Mengubah Sudut Pandang

Posted on June 23rd, 2015

“You can learn great things from your mistakes when you aren’t busy denying them.” (Marc Chernoff)

BELAJARLAH SETIAP HARI dari siapa saja yang kita temui. Perbuatan atau perkataan mereka hadir di hadapan kita, siap memaparkan berbagai pelajaran kehidupan. Hanya mereka yang jeli untuk merekamnya, akan mendapatkan pelajaran kehidupan lebih banyak. Tidak tertutup kemungkinan, kita sering mengabaikan kesempatan itu. Alhasil, pelajaran itu hanya berlalu begitu saja, mungkin tidak akan kembali lagi.

Berlomba Paparkan Daftar Kegiatan

“Dalam sebuah sharing di acara keagamaan, kami didorong untuk lebih memberikan perhatian pada sesama,” demikian cerita seorang teman mengawali sharingnya.

“Setiap anggota kelompok menceritakan aktivitasnya di masyarakat, dengan semangat untuk menggambarkan kepedulian mereka kepada sesama. Sangat memukau, menginspirasi!”

Setelah menyimak dengan kesungguhan, teman ini kemudian mendapat giliran untuk berbagi:

“Semua yang kalian paparkan, sungguh menggembirakan, karena itu merupakan bagian dari panggilan hidup kita. Selagi mendengar kalian sharing, saya bahkan bertanya kepada diri sendiri, dengan kegiatan keluar sebanyak yang dikerjakan sekarang, apakah saya juga adil membagi perhatian untuk tugas utama lainnya, yaitu rumah tangga sendiri. Apakah perhatian kepada suami dan anak-anak saya tidak berkurang atau terabaikan? Saya bahagia dengan kegiatan di luar sana, tapi apakah saya terus membagi kebahagiaan yang sama kepada anggota keluarga saya? Bila jawabannya adalah tidak, apakah saya sudah berperilaku adil?”

Pertanyaan reflektif sederhana tersebut rupanya menggugah beberapa anggota tim. Sampai-sampai ada yang merasa perlu menghadirkan posting di media sosial:

“Ternyata orang yang sering kita sakiti adalah orang yang padanya kita berjanji di hari pernikahan, untuk membahagiakannya. Perhatian kita padanya semakin berkurang, sementara itu kita menuntut untuk mendapatkan perhatian penuh darinya.”

Sedikit mengubah sudut pandang peserta tentang makna “melayani” sudah bisa menyadarkan tim ini tentang tugas utama lainnya yang tidak kalah pentingnya, yang juga perlu mendapat perhatian.

Foto di bawah ini memperlihatkan keceriaan dan kekeluargaan di tempat kerja, setelah kita mengubah sudut pandang tentang kebersamaan kita di tempat kerja, yang bisa dibangun sebagai keluarga. Dan kita bisa menambahkan warna- warni suasana kerja yang menyenangkan kita semua, hasil kreasi kita sendiri.

IMG_4850

Membahagiakan Orang Tanpa Pamrih

Sharing teman lain yang saya paparkan di posting lalu nampaknya masih berlanjut. Ungkapan tulusnya mengatakan: “Saya akan bahagia bila saya bisa membuat orang lain bahagia.”

Baca juga: Bahagia Membuat yang Lain Bahagia

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia juga merenungi kata-kata yang saya tuliskan pada bagian akhir posting itu:

“Yang genuine adalah membuat orang lain bahagia. Kebahagiaan yang kita peroleh untuk diri sendiri bukan tujuan tapi dampak dari perbuatan positif tersebut.”

Beberapa kesadaran yang muncul dalam refleksi yang dilakukan:

  • Saya luangkan waktu banyak untuk menyenangkan orang lain, tapi apakah saya cukup banyak berbuat untuk menyenangkan suami dan anak saya?
  • Saya baru pulih dari sakit, dan dengan berbagai kegiatan di luar sana, saya bisa merasa bahagia melupakan apa yang saya alami sejauh ini. Mestinya keluarga mendukung saya agar saya bahagia. Apakah dengan pandangan ini saya terlalu banyak menuntut dari mereka?
  • Saya ingin bahagia, dengan aktivitas yang membuat orang lain bahagia. Bukankah ini membuat SAYA yang menjadi fokus, bukan bahagia orang lain yang menjadi fokus ?
  • Dengan kesembuhan saya, mungkin ada panggilan tugas menunggu untuk kebahagian orang lain, dan bukan untuk kebahagiaan saya sendiri. Pahamkah saya akan panggilan itu?
  • Saya banyak menuntut orang lain, termasuk anggota keluarga saya untuk membantu membahagiakan saya. Sekali lagi fokusnya adalah SAYA. Apakah saya paham bagaimana membuat mereka bahagia, sesuai niat saya untuk membahagiakan yang lain?

Bahkan melalui pesan WA (Whatsapps messenger) dia mengakui:

“Setiap membaca tulisan bapak Bahagia Membuat yang Lain Bahagia, saya meneteskan air mata, menyadari betapa salahnya saya selama ini, betapa egoisnya saya, hingga menuntut orang mau mengikuti keinginan saya…” Kemudian dia melanjutkan:

“Tak mungkin saya mengharapkan orang berubah, jika saya tak mau mengubah sikap saya, saya menyadari, apa yang bapak arahkan lebih banyak kepada ‘apa yang bisa saya lakukan’ dan itulah yang justru menjadi titik balik dari semua yang sudah saya alami.”

Telah terjadi sebuah titik balik yang luar biasa. Di awali dengan menyadari bahwa banyak yang bisa dilakukan dalam kendali diri sendiri (within own circle of influence). Tidak boleh menunggu dan hanya pasrah. Melalui perbuatan tersebut, dia juga menemukan, bahwa membuat orang lain bahagia, hendaknya tanpa pamrih, iklas sepenuh hati. Itu dilakukan bukan saja untuk masyarakat luar, tapi juga terhadap keluarga sendiri, suami dan anak-anaknya.

Banyak situasi dalam kehidupan ini, yang bisa kita ubah, hanya dengan mengubah cara pandang kita. Namun itu hanya bisa terjadi kalau kita mau membuka diri untuk belajar, untuk mengakomodasi berbagai kemungkinan, dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda.

“You will never become who you want to be if you keep blaming everyone else for who you are now.” (Marc Chernoff)

Bookmark and Share

2 Responses to Mengubah Sudut Pandang

  1. Bandrijo Hatmodjo says:

    Dea pak Yosef Bataona,

    ini untuk pertama kalinya saya membuka website bapak. Terima kasih untuk pencerahannya. Saya akan melanjutkan membaca artikel demi artikel yang ada disini.
    Setelah membaca artikel ini saya ingat akan salah satu falsafah Jawa yang pernah diajarkan oleh bapak saya, bunyinya ‘URIP IKU URUP”, hidup itu nyala , hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain sekitar kita.

    Salam hormat,
    Bandrijo.

    • josef josef says:

      Terima kasih Bandrijo atas waktunya mengunjungi blog dan menyimak kisah ini. Selain 349 artikel yg sdh ada, saya akan terus menghadirkan artikel baru setiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00. Salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET