Refleksi dan Uji Adrelin

Posted on October 11th, 2016

“Most folks are as happy as they make up their minds to be.” (Abraham Lincoln)

SELAMAT PAGI BANGET! Demikian sapaan yang muncul di WA Group kami. Jam menunjukkan pukul 04:00. Sebagian besar tim sudah berkumpul di bandara. Mereka seakan tidak ingin kehilangan sejenak pun momen kebersamaan yang sudah dirancang rapih oleh panitia.

Pilihan kali ini adalah Jogyakarta. Rutinitas keseharian sejenak ditinggalkan.

Di alam terbuka sana, kita akan merayakan kebersamaan, sambil lebih mengenal setiap individu anggota tim. Juga merayakan perbedaan, karena keasyikan kerjasama sejauh ini adalah buah dari mengapresiasi setiap perbedaan serta memanfaatkannya secara optimal. Dalam suasana yang lebih informal, kami akan mendapatkan asupan energi baru, gairah baru untuk perjalanan panjang kedepan.

Budaya yang Dilestarikan

Pesawat yang take off dan landing tepat waktu, sangat membantu pelaksanaan program yang diawali dengan sarapan di Gudeg Yu Djum, Jogya. Perjalanan kami lanjutkan ke Museum Ullen Sentalu.

Karya ini patut diapresiasi, karena banyak peninggalan sejarah yang ingin dilestarikan disini. Anak cucu kita pun bisa belajar tentang sejarah, seni dan budaya Jawa, apa peran kerajaan masa lalu terhadap kebudayaan serta perjalanan sejarah di tanah air ini. Monumen miring di luar museum  ingin memperingati bahwa banyak peninggalan sejarah harus diselamatkan.

Tim tidak menyia-nyiakannya untuk foto bersama dengan berbagai gaya dan kemiringan.

1-refleksi-dan-uji-nyali

Membuka Mata dan Hati

Kami dihadapkan dengan berbagai peninggalan setelah letusan Gunung Merapi 2010. Museum yang tersedia, selain bercerita tentang berbagai gunung api di Indonesia, sifat dan tipe letusannya, juga memaparkan dampak dari letusan dasyat tersebut.

2-refleksi-dan-uji-nyali

Pada momen ini, lirik lagu Ebiet G. Ade membuat refleksi menjadi semakin intens:

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”

Sebagian kita mungkin turut terlibat aktivitas sosial ketika Gunung Merapi meletus 2010. Entah melalui aktivitas perusahaan, atau secara individu. Tetapi baru kali ini kami berkesempatan untuk melihat sendiri, walaupun hanya dalam bentuk display kerusakan yang ditimbulkan. Tapi kesempatan ini sudah cukup untuk memahami dampak dasyat bila alam murka, derita banyak anak manusia dan lingkungan. Sebuah peringatan untuk selalu bersahabat dengan lingkungan dan terus menjaganya.

3-refleksi-dan-uji-nyali

Menguji Adrenalin

Deretan 16 jeep tua sudah menunggu untuk Lava Merapi Tour. Momen refleksi akan segera berubah menjadi teriakan surprise, debaran jantung yang bertambah seiring dengan laju jeep di jalan yang berbatu-batu dan penuh lubang. Tanpa sadar jeep dengan kecepatan tinggi nyemplung ke dalam air sungai, membuat cipratan air membasahi semua di kendaraan itu. Ada yang merasa kurang puas dengan hanya sekali, dan meminta supir untuk mengulangi permainan air tersebut.

Perjalanan menukik mengantar ke kampung tertinggi sebelum letusan, di mana rumah kediaman Mbah Marijan bisa terlihat dari kejauhan. Bunker tempat persembunyian juga dijadikan tempat untuk berfoto bersama.

4-refleksi-dan-uji-nyali

Refleksi

Seperti halnya perubahaan perseneling jeep, perasaan kami sepanjang hari harus cepat berubah mengikuti suasana di mana kami berada. Ada tawa riang, ada duka di hati. Ada teriakan hati penuh prihatin, tapi ada juga ledakan kegembiraan di alam terbuka. Ada tatapan sayu pada gunung yang membawa cerita duka, tapi ada senyum kebahagiaan bahwa kami telah merayakan hari pertama kebersamaan di kaki sebuah gunung yang penuh dengan banyak cerita.

Geliat kehidupan sesudah letusan juga memberikan kesan, kita tidak boleh putus asa. Ada kehidupan keluarga yang masih harus dibangun, masih ada panggilan kehidupan yang harus diselesaikan. Bahwa kita harus bersahabat dengan alam, dan terus menjaganya.

Perjalanan ke kota dari Kaliurang, sebetulnya jauh. Tapi kesempatan menyimak semua foto kenangan seharian, atau posting foto untuk bercerita pada para sahabat atau sekedar preview postingan teman-teman, saling berbagi foto unik antar tim, semuanya sudah menghabiskan waktu perjalanan itu.

“You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You must do the thing you think you cannot do.” (Eleanor Roosevelt)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan