Gender Gaji dan Kinerja

Posted on October 25th, 2016

“We need to help students and parents cherish and preserve the ethnic and cultural diversity that nourishes and strengthens this community – and this nation.” (Cesar Chavez)

MATA SAYA TERBELALAK. Sudah jam 07:30, saya sudah bangun dan mandi, dan saat ini berada di depan coffee shop untuk sarapan. Saya harus mengusap mata beberapa kali, karena hampir tidak percaya penglihatan saya. Di atas meja reception coffee shop di sebuah hotel di tengah kota Southampton, saya membaca headline surat kabar pagi itu: “2069 before women get equal pay.” Artinya diperlukan 53 tahun lagi untuk meraih kesetaraan upah antara pria dan wanita.

gender-gaji-dan-kinerja

(Atas: Foto koran yang dimaksud. Bawah: Rekan-rekan HRDF, yang terus mengawal system HR yang menjunjung kesetaraan gender dalam kesempatan kerja dan pengupahan)

Ketimpangan di Banyak Sektor

Artikel itu bersumber dari Survey Deloitte yang memaparkan data untuk Median full-time salary (dlm GBP), untuk a.l:

  • Health professional: women 32,472 vs men 40,943, gap 21%
  • Administrative occupations: women 20,526 vs men 23,502, gap 13%
  • Caring and personal service occupations: women 16,408 vs men 18,922. Gap 13%
  • Teaching and education professionals: women 35,023 vs men 39,538, gap 11%
  • Business and public service associate professionals: women 28,752 vs men 36,646, gap 22%
  • Science, research, engineering and technology professionals: women 34,543 vs 40,415, gap 15%

Bahkan di bidang kerja yang mayoritasnya adalah wanita, mereka masih menerima gaji lebih rendah dari rekan kerja prianya.

Dalam press release-nya disampaikan juga:

  • The gender pay gap has a variety of complex causes, and it will take a flexible and sustainable approach to eliminate it
  • Increasing female participation in STEM subjects and careers will help to reduce the gender pay gap
  • Although the gap is closing, the pace of change is slow and in certain sectors the gap is actually widening

The UK gender pay gap will not close until 2069 unless action is taken to tackle it now.

Ketika di telusuri balik sebab ketimpangan itu, menurut survey, karena pilihan bidang studi, yang menyebabkan starting salary-nya sudah berbeda. Misalnya gap antara wanita dan pria yang studi Stem (science, technology, engineering and mathematics) tidak beda jauh karena jumlah wanita yang belajar di bidang Stem hampir sama dengan pria. Apakah dengan ini kita berasumsi bahwa beda pengetahuan ini akan terus terjaga walaupun dalam pengalaman nyata setiap orang bisa belajar cepat on the job dan mampu menunjukan kinerja yang lebih tinggi ?

Alasan Kekagetan Saya

Kekagetan yang saya sampaikan di awal tulisan ini berkaitan dengan beberapa alasan:

  • Lebih dari 30 tahun saya bekerja di perusahaan dengan kiblat administrasinya Inggeris dan Belanda. Dan tentu saja dengan berbagai pengaruh pasar tenaga kerja internasional karena kehadiran perusahaan ini di lebih dari 100 negara. Dan aspek kesetaraan menjadi utama dalam agenda perusahaan, bukan saja kesetaraan jumlah gender tapi juga dengan semua aspek terkait, termasuk kesempatan menuju puncak.
  • Gaji yang dibayarkan pada karyawan berkaitan dengan nilai yang karyawan berikan kepada perusahaan dalam bekerja. Kalau wanita bisa berada di grade 20, misalnya dia akan mendapat gaji yang sama dengan pria dengan asumsi tambahan tentang kinerja dan masa kerja sama.
  • Fresh graduate yang diterima sebagai Management Trainee, akan menerima gaji yang sama, karena mereka sudah melamar ke bidang kerja yang sesuai dengan bidang studinya. Kita juga tidak bisa secara mutlak berasumsi bahwa faktor pendidikan yang sudah membuat perbedaan gaji di awal karier, akan terus bertahan, karena wanita juga tentu belajar mengejar ketinggalan.
  • Asumsi di atas juga mengandung makna, bahwa kalau wanita punya kinerja lebih baik dari pria karena dia cepat belajar, maka ada kesempatan untuk dia menyalip gaji rekan prianya.

Sampai di titik ini, saya sendiri belum paham sepenuhnya mengapa harus menunggu 53 tahun untuk mencapai kesetaraan itu. Apa lagi kenyataan memperlihatkan bahwa banyak wanita karier yang juga mencapai puncak karier di banyak perusahaan. Tapi perlu juga mencermati apa yang disampaikan Emma Watson di UN dalam pidatonya tentang pendidikan: “The University experience must tell women that their brainpower is valued.”

Dari aspek ini, saya merasa sangat bersyukur, bahwa dalam perusahaan di mana saya berkarya, kami membuat diferensiasi bukan karena gender, tapi atas dasar kinerja. Dan teman-teman praktisi HR di Indonesia mungkin juga sependapat bahwa, membedakan gaji atas dasar gender bukanlah merupakan praktek umum di tanah air ini, dan tentu saja jauh dari bijak.

“Diversity in the world is a basic characteristic of human society, and also the key condition for a lively and dynamic world as we see today.” (Jintao Hu)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan