Pertemanan yang Mendorong Pertumbuhan

Posted on August 21st, 2026

“Surround yourself with people who lift you up, push you forward and help you become your best.” (Lean Six Sigma Global)

Siang itu kami bertiga janjian makan siang di sebuah restoran di daerah BSD. Seperti biasa, pertemuan berlangsung sederhana. Saling meng-update perkembangan masing-masing, berbagi cerita, berdiskusi, saling memberi saran, sesekali bercanda dan tertawa. Tidak ada agenda khusus. Tidak ada meeting formal. Hanya tiga orang teman yang menyempatkan waktu untuk bertemu.

Namun, justru dalam pertemuan-pertemuan sederhana seperti ini, saya sering menemukan sesuatu yang berharga: pertemanan ternyata bisa menjadi ruang untuk bertumbuh. 

 

Siapa Teman di Sekitarmu?

 

Ada sebuah postingan dari Lean Six Sigma Global jelang pertemuan itu, yang kami jadikan bahan obrolan siang itu:

“Surround yourself with people who lift you up, push you forward and help you become your best.”

Pilihlah hubungan yang mendorong pertumbuhan. Hubungan yang baik, antara lain, akan:

  • mendorong kita untuk berani memasang target lebih tinggi,
  • menginspirasi kita untuk berpikir lebih besar,
  • membawa energi positif,
  • dan membantu kita terus bergerak maju.

Kami pun saling bertanya: Apakah kami bertiga sudah cukup melakukan hal-hal itu untuk teman-teman kami yang lain?

Pertanyaan sederhana, tetapi cukup membuat kami berhenti sejenak. Sebab, mudah untuk bertanya, “Siapa teman yang baik untuk saya?”

Tetapi mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:

“Sudahkah saya menjadi teman yang baik bagi orang lain?”

Apakah kehadiran kita membuat orang lain lebih bersemangat? Apakah percakapan dengan kita membuat mereka melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas? Apakah kita ikut mendorong mereka untuk menjadi versi terbaik dari dirinya?

Wah, kok jadi serius sekali? Seperti mau meeting formal? Tidak juga. Justru pertemuan singkat seperti makan siang inilah yang bisa dibuat sedikit lebih bermakna.

 

Ketika Teman Tidak Hadir

 

Ada satu hal lain yang kemudian terlintas dalam pikiran saya.

Kalau kita berbicara tentang pertemanan, kita tidak hanya perlu memperhatikan apa yang kita lakukan ketika teman hadir, tetapi juga apa yang kita katakan ketika teman tidak hadir.

Saya teringat kembali tulisan saya di blog pada 5 Maret 2013, “Bermanfaatkah Gosip di Tempat Kerja?”

Kita tentu pernah mendengar pembuka percakapan seperti:

“Pernah dengar nggak?” “Tau nggak kalau…?” Atau: “Saya punya cerita… tapi rahasia, loh. Hanya antar kita berdua. Jangan cerita ke yang lain…”

Kalimat terakhir biasanya justru membuat kita semakin penasaran.

Di sinilah kita perlu mengingat sebuah prinsip yang diperkenalkan Stephen R. Covey: “Loyalty to the Absent.”

“If you want to retain those who are present, be loyal to those who are absent.”

Sederhananya:

Jangan mengatakan sesuatu tentang seseorang yang tidak hadir, bila kita tidak akan mengatakannya jika orang tersebut ada di depan kita.

Bagi saya, ini bukan sekadar etika pertemanan. Ini menyentuh wilayah integritas.

Sebab integritas bukan hanya tentang apa yang kita katakan ketika seseorang hadir. Integritas juga terlihat dari apa yang kita pilih untuk katakan—atau tidak katakan—ketika orang tersebut tidak ada.

 

Belajar dari Socrates

 

Ada sebuah kisah yang sering dikaitkan dengan Socrates. Suatu hari, seseorang datang dan berkata,

“Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”

Socrates tidak langsung menjawab. Ia mengajak orang itu melewati apa yang dikenal sebagai Triple Filter Test.

Pertama: Kebenaran.

“Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda ceritakan itu benar?”

Orang itu menjawab bahwa ia sebenarnya hanya mendengarnya dari orang lain.

Kedua: Kebaikan.

“Apakah yang akan Anda ceritakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”

Jawabannya: tidak.

Ketiga: Manfaat.

“Apakah cerita itu bermanfaat bagi saya?”

Jawabannya pun tidak.

Maka Socrates menyimpulkan, kurang lebih: Jika sesuatu itu belum tentu benar, tidak baik, dan juga tidak bermanfaat, mengapa harus disampaikan?

Sederhana. Tetapi kalau kita renungkan, ternyata tidak selalu mudah untuk menerapkannya.

Kadang kita tahu bahwa cerita itu belum tentu benar, tetapi tetap ingin mendengarnya. Kadang kita tahu ceritanya tidak baik, tetapi justru membuat percakapan menjadi lebih menarik. Dan kadang kita tahu bahwa cerita itu tidak membawa manfaat apa-apa, tetapi kita tetap ikut membicarakannya.

Mungkin karena kita ingin merasa menjadi bagian dari kelompok. Mungkin karena penasaran. Atau mungkin karena kita belum terbiasa berhenti sejenak sebelum berbicara.

 

Teman yang Membuat Kita Bertumbuh

 

Pertemanan yang sehat bukan berarti setiap pertemuan harus penuh nasihat atau diskusi serius. Tidak. Kadang kita hanya makan bersama, minum kopi, bercanda, berbagi cerita, dan pulang dengan hati yang lebih ringan.

Namun, alangkah indahnya jika di antara percakapan ringan itu ada sesuatu yang membuat kita sedikit lebih baik daripada sebelum bertemu.

Saling berbagi pengalaman. Saling membuka wawasan. Saling mengingatkan ketika mulai keluar jalur. Saling memberi energi ketika salah satu sedang kehilangan semangat. Dan yang tidak kalah penting: saling menjaga martabat, termasuk ketika salah satu tidak hadir.

Mungkin inilah salah satu bentuk pertemanan yang mendorong pertumbuhan.

Bukan teman yang selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar, tetapi teman yang membantu kita melihat apa yang perlu kita lihat.

Bukan teman yang selalu memuji, tetapi teman yang dengan tulus mendorong kita untuk naik satu tingkat lagi.

Dan bukan pula teman yang menjaga kita hanya ketika kita ada di depannya, tetapi juga ketika kita tidak berada di sana.

 

Pada Akhirnya, Kembali kepada Kita

 

Di masyarakat, kita bahkan mengenal versi yang lebih luas dari filter tersebut: THINK — True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind.

Sebelum berbicara, mungkin kita bisa bertanya sebentar:

Is it True? Is it Helpful? Is it Inspiring? Is it Necessary? Is it Kind?

Tidak harus selalu sempurna. Kita semua pernah terpeleset dalam percakapan. Saya pun demikian. Yang penting mungkin bukan menjadi orang yang tidak pernah salah bicara, tetapi menjadi orang yang semakin sadar apa dampak dari kata-kata kita terhadap orang lain. 

Pertemuan makan siang kami bertiga siang itu akhirnya tetap menjadi pertemuan sederhana. Tetapi sebuah percakapan sederhana bisa meninggalkan pertanyaan yang tidak sederhana:

Ketika orang-orang bertemu dengan saya, apakah mereka menjadi lebih bersemangat, lebih percaya diri, lebih luas melihat dunia, dan terdorong untuk bertumbuh?

Dan ketika saya tidak berada di sana, apakah mereka tetap merasa aman karena tahu bahwa saya akan menjaga mereka? Mungkin, pada akhirnya, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari teman yang baik bagi kita.

Mari mulai dari pertanyaan yang lebih dekat: Sudahkah kita menjadi teman yang baik bagi orang lain?

“If you want to retain those who are present, be loyal to those who are absent.” (Stephen R. Covey)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...

Malla Latif:
Setiap baca refleksi dari Bapak selalu bikin berhenti sejenak dan re-align arah hidup. Terima kasih ya...

josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...

Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..

josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam


Recent Post

  • Pertemanan yang Mendorong Pertumbuhan
  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Legacy Yang Melampaui Waktu