Posted on September 12th, 2017
“The silence of nature is very real. It surrounds you . . . you can feel it.” (Ted Trueblood)
LAMALERA MEMIKAT! Daya pikatnya sudah mendunia. Turis asing masih terus berdatangan. Tak segan, mereka tinggal di rumah penduduk, ingin sekedar merasakan dinamika kehidupan setempat. Bahkan tanpa harus banyak berbincang, hanya berdiam diri di pantai, atau di bukit batu, pinggir jalan, depan rumah atau pinggir laut. Hanya diam dan merasakan hembusan angin laut, atau merekam debur ombak … dan rasakan sensasinya.

Pantai Kupang dan Sasando
Perjalanan menuju Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sudah lebih mudah diakses seiring jalannya waktu. Kalau mau terbang jam 04:00 pagi dari Jakarta, bisa konek penerbangan siang ke Lembata di hari yang sama. Kami memilih untuk berangkat siang dan menginap semalam di Kupang. Sore itu memang sengaja kami sekeluarga habiskan waktu untuk ngopi di Pantai Kupang sambil menunggu matahari terbenam.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah sarapan pagi diiringi Musik Sasando, langsung oleh Jeremias Pah. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan meminta Pah untuk memainkan sepenggal lagu Happy Birth Day yang saya rekam untuk di-WA sebagai ucapan selamat untuk teman yang sedang merayakan ulang tahun di Jakarta.

Bersahabat dengan Alam
Apa yang dilakukan bila kita merencanakan silaturahmi dengan sekitar 100 orang? Apa yang dipersiapkan untuk menjamu mereka? Pertanyaan yang sama saya ajukan kepada adik di rumah malam itu. Dia hanya tersenyum dan berkata: “Tidak usah khawatir.” Dan saya pun merasa ok karena percaya padanya.
Pagi-pagi sekali saya sengaja mencari pesona matahari terbit sejak jam 05:00 pagi.

Jam baru menunjukkan angka 07:00 pagi ketika adik muncul bersama seorang yang membawa tuna segar, baru turun dari perahu pagi itu di pantai, hasil tangkapan semalam. Seakan mereka hanya mengambil sedikit dari ribuan stock ikan yang berada di laut pantai Lamalera untuk makan siang bersama hari itu.

Ekspresi Seni melalui Tenun Ikat
Dan tentu saja tidak lengkap kalau belum mengetengahkan berbagai variasi tenun ikat, beberapa dari puluhan motif yang hadir di NTT, baik yang mereka kenakan sehari-hari.

Ataupun untuk dikoleksi, seperti beberapa dari koleksi kami sendiri ini.

Ini hanya sedikit dari sekian banyak karya anak bangsa yang tinggal di pedesaan, yang semakin mendapat apresiasi. Semoga karya kreatif ini juga bisa memberikan nilai tambah secara finansial bagi kehidupan mereka.
Waktu berlalu begitu cepat, namun rekaman perjalanan, terutama ketika hadir di tepi pantai, atau bercengkerama dengan keluarga nelayan, petikan di akhir tulisan ini seakan terus mengingatkan tentang kekayaan alam desaku dan nikmatnya kehidupan di sana yang penuh sukacita menyatu dengan alam.
“Every time I stand before a beautiful beach, its waves seem to whisper to me: If you choose the simple things and find joy in nature’s simple treasures, life and living need not be so hard.” (Psyche Roxas-Mendoza)
josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...
Malla Latif:
Setiap baca refleksi dari Bapak selalu bikin berhenti sejenak dan re-align arah hidup. Terima kasih ya...
josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...
Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..
josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam