mau memanfaatkan teknologi yang tersedia. Salah satunya: mengisi kemacetan dengan hal yang lebih positif. GBU Dewi !

  3. eriman says:

    wah ok banget Pa Jos! pertanyaan saya bagaimana melakukan analisa sederhana peran alih dari teknologi ke manusia secara bijak Pa? misalnya menggantikan security dengan cctv, angkut-dorong-manggul (ADM) dengan forklift dsb. terima kasih Pa

    • josef josef says:

      Terima kasih Eriman. Pertanyaanmu tdk bisa dijawab dalam satu kalimat. Tapi pertanyaan paling pokok adalah: kenapa muncul kebutuhan untuk melengkapi sistim pengamanan dengan CCTV ? Dan mengapa ada kebutuhan untuk mencari alat penunjang ADM ? CCTV dan Forklift hanya merupakan jawaban atau solusi dari analisa diatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life