Posted on September 27th, 2013
“It’s time to care; it’s time to take responsibility; it’s time to lead; it’s time for a change; it’s time to be true to our greatest self; it’s time to stop blaming others.” (Steve Maraboli)
HIDUP DALAM KOMUNITAS dengan anggota beragam, menuntut kita untuk jeli memahami perilaku masing-masing anggota, tapi juga bijak untuk menyikapinya, agar kita bisa hidup tenteram, berdampingan dengan damai. Kedengarannya sejuk, namun dalam kenyataannya sering kita hadapi suasana panas karena sikap yang kurang bertanggung-jawab.
Menyalahkan untuk Menghindari Tanggung Jawab
Terkadang menyalahkan lingkungan sekitar kita menjadi alat yang ampuh untuk berkelit dari kesalahan yang kita perbuat. Contoh sederhana, suatu waktu kita terjebak macet sehingga terlambat sampai di kantor. Tidak semua kita akan memulai dengan, “Maaf saya terlambat!” Tanpa ada embel-embel lagi. Tapi yang sering terjadi, kita mulai dengan:
“Sialan itu lalu lintas pagi ini, biasanya nggak semacet ini, padahal saya sudah berangkat pada jam seperti biasanya!”
Atau pada kesempatan lain, ada tugas yang seharusnya sudah rampung dan ditagih oleh atasan, ternyata belum diselesaikan. Yang terlontar dari mulut adalah:
“Maaf pak, ada beberapa tugas yang bersamaan yang harus saya kerjakan. Saya lupa kalau ini harus saya serahkan hari ini!”
Pernyataan di atas seakan-akan memperlihatkan bahwa dia tidak bersalah, tapi ada yang lain yang harus disalahkan. Juga membuat kita tidak menerima bahwa ada kenyataan yang ada di luar kontrol kita, kita tidak bisa mengatasi. Karena itu kita harus pandai menyikapinya. Misalnya berangkat kerja lebih awal.
Pernyataan yang kedua, sudah lebih baik, pakai minta maaf, tetapi tetap saja tidak mau mengaku kalau kesalahan ada di pihaknya. Kecenderungan seperti itu, lama kelamaaan akan menjadi kebiasaan, kurang introspeksi dan menyalahkan orang lain akan menjadi menu hariannya.
Menyalahkan Orang Lain
Begitu yang disalahkan adalah ORANG lain, masalahnya akan lebih serius, karena akan ada yang menjadi korban. Perilaku menyalahkan orang lain umumnya karena rasa tidak aman, takut menerima kenyataan kalau dia yang salah, takut berubah, arogan, tidak ada rasa memiliki. Dan yang menyalahkan biasanya lepas kontrol, menjadi kebiasaan, dan lama kelamaan dia akan menikmatinya, terutama kalau dia melihat ada orang lain yang bisa jadi sasaran empuk.
Empatinya pada orang lain akan semakin menipis, dan yang bersangkutan akan merasa selalu unggul dalam melempar kesalahan pada orang lain. Semakin banyak yang menjadi korban, maka semakin tercipta suasana tidak bersahabat, semakin muncul permusuhan, kerja sama tim dalam resiko besar, bahkan pada akhirnya anak buahnya sendiri pun tidak akan betah bekerja dengan pimpinan seperti itu.
The less you respond to rude, critical, argumentative people…the more peaceful your life will become – (Unknown)
Itulah saran sederhana, kalau kita terjebak dalam situasi seperti di atas, dan memberikan saran pun tidak memperbaiki situasi.
Belajar untuk Tidak Menyalahkan
Bila kita yang melakukan kesalahan, berjiwa-besarlah untuk mengakui kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaiki. Terkadang memang berat untuk melakukannya, tapi kalau kita terus belajar, maka kita akan terhindar dari kecenderungan menyalahkan orang lain.
Tapi bagaimana kalau kita sendiri berada dalam lingkungan di mana ada kebiasaan saling menyalahkan, atau bahkan Anda sendiri atau anggota timmu yang disalahkan dengan alasan yang tidak bisa diterima? Kita bisa saja berdebat, berargumentasi, tapi apakah akan memecahkan permasalahan??
Beberapa langkah sederhana untuk menghentikan atau menghindari kebiasaan menyalahkan orang lain, mulai dari diri sendiri:
Dalam lingkungan, termasuk lingkungan keluarga di mana anggotanya tidak mau mengaku salah, atau bahkan punya kecenderung menyalahkan yang lain, maka semua anggota tim akan belajar berperilaku seperti itu. Akibatnya sering timbul ketegangan, pertengkaran, bahkan kalau tidak diperbaiki akan berujung pada perceraian.
Atau sebaliknya pun terjadi: keluarga yang rukun umumnya terdiri dari anggota yang tidak sungkan mengaku salah kalau memang mereka salah, terbuka menerima umpan balik dan ringan tangan mencari solusi tiap permasalahan yang timbul.
“All blame is a waste of time. No matter how much fault you find with another, and regardless of how much you blame him, it will not change you.” (Wayne Dyer)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Iya Pak Josef, seringkali bila ada masalah dalam tim, seringkali kita otomatis membentengi diri kita dahulu aga tidak disalahkan dalam masalah tersebut bukan melakukan intropkesi terlebih dahulu. Sangat mudah bagi kita mengarahkan telunjuk kepada pihak lain dan sangat sulit mengakui kesalahan diri kita sendiri.
Apakah memang ini adalah fenomena budaya bangsa kita ya Pak yang katanya bangsa yang paling toleran???
Terima kasih Merza. Terlepas dari apa yang dilakukan orang lain, mari kita mulai dengan diri kita sendiri, berjanji untuk tidak mengarahkan telunjuk pada yang lain sebelum introspeksi !
siap terus memahami orang lain dan belajar tdk menyalahkan orang lain, walaupun hal itu tidak mudah. Trima kasih pak inspirasinya..
Terima kasih Noor Ali, memang tidak mudah, tapi semoga tidak menyetop kita untuk terus berusaha
Semoga semua hal ataupun pemikiran negatif kita semua sudah terbuang bersamaan dengan padamnya api unggun di Pulau Ayer kemarin malam ^_^
Terima kasih Ratih, komitmen di api unggun sungguh memberi kita keyakinan akan langkah bersama kita kedepan. Tunggu seri posting tentang FishFUN teip ke Pulau Ayer.