Kapan Managers Siap Menerima Gen Y?

Posted on March 27th, 2015

“Earn the right to be heard by listening to others. Seek to understand a situation before making judgments about it.” (John Maxwell)

SEAKAN INI merupakan topik yang sangat menarik, diskusi tentang Gen Y tak ada habisnya. Dan diskusi ini memang bisa dipandang dari dimensi yang berbeda-beda. Namun yang paling sering didikusikan adalah dari aspek engagement dan retention.

Dalam sharing baru-baru ini di Universitas dan diskusi dengan mahasiswa di tempat berbeda, topik yang diangkat sama: tentang Gen Y. Saya mencoba tampilkan dua pertanyaan dari mereka:

  • Pernakah mengalami kesulitan karena punya tim Gen Y?
  • Bagaimana membuat Gen Y bertahan lama di perusahaan?

Mengejutkan, Tapi Bagaimana Tanggapan Kita?

Menarik untuk mengangkat survey yang dilakukan di tahun 2012 oleh  The Ashridge Business School and The Institute for Leadership and Management (ILM), yang menginterview dan mensurvey hampir 2.000 graduates and managers di seantero UK. Hasil yang paling mengejutkan:

“57% of graduates they interviewed only expect to remain in their roles for two years.”

Apakah kita kaget lalu berhenti dan mengelus dada?? Yang penasaran akan lebih memperhatikan kalimat berikut ini:

“Hasil ini sejalan dengan survey lainnya yang mengatakan bahwa Generation Y punya keinginan untuk menjajagi dunia kerja hingga menemukan sesuatu yang sesuai. Mereka merasa nyaman dengan ide perubahan, dan bersedia pindah ke manca negara, beda industri, beda organisasi dan bahkan beda pekerjaan sampai mereka merasa fit. Sudah berlalu waktunya satu orang berada di organisasi yang sama untuk jangka waktu yang lama. Nampaknya ini akan menjadi norma.”

Lalu Apa Mau Mereka?

Survey lainnya di tahun yang sama oleh The iOpener Institute terhadap 10.000 professionals dan graduates mengungkapkan bahwa Generation Y ingin tinggal lama di perusahaan kalau “they are fulfilled by their job.”

Makna job fullfilment adalah “loving the job.” Istilah ‘loving the job‘ jarang terdengar pada dasawarsa sebelumnya. Dan yang mereka maksudkan adalah pekerjaan yang punya “purpose”, punya “meaning” dan bisa menimbulkan “pride” atas pekerjaan maupun organisasi. Perusahaan dengan komitmen kuat untuk program CSR bisa menjadi daya  tarik yang ampuh.

Upaya untuk memahami generasi ini harus terus dibangun, berkesinambungan, formal terutama informal.

Diskusi Dengan Gen Y by josefbataona

Siapkah Para Manager?

Survey The Ashridge Business School juga mengungkapkan apa yang menjadi harapan mereka dalam engagement-nya dengan manager di tempat kerja. Mereka mengharapkan manager mereka bisa berperan sebagai mentor/coach (56%) dan 21% mengharapkan manager sebagai teman. Dan 76% managers mengaku sudah memenuhi keinginan Gen Y dalam berperan sebagai mentor/coach, tapi ‘cilaka’-nya hanya 26% graduates yang percaya pada statement manager tersebut.

Tidak kalah pentingnya, Graduates ingin diperlakukan dengan: “Respect and valued as individuals (43%), being trusted and given autonomy (35%), supported in their career progression (35%) and communicated to well (35%).

Sementara itu para manager percaya bahwa para graduates ingin diberikan feedback jelas tentang kinerja mereka dan juga mendapatkan target/objective yang jelas. Menariknya adalah para manager juga masih mengharapkan yang sama dari managernya lagi. Loh, memangnya mereka belum dapat??

Situasi Memang Sudah Berubah

Lebih dari 20-an tahun lalu, seorang manager akan berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk pindah perusahaan. Kalaupun dia diterima di perusahaan lain, lingkungan di perusahaan itu akan melihat dia sebagai manager yang tidak loyal yang perlu dicermati.

Mengapa?

Value di organisasi pada saat itu menuntut karyawan bekerja hingga masa pensiun.

Dalam 5-15 tahun lalu para Generasi X melihat berbagai peluang baik di perusahaan maupun di luar sana. Mereka mulai meminta untuk pindah divisi atau ganti pekerjaan. Bahkan tawaran di pasar pun sangat menggiurkan. Mulailah berbondong-bondong manager melirik dan meraih kesempatan itu.

Apakah mereka ini suddh tidak loyal??

Mungkin saja, tapi godaan kesempatan di pasar semakin sulit untuk ditolak.

Nah dewasa ini, era di mana kelompok yang diberi label Gen Y berada di dalam lingkungan dengan berbagai pilihan luas, apa yang mereka lakukan?? Mereka akan mencari pekerjaan yang bisa memberikan nilai tambah (added value) untuk diri mereka, untuk kehidupan professional, kehidupan sosial, kehidupan keluarga dan bahkan kehidupan spiritual mereka. Pilihannya sangat banyak.

Dan selagi Gen Y mulai melirik berbagai kesempatan itu, apakah Gen X tinggal diam??

Lihat sendiri di sekitarmu.

Jadi kalau Gen Y sudah mulai gerah dan memilih pindah, apakah karena itu adalah bawahan Gen Y? Atau karena ketersediaan berbagai kesempatan?? Buktinya Gen X juga aktif menjajagi berbagai kesempatan itu, dan mulai lebih sadar tentang pekerjaan yang memberi makna dalam kehidupan ini.

Pertanyaan yang bisa kita jadikan renungan:

Siapkah organisasi menghadapi perubahan ini (bukan sekedar hadirnya Gen Y)?

Siapkah para manager untuk menghadapi perubahan ini (walaupun mereka juga masih mengharapkan manager atasannya lagi perlu berubah), termasuk perubahan untuk memanage generasi muda dengan cara yang berbeda?

“Passion creates energy and magnetically pulls co-workers and customers into a shared vision, and it is exceptionally strong when linked with a leader’s values.” (John Maxwell)

Bookmark and Share

10 Responses to Kapan Managers Siap Menerima Gen Y?

  1. yana beding a.k.a yana arisman says:

    bagus sekali tulisannya pak. banyak yg harus dipelajari oleh para manager kita. visi misi yg jelas dari top management merupakan salah satu penentu arah bagi setiap pelaku dalam organisasi, banyak hal akan menjadi clear saat eksekusinya…dan itu membuat semua pencapain menjadi bisa benar2 dihitung
    . ujung2nya para manager bisa memanage harapan gen Y dengan lebih baik. Bisa begitu pak Josef?

    • josef josef says:

      Terima kasih Yana, bukan saja Visi dan Misi tapi hidup sesuai visi misi dan dimulai dengan contoh dari atas. Tidak kalah pentingnya, manager perlu paham akan Anggota timnya, ngga peduli dari gen mana. Salam – Josef

  2. Merza Gamal says:

    Perubahan itu sesuatu yang berat untuk dilakukan, meski muda Untuk direncanakan…

    • josef josef says:

      Terima kasih Merza, yang penting ada kemauan untuk berubah, tanpa harus menunggu orang lain berubah dulu. Salam

  3. Rio Purboyo says:

    Bergaul dengan sesama Gen Y dan membicarakan karier, memang memberikan tantangan tersendiri pak. Saya masih penasaran, bagaimana bisa dapatkan titik temu antara Manajer Gen Y dan Direksi Gen X. Ada usul, mungkin?

    • josef josef says:

      Terima kasih Rio Purboyo atas tanggapannya. Bagaimana kalau kita lupakan sementara generasi dari anggota tim kita. Kita lalu coba mengenali setiap mereka sebagai “manusia” dengan segala keunikannya. Lalu cermati apa yang bisa dilakukan. Karena satu hal yang bisa berlaku umum, mereka semua ingin diperlakukan sebagai manusia. Ikuti tulisan2 selanjutnya yang menyentuh hal ini. Salam

  4. Diana Wirawan says:

    Terima kasih pak! Saya setuju pak dengan tulisan bapak mengenai Gen Y. Banyak sekali stereotipe yang membuat para Gen X menyudutkan Gen Y, seperti generasi yang “senang” untuk berpindah-pindah, berusaha mencari yang instant, dll. Tapi justru sebenarnya berpindah-pindah tersebut dilakukan karena ada sesuatu yang dicari. Ketika generasi Y telah menemukan apa yang dicari mungkin saja mereka akan memutuskan untuk tetap bertahan pada perusahaan tempatnya bekerja. Survei yang bapak cantumkan dalam artikel memang benar adanya, bahwa Gen Y (saya rasa bukan hanya Gen Y, melainkan Gen X juga melakukan hal serupa) berusaha mencari tempat yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya.

    Menurut saya pribadi, hal yang dicari untuk dapat bertahan adalah atasan yang sesuai harapan, lingkungan kerja yang nyaman, serta perkembangan pada lingkup pekerjaan dan jenjang karir. Terkait dengan atasan, atasan diharapkan bisa menjadi teman dan tentunya bisa memberikan pelajaran bukan hanya sekedar menyuruh. Bagi saya pribadi, level atau jabatan memang diperlukan dalam organisasi, tapi akan lebih penting jika level atau jabatan tersebut digunakan sewajarnya saja sehingga tidak terlalu menjadi gap. Ketika atasan kita sendiri bisa dianggap menjadi teman, maka lingkungan kerja juga akan terasa lebih nyaman. Karyawan sendiri mungkin tidak akan segan atau takut ketika menyampaikan sesuatu baik yang berkaitan dengan pekerjaan atau diluar pekerjaan. Atasan pun jadi bisa lebih mengenal bawahannya dengan baik dan begitupun sebaliknya.

    Kemudian hal lain yang juga dicari adalah adanya perkembangan pada scope kerja yang sedikit demi sedikit semakin lebih menantang dan yang tentunya diiringi dengan perkembangan pada jenjang karir. Jika pada suatu sisi karyawan merasa beban pekerjaan yang diberikan sudah lebih berat dan banyak, namun tidak ada sama sekali review atau apresiasi dari atasan, maka saya rasa sangat wajar jika karyawan tersebut memutuskan untuk mencari pekerjaan baru yang dirasa dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. Memang perlu diakui bahwa apresiasi itu tidak mudah untuk didapatkan karena ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, seperti performance, kebutuhan perusahaan, dll. Atau faktor lainnya mungkin saja adanya ketakutan pada atasan dari Gen X (karena kondisi saat ini atasan dari Gen Y kebanyakan berasal dari Gen X) akan keberadaan posisinya di organisasi yang dapat tergantikan oleh Gen Y. Kedua hal ini (perkembangan pada scope kerja dan jenjang karir) harus dapat dilihat secara seimbang, namun seringkali tidak dilihat seimbang makanya banyak yang mengatakan “apa yang dikerjain ga sebanding sama apa yang didapatkan”. Ketidakpuasan ini yang juga dapat mendorong keinginan untuk berpindah apalagi didukung dengan akses atau peluang untuk mencari informasi lowongan pekerjaan yang saat ini sangat terbuka lebar. Saya rasa Gen X harusnya juga setuju dengan hal ini.

    Dengan demikian saya merasa sebenarnya artikel bapak ini merupakan salah satu artikel yang menunjukkan curahan hati atau aspirasi dari Gen Y dalam karir. Kedepannya jika banyak Gen Y yang melihat artikel bapak ini, bapak dapat dijadikan sebagai Brand Ambassador Gen Y karena telah mendukung aspirasi dari Gen Y. Tapi bagi saya bapak sudah memiliki gelar tersebut. hehehe 😀

    Sekali lagi, terima kasih pak atas artikel yang menginspirasi ini. 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Diana, untuk paparannya serta kecermatannya mengangkat beberapa detail yang penting diperhatikan pembaca lainnya. Misalnya kebutuhan untuk mendapatkan apresiasi dari atasan, berlaku untuk semua anak buah, tidak peduli dari gen apa. Terima kasih untuk gelar yang diberikan. Dalam menjalankan tugas, saya berusaha untuk menjadi seorang Josef Bataona sejalan dg motto: Be Yourself, but Better Everyday, termasuk untuk lebih baik dalam memahami anggota timku yang beragam. Salam

  5. Mawardi says:

    Hello Pak Josef,
    Menarik sekali tulisannya. Saya baru mulai membaca-baca referensi mengenai Generasi Y ini. Mungkin ada yang bilang Generasi milenium atau millenia culture… Apapun namanya, jujur saya baru mencoba untuk menulusiri lebih lanjut tentang Gen Y ini. Sukse selalu Pak Josef. Salam

    • josef josef says:

      Terima kasih Mawardi, telah mengunjungi blog dan menyimak berbagai kisah disini. Berbagai kejadian hari-hari dalam perjalanan hidup, yang telah dan akan saya angkat dalam artikel yang disajikan di blog ini. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life