Keterbukaan dan #Curhatstaf

Posted on August 4th, 2017

“Learning should be a joy and full of excitement. It is life’s greatest adventure; it is an illustrated excursion into the minds of the noble and the learned.” (Taylor Caldwell)

TERUS BELAJAR membangun masa depan. Lima puluh peserta yang hadir siang itu sangat antusias untuk belajar. Selain serius menyimak, di sana-sini masih ada gelak ketawa bila materinya menggelitik. Juga ketika paparan itu seakan bercerita tentang situasi yang familier dalam keseharian.

Dan memang saya sudah menegaskan dari awal kepada peserta Certified Human Resources Professional Program, CHRP Batch38, bahwa kalau mereka mau belajar teori atau konsep leadership, mereka boleh buka buku atau pergi ke perpustakaan. Hari ini saya akan bercerita tentang pengalaman nyata, baik pengalaman sendiri ataupun yang ditemukan dalam perjalanan karierku.

4 Agustus 17_Keterbukaan dan Curhatstaf1

Membangun dan Memberikan Contoh

Kata orang bijak, teladan seorang pemimpin akan berbicara lebih lantang daripada dengan kata-kata, nasehat atau pidato. Berbagai pesan di dinding perusahaan, entah berupa Visi Misi Values atau detail perilaku yang mendemonstrasikan values perusahaan, akan lebih bermakna kalau disertai dengan contoh nyata berupa perilaku pimpinan.

Pernah ada yang berkisah tentang pengalamannya melihat seorang direktur yang dengan sabar antri untuk ke toilet. Lalu dia pun berkomentar, saya sekarang sungguh percaya apa yang barusan dipresentasikan oleh sang direktur tentang disiplin. Dia barusan mempertontonkan disiplin diri untuk turut antri dengan sabar.

Membangun Trust

Seorang peserta bertanya: “Saya adalah middle manager, mempunyai pimpinan yang berperilaku kurang memperlihatkan trust apalagi membangun trust di dalam team atau antar team. Menurut bapak, apa yang harus saya lakukan?”

Kami sering menerima pertanyaan/pernyataan yang serupa seperti pertanyaan peserta di atas, di forum yang berbeda: “Sesi seperti ini mestinya diikuti oleh atasan saya juga.” Tanggapan kami juga dalam bentuk pertanyaan, ”Seandainya dalam sesi berikutnya anak buahmu hadir, apakah kami masih akan mendengarkan komen yang sama, bahwa atasan mereka perperilaku seperti itu?”

Sharing hari itu memang ditujukan untuk pelajaran peserta sendiri. Setelah belajar menjadi pribadi yang layak dipercaya, maka siaplah kita untuk melangkah mempersiapkan diri menjadi seorang leader yang dipercaya orang lain, oleh team, rekan kerja dan lain-lain.

Kesalahan yang dilakukan orang lain termasuk atasan kita bisa dijadikan pembelajaran, tidak perlu di-copy, sehingga anak buah kita tidak akan melihat contoh yang sama dalam diri kita seperti kita melihat atasan kita. Masih ada banyak contoh baik yang bisa kita tiru. Berikut foto yang beruntung menerima Buku “Kisah Rp 10.000 yang mengubah Hidupku”.

4 Agustus 17_Keterbukaan dan Curhatstaf2

Belajar itu FUN

Sore itu, sesi yang diawali dengan wefie dipandu Ketua CHRP Batch 38, sudah cukup menjadi ice-breaking. Dan dengan slide awal yang memang disengaja untuk mencairkan suasana, maka selanjutnya keceriaan itu tinggal dijaga agar tidak menurun.

4 Agustus 17_Keterbukaan dan Curhatstaf3

Belajar itu bisa terasa berat membebani atau terasa segar menyenangkan. Dengan materi yang sama saja, kalau ditanggapi sebagai sesuatu yang berat, walau ilmunya bagus maka tidak akan ada motivasi untuk menyerapnya. Tapi kalau kita sungguh-sungguh berkeinginan untuk menyerap sebanyak mungkin demi kemajuan diri dalam menunjang karier, maka yang berat akan terasa ringan.

Keterbukaan dan #Curhatstaf

Dalam perjalanan menuju lokasi sesi siang itu, saya sempat menyimak sebuah pesan kecil di LinkedIn dari Oleg Vishnepolsky, Global CEO at DailyMail Online and Metro.co.id:

“LinkedIn stats tell me which companies most views come from. What I see is that employees of certain companies do not think they are well compensated, or that have stupid or unfair management…… I do recommend to every CEO to take care of their people so that they do not show up in my or anyone’s stats. Internet and LinkedIn make the misdeeds very transparent. Please realize that in 21st century you HAVE to treat people well.”

Ini untuk melengkapi paparan saya tentang praktek #curhatstaf di sosial media, yang sulit dibendung. Karyawan merindukan kesempatan terbuka untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan, tanpa ada ketakutan atau kekhawatiran akan konsekuensinya.

“Action comes about if and only if we find a discrepancy between what we are experiencing and what we want to experience.” (Philip J. Runkel)

Bookmark and Share

4 Responses to Keterbukaan dan #Curhatstaf

  1. candra CHRP38 says:

    Terima kasih banyak pak buat sesi kelas yang sangat inspiratif..

  2. Rolin says:

    Saya pengen skali jadi murid Bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih coach Indra, sukses juga untuk bukumu yang baru: Effective Coaching Skills for Leaders. Salam

Indra Dewanto:
Sukses selalu dan terus menginspirasi Pak Josef Bataona….:)

josef:
Terima kasih sama2 Tromol, satu dua kata yang bermanfaat, kiranya menyejukan. Salam sehat dan sukses

Tromol Sihotang:
Terima kasih pak Josef yang setiap saat memberikan pandangan, arahan dan tentunya bimbingan yang...

josef:
Terima kasih sama-sama bu Dwi Suwarnaning, sukses selalu, salam


Recent Post

  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST
  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement