Cara Jenaka @Iniginting Hindari Marah

Posted on June 25th, 2013

“Light a match, and it can destroy a building or give light to a dark place: It’s your choice.” (Stephen R. Covey)

SUNGGUH, ini merupakan pilihan, dan walaupun moment untuk memilih hanya sepersekian detik, tetap saja ada pilihan.

Salah seorang karyawan menemuiku untuk berkonsultasi. Dengan nada yang agak kesal dia menyampaikan:

“Rasanya apa yang saya lakukan sejauh ini tidak ada yang benar. Saya sudah berusaha melakukan sebaik mungkin. Kalau toh ada kesalahan, saya juga berusaha memperbaikinya, tetapi atasan saya seakan hanya mencari apa yang salah dari yang saya lakukan, padahal yang bagus ada banyak. Begitu dia menemukan kesalahanku, dia langsung marah, atau menegur saya dengan nada yang sangat marah. Tidak pernah saya mendapatkan apresiasi dari apa yang saya kerjakan.”

“Lalu apa reaksimu sejauh ini ?” tanya saya kemudian.

“Saya kesal, dalam hati saya berontak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lama-kelamaan saya seakan merasa bahwa memang saya salah, dan menerima kepahitan tersebut,” jawab karyawan tersebut dengan ekspresi sedih tapi sekaligus kesal.

“Menurutmu, apakah itu merupakan satu-satunya pilihan untuk bereaksi terhadap sikap atasanmu? Atau setidak-tidaknya, pernahkah berpikir bahwa masih ada pilihan reaksi lain?” tanya saya ingin tahu.

Belajar dari @Iniginting

Saya sering saling menyapa di twitter, baik untuk saling memotivasi, saling menginspirasi atau saling mengingatkan untuk berolahraga agar tetap sehat. Seperti Senin pagi itu, Jakarta mulai gerimis, ketika banyak yang memilih narik selimut teruskan tidur, @Iniginting berkicau tentang pilihannya.

Dan melalui pelajaran terkenal The 7Habbits of Highly Effective People, Stephen R. Covey memaparkan:

“Every human being has four endowments: Self awareness, conscience, independent will, and creative imagination. These give us the ultimate human freedom: The power to choose, to respond, to change.”

Mungkin karena pembelajaran dari Stephen R Covey ini sudah mendarah-daging dalam tubuh kawan saya @Iniginting, reaksi dia suatu hari dipinggir jalan menunggu metromini sungguh mengagumkan:

Saya terpaku di depan iPad, menunggu apa lanjutan reaksi tersebut. Dia bisa marah, walaupun dengan cara elegan seperti isi twit lainnya (yang berkicau beberapa waktu lalu) dari @dwitasaridwita dan di RT @fahgabril: Ngambeklah dengan cara elegan. Tapi ternyata sahabat saya @Iniginting memilih menghindari marah dengan cara yang jenaka, membuat saya terpukau.

Karyawanku juga belajar dari sini

Saya sungguh acungkan kedua jempol saya untuk @Iniginting, orang yang ngakuJust a Passionate Learner” tapi sekaligus juga memberikan kepada dunia sekitarnya, pelajaran tentang kehidupan, dengan contoh sederhana dari kesehariannya, melalui inspirasi di Twitter.

Kepada karyawan yang berkonsultasi tersebut, saya tidak berikan nasehat. Saya tidak ingin menggurui. Saya hanya membentangkan di hadapannya beberapa contoh kehidupan yang dialami teman-teman lainnya, seperti contoh tersebut di atas, semoga bisa menginspirasi dia. Dan tidak lupa saya mengingatkan dia, dengan merujuk kepada kata-kata bijak ini:

“Nobody can hurt me without my permission.” (Mahatma Gandhi)

Saat saya menulis cerita ini, karyawan tersebut sudah lebih tenang, dia sudah belajar “How to manage boss” dan mulai meraih trust dari atasannya.

Terima kasih @Iniginting @dwitasaridwita @fahgabril telah menginspirasi kami dan banyak yang lain.

“Between stimulus and response there is a space. In that space lies our freedom and power to choose our responses. In those choices lie our growth and our happiness.” (Stephen R. Covey)

Bookmark and Share

8 Responses to Cara Jenaka @Iniginting Hindari Marah

  1. devi says:

    Slmta siang Pak Joseph, sdh beberapa minggu tdk comment blog bpk. Cerita seperti di @iniginting pernah juga saya membaca di group bb maupun di fb, org2 sprt @iniginting tergolong orang2 yg positive thinking. Selalu mengambil cara tidak berkonfrontasi dlm kondisi kebanyakan org hrs berang, sumpah serapah, maki2, atau sebel. Dalam tulisan bpk hari ini membuat saya kembali diingatkan untuk selalu belajar bagaimana membuat diri kita bisa tetap nyaman/damai sehingga membuat diri tetap tidak berpengaruh oleh keadaan yg merusak jati diri yg sdh survive dalam kebaikan jiwa yg tenang. Terima kasih cerita yg mengingatkan saya kembali Pak Joseph

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi untuk berkunjung kembali ke blog ini. Bahkan telah ribuan tulisan tentang urusan marah hadir ditengah kita untuk mengingatkan kita bagaimana kita seharusnya bersikap. Tapi masih tetap kewajiban kita untuk saling mengingatkan, sekarang maupun besok. Dan seperti yang Devi bilang: agar kita hidup tenang.

  2. elfi says:

    Hai Pak..
    Sharing Bpk dan contoh yg Bpk tunjukkan sehari2 di kantor lebih jauh mengingatkan dan mengajarkan saya untuk memilih marah yg memang perlu, karena seringkali kita tidak pernah berpikir dulu apakah memang benar2 perlu untuk marah. Seringkali saya memilih marah meskipun tahu tidak berdampak apa2 untuk penyelesaian masalah dan malah akhirnya membuat perasaan tidak enak sendiri. Kadang lupa bahwa marah adalah pilihan, dan kita bisa memilih utk menyikapi secara positif bahkan dengan kejenakaan. Thanks Pak untuk selalu mengingatkan dan menjadi contoh…

    • josef josef says:

      Terima kasih Elfi, dalam hidup bermasyarakat, adalah tanggung jawab bersama untuk saling mengingatkan. Kalau pilihan secara sadar kita lakukan, kita akan terindar dari menyalahkan orang lain sebagai sumbernya. Terima kasih juga untuk sempatkan memilih untuk mengunjungi blog ini, setelah kerja sampai malam.

  3. Herni Dian says:

    Marah pun sebenarnya adalah pemberian Tuhan ya Pak.. Namun tergantung bgmn kita men-demonstrate rasa marah itu.. Terima kasih atas tulisan bapak yang indah.

    • josef josef says:

      Terima kasih Herni, kita semua bisa marah, asal kitapun sadar bahwa itu merupakan pilihan, agar kita tidak terjebak untuk menyalahkan orang lain yang menjadi penyebab kita marah. Terima kasih atas kunjungan Herni ke blog ini.

  4. Agnes Murniati says:

    Pak Josef, perjalanan “proses” yang sedang saya geluti, tidak terasa sudah genap 6 bulan… besok adalah hari terakhir di Fiscal Year 13. Bulan Juni 2013 adalah bulan HRD… mulai akhir Mei smp hari ini… akhirnya hari ini Bisul Pecah… semua aktifitas HR mulai dari Family Gathering, Performance Appraisal, Training, Team Building, Budgeting, etc etc… Thanks God. Baru hari ini saya bisa mengunjungi Blog Pak Josef. Mohon doanya terus… dalam proses yang sedang saya jalani ini… thanks for the nice article..very inspiring.

    • josef josef says:

      Terima kasih Agnes, walau pecahnya bisul itu terasa sakit, tapi itu pertanda akan segera tuntas. Saya doakan, dan saya ikuti progresnya, sebuah perjalanan yang kaya pembelajaran. Sebuah quote yg saya twit pagi ini, juga bukan kebetulan: When you say “I can”, and expect success, you fill yourself with confidence and happiness. (Remez Sasson)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2. Mari kita terus saling belajar. Salam

Nurita Magdalena:
Terima kasih banyak Pak Josef atas sharing yang menginspirasi

josef:
Terima kasih banyak Suster Marietta, sudah berkenan mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Buku itu hadiah...

Sr.Marietta:
Yth Bapak Yosef Bataona, 2 buku yang saya terima melalui Sr.Agnes Keraf SFS sangat meneguhkan dan...

josef:
Terima kasih sama2 Coach Amanda, sudah berkenan mengunjungi blog ini dan menyimak tulisan ini. Selain itu...


Recent Post

  • Manusia Seutuhnya
  • Shani Yang Memberdayakan
  • Meraih Trust dan Respect
  • Learn Unlearn Relearn
  • Panggilan Mengubah Paradigma
  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST