Posted on November 13th, 2015
“At the beach, life is different. Time doesn’t move hour to hour but mood to moment. We live by the currents, plan by the tides, and follow the sun.” (Sandy Gingras)
BUS BARU BERGERAK dari hotel menuju Tanjung Ringgit. Ada seorang bule dalam bis, Saya sempat terperanjat ketika sahabat kami, Wiwik mengumumkan bahwa Mery (si bule tadi) akan memberikan kita paparan tentang Tanjung Ringgit dan apa yang bisa kita lakukan sepanjang hari ini.
Mery? Menjelaskan tentang tujuan wisata di Lombok? Apa guide local yang bersama kami di bis tidak tahu? Pertanyaann di hati saya mungkin terlalu dini.
Mery pun mulai menjelaskan, “Saya dan tim kami adalah penggiat lingkungan dan sedang mengerjakan proyek raksasa EcoRegion berbasis Sustainable Development, di kawasan Lombok Tenggara dan Sumbawa, bersama Pemerintah Pusat dan Daerah serta melibatkan penduduk setempat.”
Lanjutan paparannya, “Tanjung Ringgit adalah paradise, dengan 50 pantai yang mengagumkan, 15 pulau, rainforests, air terjun, tempat diving, snorkel atau hiking. Pantainya merupakan salah satu dari sedikit “pink beach” di dunia. Kegiatan proyek termasuk membangun prasarana, menanam ribuan pohon dan karang laut.”
Kami dijemput dengan Garuda dan Air Asia, nama perahu bermotor yang akan mengajak kami berdecak kagum selama sejam perjalanan laut.

Perjalanan Menuju Gili Pitelu
Perjalanan menuju sebuah pulau kecil, bernama Gili Pitelu, terasa sangat cepat berlalu, walau lamanya sejam. Perahu melaju menyusur pantai, memungkinkan kami menyaksikan setiap detail beberapa pantai yang dilalui. Kami tiba di sebuah pulau kecil, yang akan menjadi basis kami seharian, untuk aktivitas air tahap pertama.

Di tempat ini juga kami bersama menikmati santap siang, nasi kotak yang entah kenapa nikmatnya luar biasa. Belum lagi hidangan penutup berupa Es Krim Walls. Terima kasih Mbak Enny Sampurno, yang walaupun tidak ikut tapi membekali kami dengan dua mobile cabinet penuh es krim, guna mengimbangi terik matahari di titik kulminasi.

Banyak Pantai dalam Jangkauan Perahu Motor
Pulau ini kami tinggalkan sementara, dijaga tim EcoRegion. Kami tidak akan sia-siakan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi berikutnya, Pink Beach seperti foto berikut ini:

Atau spot cantik untuk sekedar berenang atau snorkel untuk melihat berbagai terumbu karang di bawah laut.

Rona Senja Beribu Kesan
Saatnya kami mengganti kostum orange, menanti senja tiba. Duduk diam menanti? Oh, tidak… berbagai aksi, pose untuk direkam kamera, termasuk demo kelincahan melompat.

Matahari pun memasuki peraduannya. Rona senja terasa masih melekat di sanubari kami, yang menyimpan beribu kesan kebersamaan, kekeluargaan. Perahu kami sudah mulai beranjak menuju titik penjemputan. Dalam keheningan di hotel dan mimpi dalam kelelapan, masing-masing kami seakan berbisik pada diri sendiri: “Semoga kami akan kembali lagi suatu saat nanti.”
“Clouds come floating into my life, no longer to carry rain or usher storm, but to add color to my sunset sky.” (Rabindranath Tagore)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...