Surat Peringatan untuk Diri Sendiri

Posted on February 27th, 2015

“Admitting your mistakes is not a sign of weakness. It shows you have the courage to know your wrong, and that you have become stronger.” (Aaron DeCamp)

SAYA TIDAK INGAT persis awalnya saya belajar berenang, karena saya yakin di usia yang sangat dini saya sudah dicemplungin di laut untuk diajarkan berenang secara alami di pantai dekat rumah. Tapi setidaknya saya bisa mengingat kala menunggui putri saya belajar berenang.

Kesalahan demi kesalahan dia lakukan bila kita bandingkan dengan teknik berenang yang benar. Tapi pelatihnya tidak pernah mengatakan bahwa putri saya melakukan kesalahan. Dia berkomentar, “Dia baru belajar.” Atau, “Dia belum bisa,” atau bahkan, “Dia belum mahir.”

Mungkin pemikiran pelatih itu sama dengan yang empunya kata-kata bijak ini:

“Mistakes are the usual bridge between inexperience and wisdom.” (Phyllis Theroux)

Dan tanpa dia sadari dia akhirnya bisa berenang, dengan cara yang benar.

IMG_0451

Pantai Kenavatang Lamalera diatas, bahkan memberikan kami lebih banyak lagi pelajaran di masa kecil, tentu dengan berbagai kesalahan yang dilakukan ketika berusaha mengatasi ombak besar, bagaimana menghindari benturan pada batu yang begitu banyak. Semua itu tidak pernah diberi label “kesalahan”, tetapi pelajaran agar bisa pandai berenang.

TRUST Itu Sangat Penting

Dalam kisah di atas, ada unsur yang sangat penting tapi tidak terucap. Putri saya punya rasa TRUST yang tinggi pada pelatih. Dia percaya pada tanggung jawab sang pelatih untuk bisa membuat dia pandai berenang. Juga percaya bahwa pelatih sangat peduli akan keselamatannya di kolam renang.

Saya sengaja membahasakan insting putri saya demikian, karena ketika pelatihnya berhalangan sehingga kami harus mencari pelatih baru, dia tidak serta merta merasa cocok dan menerimanya. Dia tidak menjelaskan alasannya kenapa, tapi hanya sekedar menggelengkan kepala.

Saya pun hanya bisa membaca: gelombang saling percaya tidak nyambung diantara mereka berdua. Dan elemen penting ini, TRUST, tidak hanya di kolam renang dalam kisah di atas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kebesaran Jiwa

Obrolan ringan semakin seru. Mata teman ini sesekali masih melirik buku yang ada di atas meja. Dia minta untuk mengintip buku yang berjudul, “Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku.” Ketika sampai pada halaman prolog, dia diam sejenak kemudian dengan suara agak ditinggikan, dia membaca tulisan di sana: “Jangan memilih-milih kerjaan, dan jagalah kepercayaan orang padamu.”

Dia menghela napas panjang dan berkisah:

“Saya belum tiga bulan bekerja di perusahanku dengan jabatan sebagai Manager sebuah unit. Suatu saat saya melakukan sebuah kesalahan yang dalam aturan di tempat itu karyawan akan mendapat Surat Peringatan Ketiga/Terakhir. Anak buah saya tahu, tapi atasan saya tidak mengetahuinya. Kesalahan itu adalah dampak dari kelalaian saya. Tapi salah tetap salah.

Saya tidak boleh mencari pembenaran. Sayapun membuka komputerku, mengetik sendiri Surat Peringatan Ketiga/Terakhir untuk diri saya sendiri dan saya bawa menghadap atasan saya untuk ditanda-tangani. Usai saya menjelaskan kesalahan yang saya perbuat sambil menyodorkan Surat untuk ditanda-tangani, atasan saya sempat kaget, tapi dia lalu tersenyum dan malah ketawa lebar.

Katanya: Saya baru nemu dalam perjalanan karier saya, anak buah saya seperti ini. Diapun memberikan saya beberapa tips dan mengakhiri pertemuan tanpa menandatangani surat itu dan mengatakan: Jangan khawatir, kita semua membuat kesalahan. Segera perbaiki dan jangan mengulang kesalahan yang sama lagi. Kejadian ini saya share dengan anak buah saya dengan  pesan agar jangan takut untuk mengaku salah, dan segera ambil langkah untuk memperbaikinya.”

Memetik Buah Pertama

Dampak dari kejadian di atas dirasakan sangat luar biasa oleh kawan ini. Respek anak buahnya tumbuh subur, saling percaya antar mereka juga terus dibangun. Namun, hanya beberapa bulan kemudian, dia dilaporkan ke atasannya seakan-akan melakukan pelanggaran.

Rapor kepercayaannya di mata atasannya sudah cukup tinggi nilainya sehingga atasan tidak percaya begitu saja laporan ini dan melakukan konfrontasi antara dia dan pelapor. Akhirnya diketahui bahwa laporan tersebut hanya sebuah fitnah.

Untung atasannya tidak percaya. Bagaimana jadinya kalau atasan percaya begitu saja akan laporan itu tanpa melakukan counter-ckeck dan mulai menaruh ketidak-percayaan atas kita??

Dengan pikiran yang positif, teruskan memupuk kepercayaan kepada siapa saja di sekitarmu dengan perbuatan baik. Itulah kontribusi kecil kita untuk dunia yang lebih baik. Dan akan tiba saatnya kita menuai hasilnya.

“A life spent making mistakes is not only more honorable but more useful than a life spent doing nothing.” (George Bernard Shaw)

Bookmark and Share

10 Responses to Surat Peringatan untuk Diri Sendiri

  1. Merza Gamal says:

    Trust, sesuatu yang menjadi barang langka saat ini.
    Terus Semangat!!!
    Tetap Semangat…
    Yakin Allah akan mendampingi setiap langkah kita menuju sukses…

    • josef josef says:

      Terima kasih Merza, tekad untuk tetap melangkah, maju terus, apalagi ditunjang dukungan teman2, kita akan semakin yakin untuk terus melangkah. Sukses selalu

  2. Supandi says:

    Betul sekali Pak Josef, mendapatkan kepercayaan dari seseorang itu sangat besar artinya. Namun sering kali kita melihat di lingkungan kita orang menyalahgunakan kepercayaan yang mereka dapatkan dengan susah payah.

    • josef josef says:

      Terima kasih Supandi, mari kita mulai dari diri kita. Kita juga terpanggil membantu teman sekitar kita agar tidak terperosok, sambil ciptakan lingkungan yang saling percaya satu sama lain

  3. marwan says:

    Dear Pak Josep..

    Good inspiration bagi saya pak..
    Thx ya pak inspiration..sehingga jujur pada kesalahan merupakan langkah terbaik untuk mendewasakan diri..tentunya bukan hal yg mudah dlm melakukannya..

    Bnyk hal yg sudah saya dapatkan dr bapak..
    Terus maju untuk berbagi inspiration kepada kami..

    Regards..
    Marwan

  4. Rolin says:

    Slamat sore Pak,
    Teori yang mengatakan janganlah jemu berbuat baik, karena suatu saat pasti kita akan menuai baik, itu sangat terbukti Pak.
    Terima kasih buat share pengalamannya Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Rolin, iru bukan teori tapi kenyataan, bila kita tetap yakin akan buah kebaikan yg akan dipetik. Salam

  5. Robert Affero says:

    Kepercayaan adalah pondasi yang penting dalam aspek kehidupan . dan merupakan amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan sebaik mungkin. Dan kebesaran jiwalah yang membuat kita selalu kuat dalam menghadapi cobaan dan tantangan kehidupan. Terima kasih Pak Josef sudah mengingatkan saya akan pentingnya hal tersebut. Salam sukses selalu pak

    • josef josef says:

      Terima kasih Robert, terutama karena berkenan mengunjungi blok dan menyimak kisah ini. Terima kasih juga komennya yang turut memperkaya pembahasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life