Memberdayakan Artinya Mengakui dan Mengapresiasi

Posted on September 27th, 2022

“Leadership is all about influence, not about a title or position. People will rarely follow you just because you say “I said so,” at least not willingly.” (Jason Aten)

KEBERAGAMAN PERAN ada dalam sebuah organisasi karena kebutuhan akan tugas yang berbeda-beda sesuai kapasitas atau profesi individu yang dihadirkan di perusahaan itu. Ada yang memimpin ada yang melaksanakan. Ada berbagai fungsi yang harus dikerjakan oleh mereka yang profesional di bidang itu. Karena itu kalau kita sungguh menghargai masing-masing individu dengan keberagaman peran dan kapabilitas maka kerjasama tim akan semakin solid dan hasil maksimum dapat diraih.

 

Pemimpin Yang Bijak Menghindari ini

Dlam sebuah artikel yang ditulis JASON ATEN, seorang TECH COLUMNIST di Inc.com disampaikan atau persisnya disarankan agar seorang leader hendaknya bijak dalam berkomunikasi dengan timnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya mempunyai dampak positif atau negatif. Dan empat pernyataan berikut ini, hendaknya dihindari dalam berbicara dengan tim:

  1. We’re going to try it my way this time.
  2. As the leader of this team, I think…
  3. I hear what you’re saying, but I’m the manager on this project…
  4. I don’t pay you to think, I pay you to do what I say…

Pernyataan tersebut mempunyai berbagai versi pada  kesempatan yang berbeda-beda. Namun secara sepintas, fokus pernyataan tersebut adalah pada SAYA sebagai leader. EGO sang pemimpin ingin ditonjolkan dengan memberikan kesan bahwa dia yang berkuasa. Padahal dalam konteks kerjasama tim, anggota tim ingin diberdayakan, dipercaya untuk ikut berkontribusi, mulai dengan diskusi awal maupun dalam pengerjaan tugas tertentu.

 

Saling Memberdayakan

Kalau kita berbicara tentang memberdayakan (empowering), langsung terpikir seorang leader memberdayakan anggota timnya.

Dalam webinar di sebuah perusahaan baru-baru ini, seorang peserta bertanya: Semakin banyak job tanpa anak buah. Bagaimana menerapkan engagement dan empowerment itu?

Pertanyaan yang sangat bagus dan relevan. Pola kerja banyak berubah, baik dalam bentuk proyek atau pola kerja kolaborasi, dimana semua anggota hadir karena profesinya, keahliannya  yang dibutuhkan.

Dalam konteks ini, kita bisa saling engage satu sama lain atas dasar kepercayaan bahwa kita bekerja dalam tim ini atas dasar keahlian kita masing-masing. Sementara itu dalam konteks memberdayakan, kita masing-masing fokus pada kontribusi kita dan memberikan keleluasaan kepada lainnya untuk juga berkontribusi sesuai dengan tanggung-jawab masing-masing. Semua hubungannya atas dasar saling menghormati, saling menghargai tapi dalam koridor saling bergantung pada yang lain (co-dependent). Tujuannya hanya satu: membuahkan hasil kerja sesuai yang disepakati bersama.

 

Apresiasi dalam Keseharian

Ada satu hal yang bisa kita lakukan tanpa harus membayar, tapi memberikan dampak luar biasa adalah memberikan apresiasi kepada orang sekitar kita. Saat kita bicara tentang orang sekitar kita, pikiran kita tertuju kepada rekan kerja dan bawahan. Sayapun mencoba menggoda peserta dengan pertanyaan melalui pooling, dalam seminggu terakhir ini siapa yang anda berikan apresiasi: bawahan, rekan kerja dan atasan. (boleh pilih semua). Hasilnya cukup bercerita, secara berurutan: bawahan, kemudian rekan kerja dan atasan menduduki urutan terbawah.

Kaget? Mungkin tidak, dianggap biasa saja, atasan dianggap tidak perlu diapresiasi oleh  bawahan. Namun dalam pesan saya kepada peserta: Atasanmu adalah juga manusia biasa. Kalau anda senang mendapat  apresiasi, maka sebagai manusia biasa atasanmu pun akan senang mendapat apresiasi dari bawahan. Ini merupakan bagian dari feed-back positif. Karena itu pesan saya, bila ada kesempatan untuk itu, lakukan dan lakukan itu dengan tulus.

Dan bukan pula kebetulan, bahwa perusahaan ini mempunyai praktek positif yang disebut: TFR, Time For Recognition. Aplikasi yang mendorong karyawan untuk mencatat orang yang patut mereka berikan recognition dalam minggu ini. Praktek yang juga perlu mendapatkan acungan jempol, patut mendapat apresiasi.

 

Apresiasi yang Kreatif dan Murah

Tak jemu-jemunya saya bercerita tentang foto ini.

Sekembalinya saya dari perjalanan dinas ke Sumatra, saya membawa oleh-oleh untuk putri CFO kami yang masih kelas 5 SD, krupuk kemplang kesukaannya. Saking gembiranya, dia mengambil sehelai kertas HVS, dan dengan krayon dia membuat kartu ucapan terima kasih yang dititipkan pada ayahnya untuk disampaikan kepada saya. Tertegun penuh kagum, saya menyampaikan kepada ayahnya bahwa anaknya mengajarkan saya  beberapa hal:

  • Selalu bersyukur dan mengucapkan terima kasih
  • Ada banyak cara menyampaikan terima kasih, termasuk melalui kartu seperti ini
  • Berterima kasih bisa dengan cara sederhana dan spontan seperti ini
  • Berterima kasih bisa dengan cara kreatif dan murah, hanya dengan kertas hvs dan crayon

Karena itu saya ingin meminta izin sekaligus untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih balik kepada putrinya yang bernama Chelsea Gomez, bahwa saya akan menggunakan kartu ini untuk slide terakhir presentasi saya, baik di perusahaan maupun di publik.

Memahami hal ini akan memungkinkan leader memainkan peran penting dalam menanamkan sikap saling percaya, saling menghargai dan dengan demikian saling membantu untuk meraih hasil bersama.

 

“If you want to change your life, begin by changing your words. Start speaking the words of your dreams, of who you want to become, not the words of fear and failure” (Robert Kiyosaki)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...

Devamethia G:
terima kasih untuk tulisan-tulisan pak josef, saya sebagai salah satu pembaca merasa sering mendapatkan...

josef:
Betul sekali Puji, terima kasih untuk kontribusinya dalam perjalanan kehadiran blog ini. Sehat selalu

Puji:
Kekuatan kata, memberi makna. 1000 cerita, mendorong aksi nyata.

josef:
Terima kasih mba Yana, upaya kecil dilakukan secara disiplin, bisa menjadi kebiasaan dalam aspek kehidupan...


Recent Post

  • Blog Seribu Tulisan – KATA Yang Mengubah Hidup
  • Blog Seribu Tulisan: Pesan Konsistensi
  • Saya Bukan Siapa Siapa Tanpa Kalian
  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut