Siap Sedia Selalu

Posted on December 15th, 2015

“Opportunity doesn’t make appointments, you have to be ready when it arrives.” (Tim Fargo)

SETELAH PAHAM, saya begitu berterima-kasih kepada dosenku. Dia suka bermain dengan singkatan dengan huruf ‘S’. Suatu hari dia masuk ke ruang kelas, dan meminta kami siap untuk quiz. Ketika kami agak protes tentang pemberitahuan mendadak, jawabnya singkat, “Kalian harus Siap Sedia Selalu, alias S3.” Pada kesempatan lain, begitu tiba di ruangan, dia meminta kita siap dengan kertas kosong untuk ulangan. Belum sempat kami reaksi, dengan sigap dia berujar, “Siap Sedia Selalu Seturut Suka Saya, alias S6.” Yang paham akan gaya sang dosen, akan selalu belajar mempersiapkan diri, sementara yang lain hanya bisa merengut.

Moment Launching Sebuah Buku

Saya diundang pada sebuah acara peluncuran buku tentang Pengelolaan Sumber Daya Manusia karena saya turut memberikan endorsemen. Saya tiba di hotel, tempat acara peluncuran buku sebelum acara dimulai.  Saya hadir sebagai undangan, yang akan mendengarkan paparan dari Penerbit, dan seorang praktisi HR. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda acara dimulai. Sejam berlalu, seseorang mendekati saya, meminta saya untuk menggantikan pembicara yang tidak hadir karena salah membaca tanggal.

“Loh, saya diundang sebagai pendengar bukan sebagai pembicara,” kata saya beralasan.

Tapi orang tadi, seorang toko media cetak yang saya kenal, meyakinkan saya:

“Maaf mendadak, tapi kami sungguh minta tolong, agar bapak bersedia jadi salah satu pembicara. Kami yakin bapak punya semua yang ingin disampaikan hari ini.”

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi karena seluruh ruangan sudah penuh dan pembicaranya tidak hadir. Saya akhirnya menerima tawaran itu, untuk berbicara tanpa persiapan, tapi karena ini tentang buku yang mau diluncurkan, saya sudah membacanya. Dan buku itu tentang Sumber Daya Manusia, maka sedikit banyaknya saya bisa sampaikan di luar kepala.

Impromptu Talk

Saya jadi teringat akan seorang guru Soen Siregar, fasilitator Utama program Dale Carnegie. Dalam posting terdahulu, saya sudah menyampaikan tentang, betapa buku “How to Stop Worrying and Start Living” sangat membantu mengembalikan self confidence saya. Dan saya kemudian mendaftar untuk mengikuti program Dale Carnegie tentang Effective Speaking and Human Relations, saat program ini baru tiba di Indonesia. Saking bersemangatnya, saya pun mendaftar menjadi graduate assistant, membantu Pak Soen Siregar sebagai co-facilitator di program selanjutnya.

Menariknya, salah satu materi yang diajarkan di sana adalah tentang “impromptu talk”. Mendadak kita diminta berdiri untuk berbicara tentang topik yang disodorkan, mengikuti pola yang benar, dan hanya dalam waktu yang disediakan, misalnya dalam tiga menit. Di sini kita dipacu untuk siap menghadapi ketidakpastian topik yang disodorkan. Dan ini hanya mungkin kita kuasai dengan rajin berlatih.

Program tersebut di atas diperuntukan buat orang dewasa. Sementara itu, di Bandung sana, ada sebuah tim kecil  pimpinan Puji Prabowo, berambisi mempersiapkan anak sejak dini untuk selalu siap dan berani berkreasi, berimajinasi, bertanya ataupun berbicara di depan umum. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan peluang di masa mendatang. Foto berikut adalah logo Kejar Aurora, dan satu dari sekian manual yang mereka gunakan.

Siap Sedia Selalu

Elevator Speech

Ada seorang kawan yang menceritakan sebuah pengalaman berada dalam sebuah penerbangan dengan pimpinan Region Asia. Pimpinan ini tentu tahu dengan siapa dia bicara. Karena itu, dia menanyakan beberapa hal basic berkaitan dengan info terakhir perkembangan bisnis yang menjadi tanggung-jawab kawan ini.

Agak gelagapan dan kawan ini tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan atasannya secara sempurna. Ini memang di pesawat, bukan di kantor. Tapi pimpinan tadi beranggapan bahwa hanya info basic yang ditanyakan, bagaimana mungkin, dia tidak bisa menjawabinya.

Singkat cerita, ketika di kesempatan lain, di mana ada diskusi tentang Talent dan nama kawan tadi disebut, challenge yang berat dihadapi local management untuk memberikan argumentasi, ketika pimpinan Asia itu menyatakan keraguannya atas kemampuan yang bersangkutan.

Ada beberapa program training, yang mensyaratkan kita mempersiapkan “Elevator Speech”. Seandainya tiba di kantor hari Senin depan, kita berada satu lift dengan Direktur Utama.  Dia tahu kalau kita baru kembali dari mengikuti sebuah training dan bertanya, apa isi training tersebut, maka kita hanya punya waktu sangat singkat sampai dia keluar dari lift. Dalam hanya beberapa menit kita harus bisa memberikan paparan tentang isi training itu.

Dan untuk itu kita perlu berlatih. Berlatih menyusun paparan pendek. Berlatih untuk menyampaikan sari dari materi seutuhnya dalam waktu yang tersedia. Dan tentu saja, saya sangat bersyukur dengan dosen yang suka dengan ‘S3‘ atau ‘S6‘ di atas, ataupun Pak Soen Siregar yang telah mengajarkan saya tentang Impromptu Talk.

“The will to win is worthless if you do not have the will to prepare.” (Thane Yost)

Bookmark and Share

14 Responses to Siap Sedia Selalu

  1. Gde Dhika says:

    Selamat pagi pak josef

    Siapp pak, kita harus selalu siap sedia, dalam menghadapi hal yang tiba-tiba bisa terjadi tanpa diduga 😀

  2. Ilmu public speaking sangat diperlukan buat setiap profesional. Terlebih impromptu akan membedakan antara orang yang selalu siap dalam setiap keadaan dengan orang yang tidak siap.

    Terima kasih sharingnya Pak Josef.

  3. Elevator speech sangat perlu untuk guru, sehingga murid dapat langsung menangkap inti pelajaran.Kebanyakan guru dewasa ini suka omong bertele-tele, tidak fokus lagi apa yang mau disampaikan, membuat murid mengantuk, bosan dan akhirnya lupa semua yang diajarkan tadi

    • josef josef says:

      Terima kasih Wendie, selain paham konsep, juga perlu banyak berlatih. tidak saja guru tapi juga untuk profesi lainnya. Terima kasih sudah mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini

  4. Terima kasih Pak Josef, tulisannya sangat menginspirasi, pertama kali saya ketemu Pak Josef di KWI cikini, acaranya Sudara.

  5. Terima kasih untuk tulisan inspiratifnya Pak Josef. Bisa menjadi contoh aplikasi bagi saya pribadi untuk berbagi dengan peserta training di kelas-kelas program mendatang. Mohon ijin share ke peserta saya ya Pak?

    • josef josef says:

      Dear Andre, terima kasih sama2. Dengan senang hati bila ini dijadikan contoh di kelasmu. Saya akan kirimkan juga link beberapa artikel di blogku yang gunakan referensi Dale Carnegie. Selamat berbagi

  6. Andrianto Kastin says:

    Terima kasih Bapak Josef Bataona, this articles are tribute to Dale Carnegie Training Indonesia. Semoga pengalaman bersama Dale Carnegie Training bisa memberkati banyak orang seperti Bapak telah terberkati. Its an honor for us to have you as one of Dale Carnegie Training graduates.

    Andrianto Kastin
    Corporate Solution Director
    Dale Carnegie Training Bandung

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 pa Andrianto, saya sendiri bangga menjadi alumni Dale Carnegie program, dan banyak berbagi tentang pemikiran2 positif yang saya peroleh disana. Saya akan berikan daftar beberapa artikel lainnya di blog yang saya rujuk ke Dale Carnegie

  7. Rudi Wijaya says:

    Dear Pak JOS,
    Saya jadi teringat pengalaman nyata saat saya masih Trainee di ULI, saya dan Line Manager (LM) berada di lift turun dari atas lantai 8 menuju lobby. Lift berhenti di lantai 8 (lantai tempat Chairman) dan masuklah ke dalam lift sang Chairman (!). Beliau menyapa LM saya dan menanyakan bagaimana training pekan lalu (di Vietnam) yang diikuti LM saya.
    Saya menyaksikan LM saya menjelaskan training itu secara sangat baik dalam waktu sekitar 1 menit. Setelah berpisah, LM saya “curhat” tidak habis pikir bagaimana sang Chairman ingat dia mengikuti training tsb. Untungnya dia betul-betul menjalani training nya dengan baik sehingga “elevator Speech” nya berjalan sangat baik.
    Thanks Pak JOS atas sharing dan reminder nya

    • josef josef says:

      Dear Rudi, Terima kasih banyak untuk tambahan kisah nyata pengalamannya. Semoga kita semua terus diingatkan untuk bersiap sedia selalu. Salam – Josef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan