Forum Network dan Saling Belajar

Posted on December 11th, 2018

“I only retire coaching if I retire my calling.” (Peter Barr)

VUCA memang mencemaskan bila mencermati kepanjangannya: Volatile Uncertain Chaotic Ambiguous.  Dalam dunia coaching kami cenderung untuk fokus pada positif dan masa depan, karena itu VUCA berubah rupa menjadi lebih memberikan harapan sekaligus peluang: Vibrant, Unexpected, Creative, Adaptive.

Dengan sepenuhnya menyadari berbagai perubahan cepat disekitar, maka hadir para Coach yang bernaung di bawah International Coaching Federation, dan juga pengamat dan pencinta Coaching. Di sana beberapa ide gemilang dikedepankan tentang bagaimana membawa aktivitas coaching ke dunia perusahaan maupun dalam kehidupan secara umum. Tema ICF Summit 2018: Applied Coaching Principles – From Knowledge to Practical Application.

Provokasi Positif yang Menginspirasi

Tugasnya sesuai agenda memang untuk memprovokasi peserta, maka tidak berlebihan kalau Coach Haifani memilih judul presentasinya dengan: “Why Coach Needs Coaching.”

Paparan tentang sukses Coach Fani dalam menerapkan coaching di perusahaannya, bahkan juga mengajak suami untuk belajar coaching. Mereka berdua pun memulai transformasi dengan menempatkan gaya coaching dalam berbagai komunikasi, baik antar mereka berdua ataupun dengan karyawan. Mereka bahkan juga membuka diri untuk di-coach oleh professional business coach. Dan hasilnya luar biasa.

Bisnisnya PT Radema Graha Sarana tumbuh meroket. Karena itu, tanpa mengajari, dia malah memprovokasi para professional coach hari itu, bahwa kita semua juga butuh coach dalam perjalanan karier atau hidup kita, walau kita sudah menjadi pemimpin atau coach yang handal.

Berikut foto bersama sang provokator (tengah).

Karena itu tidak berlebihan juga, Coach Lyra Puspa menanggapi posting tentangnya di Facebook:

“Bangga deng Coach Haifani Ekayuswanti yang bukan hanya pembelajar sejati dan pebisnis tangguh, tapi juga pribadi yang rendah hati, tulus, dan senantiasa menjaga keseimbangan sebagai istri dan ibu.”

Banyak yang Belajar Coaching

Perlu kita akui bahwa banyak yang belajar coaching tapi sedikit yang mengimplementasikan coaching secara professional. Maksudnya?

Tidak sedikit yang belajar coaching sebagai bagian dari leadership program. Ada juga yang mengambil kursus dalam jumlah jam dan hari yang berbeda-beda. Atau ada pula yang mengajarkan coaching tanpa memiliki lisensi dan kredensial sebagai trainer coaching. Namun kemudian mereka pun sadar dan belajar secara benar agar bisa menerapkannya secara bertanggung-jawab.

Berikut foto bersama Elsa dan Peter Barr MCC.

Dalam kehidupan setiap hari, tidak sedikit yang sungguh-sungguh mengabdikan hidupnya untuk pengembangan Sumber Daya Manusia melalui praktek coaching atau mengajarkan coaching secara tepat. Mereka sadar akan tanggung jawab professional terhadap seorang coachee.

Gairah seputar dua hari di lokasi, dengan tepat diungkap oleh Elsa di postingan IG-nya, sebagai berikut:

Brain to Brain Dialogue

Sesi ini bukan ringan untuk diserap. Tapi sesi ini membuka mata kita, dengan gaya pemaparan khas Coach Lyra Puspa, Chairman of Indonesia Applied Neuroscience Synergy (SINTESA) dan PhD Candidate-Applied Neuroscience in Psychology di Canterbury University, UK. Pendengar paham? Boleh jadi dalam kadar tertentu. Saya pun hanya sampai ke tingkat menyadari bahwa Coaching Drives Neurochemicals, bahwa coaching rewires the brain dan seterusnya.

Simak saja definisi coaching berikut ini, dari kacamata neuroscience:

“Coaching is a neurobehavior intervention to stimulate neural activities for brain function optimization by developing neuroplasticity.”

Nah tidak gampang paham kan? Karena itu saya mendengar ada bisik-bisik, akan ada program setengah hari untuk memperjelas banyak aktivitas positif yang dilakukan dalam industri, yang memberikan dampak besar pada rasa urgensi dan excitement karyawan dalam menerima berbagai tantangan besar untuk meningkatkan produktivitas. Ini akan menjelaskan keterkaitannya dengan ilmu neuroscience. Kita tunggu pengumuman semoga bisa direalisir.

Foto berikut bersama Coach Lyra Puspa dan rekan coach lainnya.

Leader as a coach

Para leader berada pada posisi yang relatif lebih pas untuk mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia dengan menggunakan pendekatan coaching. Karena itu, mereka sewajarnya belajar menjadi professional coach untuk bisa diimplementasi di tempat kerja masing-masing. Di berbagai forum saya sering mengetengahkan quote pada akhir tulisan ini. Karena seorang leader hanya akan menjalankan coaching setulus hati, mempersiapkan anak buahnya untuk tumbuh, kalau dia memang cinta dan peduli pada anak buahnya.

“Coaching is a profession of LOVE. You can’t coach people unless you LOVE them.” (Eddie Robinson)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Santi, Selamat Tahun Baru, sukses selalu. Introspeksi diri, mengakui kesalahan sendiri...

josef:
Terima kasih Santi, Memang tidak bisa sepihak. Seperti yang Santi utarakan, harus ada keterbukaan dan...

Santi Sumiyati:
Benar Pak, seringkali kita menyalahkan apapun yang berada di luar diri kita pada saat ada...

Santi Sumiyati:
Selamat malam Pak Josef, saya pikir ada ” kesediaan” juga dari Bapak dan keluarga untuk...

josef:
Terima kasih sama2 Jimmy, langkah kecil semoga bisa menginspirasi yang lain. Salam


Recent Post

  • Akselerasi Pengembangan SDM Indonesia
  • Keragaman Penuh Rukun Dan Damai
  • Memupuk Persaudaraan
  • Experiential Learning
  • Tidak Percaya PHK itu Terjadi
  • Self Empowerment
  • Forum Network dan Saling Belajar
  • Harapan Akan Kesempatan Baru
  • Blessing in Disruption
  • Valuable Leader Multiplicator