Posted on October 25th, 2016
“We need to help students and parents cherish and preserve the ethnic and cultural diversity that nourishes and strengthens this community – and this nation.” (Cesar Chavez)
MATA SAYA TERBELALAK. Sudah jam 07:30, saya sudah bangun dan mandi, dan saat ini berada di depan coffee shop untuk sarapan. Saya harus mengusap mata beberapa kali, karena hampir tidak percaya penglihatan saya. Di atas meja reception coffee shop di sebuah hotel di tengah kota Southampton, saya membaca headline surat kabar pagi itu: “2069 before women get equal pay.” Artinya diperlukan 53 tahun lagi untuk meraih kesetaraan upah antara pria dan wanita.

(Atas: Foto koran yang dimaksud. Bawah: Rekan-rekan HRDF, yang terus mengawal system HR yang menjunjung kesetaraan gender dalam kesempatan kerja dan pengupahan)
Ketimpangan di Banyak Sektor
Artikel itu bersumber dari Survey Deloitte yang memaparkan data untuk Median full-time salary (dlm GBP), untuk a.l:
Bahkan di bidang kerja yang mayoritasnya adalah wanita, mereka masih menerima gaji lebih rendah dari rekan kerja prianya.
Dalam press release-nya disampaikan juga:
The UK gender pay gap will not close until 2069 unless action is taken to tackle it now.
Ketika di telusuri balik sebab ketimpangan itu, menurut survey, karena pilihan bidang studi, yang menyebabkan starting salary-nya sudah berbeda. Misalnya gap antara wanita dan pria yang studi Stem (science, technology, engineering and mathematics) tidak beda jauh karena jumlah wanita yang belajar di bidang Stem hampir sama dengan pria. Apakah dengan ini kita berasumsi bahwa beda pengetahuan ini akan terus terjaga walaupun dalam pengalaman nyata setiap orang bisa belajar cepat on the job dan mampu menunjukan kinerja yang lebih tinggi ?
Alasan Kekagetan Saya
Kekagetan yang saya sampaikan di awal tulisan ini berkaitan dengan beberapa alasan:
Sampai di titik ini, saya sendiri belum paham sepenuhnya mengapa harus menunggu 53 tahun untuk mencapai kesetaraan itu. Apa lagi kenyataan memperlihatkan bahwa banyak wanita karier yang juga mencapai puncak karier di banyak perusahaan. Tapi perlu juga mencermati apa yang disampaikan Emma Watson di UN dalam pidatonya tentang pendidikan: “The University experience must tell women that their brainpower is valued.”
Dari aspek ini, saya merasa sangat bersyukur, bahwa dalam perusahaan di mana saya berkarya, kami membuat diferensiasi bukan karena gender, tapi atas dasar kinerja. Dan teman-teman praktisi HR di Indonesia mungkin juga sependapat bahwa, membedakan gaji atas dasar gender bukanlah merupakan praktek umum di tanah air ini, dan tentu saja jauh dari bijak.
“Diversity in the world is a basic characteristic of human society, and also the key condition for a lively and dynamic world as we see today.” (Jintao Hu)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...