Posted on March 4th, 2016
“Disciplining yourself to do what you know is right and important, although difficult, is the highroad to pride, self-esteem, and personal satisfaction.” (Margaret Thatcher)
STAY AND STRIVE, kalau saya mau gunakan istilah keren untuk judul di atas. Berbagai momen kesehariaan memberikan beberapa gambaran sederhana tentang kebanggaan: foto yang merekam momen penting (saya bangga berada di sana); foto selfie/wefie (saya bangga pada penampilan saya/penampilan bersama kami); bercerita penuh semangat tentang prestasi anak (saya bangga pada anak saya); bercerita tentang momen tertentu dalam perjalanan karier saya; bercerita tentang momen kebersamaan di tempat saya bekerja, momen bersama teman-teman lama, ataupun momen di masyarakat. Semua ini berpangkal/ataupun berujung pada rasa bangga yang mendalam, yang memunculkan kebahagiaan dan ingin berbagi kepada orang lain.
Bangga, Cerita dan Berjuang
Bagi pimpinan di perusahaan, akan sangat menggembirakan mendengarkan pengakuan tulus karyawan:
“Saya bangga bekerja di perusahaan ini.”
Bahkan kita bisa mendengar dari orang-orang di luar perusahaan yang bercerita:
“Karyawanmu suka bercerita kalau mereka sangat bangga dengan perusahaannya.”
Indikator sederhana untuk memonitor kebanggaan karyawan akan perusahaan dan lingkungan kerjanya. 3S (Say, Stay and Strive)
Paduan dari 3 (tiga) elemen ini akan memberikan harapan positif bagi keberlangsungan perusahaan ini untuk jangka panjang. Namun hadirnya ketiga elemen tersebut di masa mendatang, juga akan sangat tergantung pada peran masing-masing leader untuk memfasilitasi kehidupan organisasi, seperti yang dipaparkan di bawah ini.
Perhatian kecil seperti pada foto terlampir, turut menciptakan suasana kerja, saling memperhatikan, saling menghargai, saling membahagiakan.

Tips 10 C untuk Leader
Dalam Ivey Business Journal, para peneliti dari University of Western Ontario’s Rachard Ivey School of Business memberikan sari tips tentang apa yang dilakukan oleh para manager untuk meningkatkan kadar Keterlekatan (engagement) karyawan, dengan judul “The 10 C’s of Employee Engagement“.
Saya kutip dan terjemahkan penjelasannya:
Pada akhirnya, kalau kita bicara tentang ‘Keterlekatan Karyawan’ (Employee Engagement), kita bukan berbicara tentang karyawan tapi tentang leader, seperti kutipan di akhir tulisan ini.
“Employee Engagement is not really about the employees, it’s really about effective leadership.” (Dr. R L Bhatia)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Menciptakan employee engagement bukan hanya sekedar dengan memberikan gaji yang tinggi dan banyaknya acara gathering yang dibuat oleh perusahaan untuk mempererat hubungan satu dengan yang lainnya, tapi mengenai seberapa besar kepercayaan yang diberikan seorang leader kepada bawahannya.
Sangat setuju Martha. Kepercayaan itu diwujudkan dalam berbagai bentuk interaksi atasan dan bawahan. Kalaupun ada event tertentu yang dilakukan, itu bukan sekedar jumlah event, tapi ketulusan dalam meramu event tersebut. Dan karyawan dengan muda membacanya. Terima kasih Martha.