Warisan Buku Tak Ternilai

Posted on February 27th, 2018

“All good men and women must take responsibility to create legacies that will take the next generation to a level we could only imagine.” (Lydia Sweatt)

UNIKA ATMA JAYA, di Aula Yustinus hadir banyak sahabat dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Mereka semua diminta untuk mengenakan pakaian dengan nuansa daerah. Semua hadir untuk menemani seorang tokoh penting yang ingin mempersembahkan sesuatu bagi bangsa Indonesia, saat merayakan ulang tahun ke-80.

Dia adalah Prof. Dr. Florentinus Gregorius Winarno. Mantan Rektor Unika Atma Jaya, dengan sederetan penghargaan dan juga jabatan penting, antara lain: Secretary General of Federation of Asian Nutrition Society, Presiden CODEX Alimentarius Commission FAO/WHO; President Indonesian Flavour and Fragrance Association. Beliau merupakan orang Asia Pertama yang menjabat sebagai Presiden CODEX.

27 Februari 18_Warisan Buku Kontribusi Tak Ternilai1

Peluncuran Buku

Acara penting di samping perayaan ulang tahun adalah Peluncuran dan Bedah buku setebal 3.000 halaman, berjudul: Teknologi Pangan. Catatan menarik di bagian belakang buku tersebut:

“Buku ini merupakan sumbangan penting bagi perkembangan penelitian pangan di Indonesia. Buku ini juga sekaligus menjadi tanda bahwa setiap insan  di negeri ini harus terus menjaga api optimism untuk terus berjaga dan bekerja menuju kemandirian dan kemakmuran bangsa Indonesia.”

Berikut foto bersama usai penyerahan buku kepada para pihak.

27 Februari 18_Warisan Buku Kontribusi Tak Ternilai2

Warisan Tak Ternilai

Kebiasaan pak Win sejak muda adalah membaca dan membuat catatan yang tersebar di mana-mana, mulai dari cara jadul di berbagai lembar kertas atau buku catatan, sampai ke zaman now dalam soft copy di laptop. Karena itu, tutur beliau di acara penting tersebut:

“Keberanian untuk menerbitkan buku ini dilandasi dengan semangat bahwa di usia 80 ini, saya  ingin meninggalkan sesuatu kepada generasi muda. Sesuatu itu adalah buku. Siapa tahu ada beberapa cuil dari tulisan-tulisan saya yang dapat digunakan untuk memperkaya ilmu pangan dan gizi, syukur-syukur dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi berkembangnya industri pangan di Indonesia.”

Koordinasi dengan pihak Penerbit, mendiskusikan berbagai tulisan yang tersebar di mana-mana, berujung pada terbitnya buku dengan 3.000 halaman, walaupun ceritanya naskah yang ada cukup untuk 4.000 halaman buku.

27 Februari 18_Warisan Buku Kontribusi Tak Ternilai3

Merah Putih Mempersatukan

Ada program unik yang jarang hadir di acara ulang tahun, maupun bedah dan peluncuran buku. Hadirin yang terdiri dari ragam komunitas diminta untuk mengirimkan perwakilannya untuk ambil bagian dalam menjahit bendera merah putih ukuran raksasa. Makna di balik aktivitas ini adalah:

Menjahit mengandung makna menyambung atau menyatukan yang terpisah, yang bengkok diluruskan. Yang hadir dari beragam latar belakang, ikut ambil bagian dalam menciptakan kesatuan yang kokoh, jadilah Sang Saka Merah Putih, yang saat dikibarkan selalu mengingatkan kita bahwa kita bhinneka, kita satu, kita Indonesia.

Pesan itu sungguh menggugah sanubari, saat semua yang hadir dengan khidmat menyanyikan Lagu Indonesia Raya saat mengibarkan bendera.

27 Februari 18_Warisan Buku Kontribusi Tak Ternilai4

Inspirasi Sepanjang waktu

Atas postingan saya di sosmed tentang acara peluncuran buku tersebut, seorang sahabat,bertanya:

“Bakal dibaca ngga?”

“Buat menggugah inspirasi begitu tahu kebiasaan beliau nulis dan catat setiap hari,” jawabku pendek.

Ternyata usia tidak membatasi karya. Sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing, banyak kisah hidup yang kita ciptakan setiap hari. Kisah itu ada yang dicatat, ada yang dibagikan secara lisan kepada orang lain, ada yang masih tinggal di kepala kita masing-masing. Semua kisah kehidupan itu akan sangat bermanfaat bagi banyak orang kalau bisa diwariskan dalam bentuk buku.

Dan Prof Winarno menyadari betul hal itu. Banyak pihak akan terus mengenang beliau melalui sentuhan tangannya bagi suksesnya banyak individu dan organisasi. Tapi banyak yang juga akan terus mengenangnya sebagai ‘Bapak Teknologi Pangan’ yang telah banyak berbuat demi memajukan ilmu pangan dan gizi. Semoga sepenggal harapan beliau yang tercantum di pengantar bukunya bisa tercapai:

“Syukur-syukur dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi berkembangnya industri pangan di Indonesia.”

Pak Winarno telah mengamalkan ilmu dan profesinya secara nyata untuk industri pangan di Indonesia. Semoga ini bisa menginspirasi professional lainnya untuk berpacu dengan waktu menuliskan sesuatu yang layak diwariskan untuk generasi berikutnya.

“If you would not be forgotten as soon as you are dead, either write something worth reading or do something worth writing.” (Benjamin Franklin)

Bookmark and Share

3 Responses to Warisan Buku Tak Ternilai

  1. Santi Sumiyati says:

    Selamat malam Pak Josef, membaca tulisan Bapak tentang legacy dari Prof. Win, sangat menginspirasi saya untuk mulai memikirkan apa yang dapat kita berikan, sekecil apapun, yang dapat bermanfaat kepada lingkungan dan generasi penerus. Terima kasih ya Pak sudah berkenan untuk selalu berbagi ilmu dan menginspirasi kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Santi, hadirnya Nilai perusahaan itu pasti ada tujuannya. Karena itu memahami dan hidup sesuai...

josef:
Terima kasih Rizky, saya akan email. Salam

Santi Sumiyati:
Selamat siang Pak Josef, terima kasih sudah menginspirasi dengan tulisan Bapak. Salah satu poin...

Teuku Muhammad Rizky:
Dear Pak Josef, saya rizky, dari management trainee human resources (MT HR) di indofood...

josef:
Thank you Sulaiman, keep in touch


Recent Post

  • Bangga dengan Pekerjaanku
  • Saatnya Mengisi Baterei
  • Kejujuran Employer Brand 3.0
  • Mama Izinkan Saya Bermain
  • Menyamakan Makna TRUST
  • Komunikasi dan Seni Mendengarkan
  • Pilihan di Tangan Anda
  • Tutur Kata Seorang Pemimpin
  • Bawa Juga Hatimu ke Tempat Kerja
  • Kartini Zaman Now