Posted on April 17th, 2020
“Meaning in life comes from the contributions we make beyond the self. Those contributions become your legacy.” (Tom Rath)
SETIAP HARI, bahkan setiap saat muncul kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, berbuat kebaikan! Kesempatan yang hadir itu, baik kecil atau besar, tentu sesuai dengan kemampuan kita untuk melakukannya. Bilamana kita mengabaikannya, maka berlalulah kesempatan untuk berbuat kebaikan. Seputar wabah Covid-19, tentu banyak kesempatan untuk berbuat baik, mulai dari mengikuti himbauan pemerintah untuk tinggal di rumah demi social distancing; belanja kebutuhan secukupnya agar yang lain juga kebagian; berdoa untuk mereka yang sedang giat di lini depan, para dokter, perawat, sopir ambulance dan pemulasaraan jenazah (corpses handling), dan lain-lain.
Manfaat Bagi Orang Lain
Menarik untuk menyimak tulisan di LeadershipNow, tanggal 21 Maret 2020 dengan judul: Life’s Great Question. Diawali dengan pernyataan:
“Meaning in life comes from the contributions we make beyond the self. Those contributions become your legacy.”
Pernyataan ini kemudian mengarah pada pertanyaan besar dalam kehidupan kita:
What are you doing for others? Ini merupakan judul buku oleh Tom Rath, yang dalam rangkumannya, antara lain mengedepankan:
“Life is about what you do that improves the world around you. It is about investing in the development of other people. And it is about efforts that will continue to grow when you are gone.”
Jadi apapun yang kita lakukan, akan bermakna besar kalau itu memberikan manfaat bagi banyak orang, bagi masyarakat dan dunia dimana kita berada.
Ubah Pola Pikir dan Pola Pandang
Bagi yang masih bekerja dengan perusahaan, boleh berbangga manakala perusahaannya mempunyai banyak inisiatif dengan label Corporate Social Responsibility. Dan karyawanpun bahagia, bila mereka ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Tapi apakah ini terbatas di korporasi saja? Tentu tidak. Tom Rath menyarankan untuk masing-masing kita mencoba reframe pertanyaan: apa yang bisa saya kerjakan, menjadi apa yang bisa saya bantu atau apa yang bisa saya berikan. Reorientasi pemikiran dari apa yang bisa saya kerjakan menjadi apa yang bisa saya bantu atau berikan, meneguhkan hasrat untuk melayani orang lain, yang merupakan aspek humanity dari apa yang bisa saya kerjakan. Dengan pola pikir seperti itu, di dalam pekerjaanpun, kita akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh, sehingga kita bisa menikmatinya. Dan pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan diri kita.
Refleksi
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyarankan apa yang harus dilakukan selama wabah Covid19 melanda ataupun di kehidupan selanjutnya, tapi lebih sekedar bahan renungan, selagi banyak waktu luang di rumah, dengan pertanyaan sederhana: Apa yang sudah dan akan saya berikan dalam melayani orang lain! Saat ini banyak kesempatan. Bahkan Rath sempat mengkritik pemahaman tentang passion dengan mengatakan, ubah pemikiran “follow your passion” (sekedar untuk menemukan own joy) menjadi “find your greatest contribution (untuk melayani orang lain).” Dengan demikian, dimanapun kita berada, kapanpun itu, kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain, bagi masyarakat dan bumi dimana kita berada. Dan ini yang sudah dicontohkan banyak orang terkenal seperti pernyataan di akhir tulisan ini.
“I have found that those who leave a lasting mark on the world are always asking: What They Can Give.” (Tom Rath)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...