WAKTU sebagai Hadiah

Posted on April 10th, 2015

“Take time to play!

Ask for what you want.

Laugh.

Live loudly.

Be avid.

Learn a new thing.

Be Yourself!”

(Mary Anne Radmacher)

DARI DULU, sekarang dan nanti, keluhan banyak orang tentang keterbatasan waktu masih terus terdengar. Versinya macam-macam: tidak punya waktu, sulit mengatur waktu, susah mencari waktu luang… dan masih banyak lagi.

Terpikir juga, kalau WAKTU  itu merupakan sesuatu yang dicari-cari, pasti sangat penting, sangat berharga. Jadi pertanyaannya adalah: Bagaimana kalau di kepala kita ditanam pemikiran: Saya ingin memberikan hadiah istimewa kepada orang yang juga istimewa: istri/suami, anak, atau anak buah, yang mereka pun sulit mencari dan mendapatkannya: hadiah dalam bentuk WAKTU.

Kisah Anak Membeli Waktu Ayahnya

Kisah yang sudah beredar lama yang saya terima sekitar 2003, ingin saya angkat di sini, walau saya sendiri tidak tahu dari mana sumbernya.

Seorang ayah yang pulang kerja sudah larut, sangat letih, masih ditunggu anaknya yang berusia 5 tahun. Dengan penuh santun anak itu bertanya kepada ayahnya, seperti dialog di bawah ini.

Anak: “Ayah, boleh saya mengajukan sebuah pertanyaan?”

Ayah: “Tentu saja boleh.”

Anak: “Berapa gaji ayah sejam?”

Ayah (dengan nada marah): “Mengapa kamu mengajukan pertanyaan demikian? Itu bukan urusanmu!”

Anak: “Tolong saya diberitahu, ayah! Berapa ayah digaji sejam?”

Ayah: “Kalau kamu maksa harus tahu, gajiku sejam 20 dollar.”

Anak: “Baik ayah, kalau begitu boleh saya pinjam uang 10 dollar?”

Ayah (semakin marah): “Apakah itu alasanmu menanyakan gaji ayah, agar bisa minjam uang untuk membeli mainan yang tidak berguna. Saya telah bekerja sampai capek, bukan untuk keperluan yang tidak berguna seperti itu. Pergi masuk kamar dan segera tidur!!”

Anak itu pergi menuju kamarnya sambil menunduk kecewa, dan menutup pintu. Sementara itu ayahnya masih kesal akan pertanyaan anaknya itu. Namun sejam kemudian, setelah agak tenang, sang ayah berpikir, jangan-jangan memang ada yang sangat perlu untuk dibeli oleh sang anak. Apakah saya bersikap terlalu kasar padanya? Gumam sang ayah. Dia kemudian pergi ke kamar anaknya, membuka pintu dan bertanya:

Ayah: “Nak, apakah kamu sudah tidur?”

Anak: “Belum, ayah!”

Ayah: “Maafkan ayah, mungkin berkata kasar padamu. Tapi ini uang 10 dollar yang kamu minta.”

Anak: “Terima kasih ayah.”

Lalu dia mulai  mengeluarkan banyak uang receh dari bawah bantal, dan menghitungnya. Ayahnya kembali marah dan bertanya:

Ayah: “Mengapa engkau masih minta, kalau kamu sudah punya uang??”

Anak: “Karena uang saya tidak cukup. Sekarang saya punya genap 20 dollar. Bolehkah saya membeli satu jam waktunya ayah? Pulanglah sejam lebih awal besok agar saya bisa makan malam bersama ayah??”

Seperti disambar petir, sang ayah hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa, menyadari betapa anaknya merindukan hanya WAKTU satu jam bersama ayah.

Bukan hanya ayah di kisah di atas. Kita sendiri juga mungkin pernah bersikap seperti itu pada anak kita, terutama dalam kaitan dengan menginvestasikan waktu untuk mereka.

Dari Koleksi Jewelry Box

Sabtu siang itu, saya membolak-balik berbagai tulisan yang ada dalam Jewelry Box, karena saya ingin mencari inspirasi tulisan. Buat yang belum membaca apa itu ‘Jewelry Box‘, silahkan baca di sini. Dari link tersebut kalian tahu kalau isinya bukan perhiasan, tetapi coretan kata-kata berharga yang diberikan banyak pihak termasuk timku, dalam moment yang berbeda-beda. Dalam sebuah kesempatan team building bersama tim, ada sebuah latihan kecil dengan mengisi kartu dengan beberapa pertanyaan.

WAKTU sebagai Hadiah by josefbataona

Salah satu pertanyaan menarik yang harus diisi oleh anggota tim untuk  tiap anggota tim lainnya, termasuk kepada saya: “What makes me get closer to you?” Salah satu dari mereka menulis tetang saya:

  • “When we have some time to talk on personal level & give me some real feed-back (or ‘kick’)”
  • “When you share your own fears and worries, honest feeling…. I feel more humane. It’s like a moment of truth to me.”

Tulisan ini kembali membuka mata saya, bahwa ini bukan saja berkaitan dengan isi pembicaraan dengan anak buah ini. Nampak dia sangat mengapresiasi bahwa saya mau menginvestasikan waktu berharga untuk pengembangannya melalui pembicaraan ini. Kata bijak berikut pas untuk menjelaskannya:

“The key is in not spending time, but in investing it.” (Stephen R. Covey)

Di rumah, anggota keluarga merindukan waktu kebersamaan (quality time). Di tempat kerja juga anggota tim rindu untuk mendapatkan waktu yang memang dirancang untuk sebuah diskusi, terutama diskusi demi pengembangan anak buah. Mulai dari sekarang, renungkan itu dan segera realisasikan, memberikan hadiah istimewa kepada orang istimewa: WAKTU!

“If you want to make good use of your time, you’ve got to know what’s most important and then give it all you’ve got.” (Lee Iacocca)

Bookmark and Share

10 Responses to WAKTU sebagai Hadiah

  1. Theresia Ina Duran says:

    Terimakasih Pa Josef Bataona untuk inspirasinya pagi ini…Sederhana dan bisa dilakukan setiap waktu…dengan menghadiahkan WAKTU….Yesss…saya akan mencobanya…

    • josef josef says:

      Terima kasih Theresia. Teman2 pembaca lainnya tentu akan senang mendengar sharingmu, setelah ini dijalankan. Terima kasih juga, untuk luangkan waktu mengunjungi blog ini dan menyimak berbagai kisah disini

  2. Rolin says:

    Saya sangat terharu membaca kisah seorang anak diatas,karena saya langsung bercermin ke diri saya sendiri, yang cenderung mengambil waktu untuk keluarga demi menyelesaikan tugas kantor saya.
    Saya harus lebih belajar lagi untuk mengatur waktu.
    terima kasih Pak Josef, sangat mengkoreksi saya.
    Salam

  3. Banis says:

    Terima kasih atas reminder nya pak….waktu memang hrs digunakan sebaik2nya agar hidup ini tdk sia2..

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 Banis, saling mengingatkan adalah kewajiban kita. Semoga waktu bisa dimanfaatkan bagi banyak orang

  4. Henny Wang says:

    Sangat mengharukan.. membayangkan jika anak saya sendiri yang bertanya seperti itu.
    Terima Kasih Pak Josef,tulisan ini sangat menginspirasi dan menginstropeksi diri saya untuk dapat memberikan waktu yang berkualitas, terutama bagi keluarga saya..

  5. wahyu Awaludin says:

    wah terima kasih pak Josef. Saya jadi ingin mempraktekkan pertanyaan di kertas itu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan