Keragaman Potensi Sukses

Posted on May 24th, 2016

“We are of course a nation of differences. Those differences don’t make us weak. They’re the source of our strength.” (Jimmy Carter)

BEGITU LAGU YMCA mengalun, peserta diajak untuk bergoyang, boleh mengikuti gerak YMCA di layar atau mengikuti pemandu di depan atau bisa juga gerak bebas. Jam 13:00 setelah makan siang berpotensi rendah fokus. Karena itu diperlukan energizing yang membuat mata melek untuk siap berinteraksi dalam proses belajar berikutnya.

Pengurus OSIS dari 15 SMA se Jabodetabek, hadir di SMAN Unggulan MHT, selaku tuan rumah. Mereka sedang merangkai jalinan persahabatan demi kebaikan bersama. Foto bersama Pengurus OSIS yang menghubungiku, Nisa dan Azzah.

Keragaman Potensi Sukses1

Bangun Komunikasi dengan Gen Z

Bahan presentasi seperti yang diminta mudah saya susun dan bisa untuk berapa pun lamanya sesi dirancang.Tapi bagaimana membuat peserta mau membuka mata hati dan telinganya untuk menyimak materinya, merupakan tantangan tersendiri.

Eh gila bro, nyemok mulu lo, tar tepar lo.” Itulah sepenggal kalimat bisa terdengar di sebuah sudut Jakarta, yang membuatku tergoda mencari maknanya, karena saya segera berhadapan muka dengan kelompok yang empunya bahasa itu, Bahasa Gaul. Dan kalimat itu kurang lebih merupakan teguran pada temannya yang lain: “Eh gila bro/teman, ngerokok melulu kamu, entar sakit/lemes loh.”

“Saya harus bisa menguasai beberapa penggal Bahasa Gaul!” Kataku pada diri sendiri. Sementara anakku yang lagi asyik nonton, ketika kuajak mendiskusikan ini di teras, hanya tersenyum sambil berujar: “Lagi mager banget nih.” (lagi malas gerak banget nih)

Saya juga mencoba melalui media sosial, dan lumayan yang didapat berupa permainan singkatan seperti: WATADOS (Wajah Tanpa Dosa) ANDILAU (Antara Dilema dan Galau), BPJS (Budget Pas2an Jiwa Sosialita), SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), MODUS (Modal Dusta) GAMON (Gagal Move On).

Walau tidak banyak, rasanya cukup untuk bisa saya jadikan bumbu entah dalam presentasi atau sedang ngobrol santai jelang atau setelah Presentasi.

Acungkan Jempol

Saya diminta untuk bicara soal: “Teamwork: Success through Unity”. Ada beberapa hal menarik dari acara dan permintaan presentasi ini.

Pertama, ini merupakan pertama kami semua pengurus OSIS se-Jabodetabek diundang untuk bersilaturahmi. Mereka mulai membentuk jaringan persahabatan di mana untuk masa-masa mendatang bisa ditingkatkan menjadi kerja sama untuk berbagai hal positif. Karena ini pertama kali, maka waktu digunakan untuk saling berbagi praktek positif di tempat masing-masing. Bagi saya, inisiatif ini sangat gemilang.

Kedua, karena baru pertama kali mereka berinteraksi, mereka ingin dibekali dengan berbagai tips tentang bekerjasama dalam tim. Maklum ini langkah awal melibatkan berbagai pengurus OSIS dari sekolah yang tersebar di Jabodetabek. Inipun langkah yang pas.

Ketiga, topik dan fokus materi yang mereka minta dari saya. Pagi itu saya melangkah masuk ke ruang OSIS. Tulisan di white board bisa nampak gamblang. Dari sana saya bisa melihat berbagai butir yang mereka tuliskan (hasil brainstorming), yang dugaan saya berasal dari berbagai artikel yang saya tulis di blog. Karena itu mereka telah meminta saya untuk memberikan mereka beberapa tips antara lain:

  • Membangun dan konsolidasi tim.
  • Pamer Kekuasaan: Mengenali type orang yang suka pamer kekuasaan, sok kuasa, sok ngatur dan bagaimana menghadapinya.
  • Memanusiakan anggota tim.

Beginilah gaya Gen Z. Setelah mendapat rekomendasi nama saya, mereka asyik  berselancar di dunia maya mencari tahu siapa saya. Juga menyimak beberapa tulisan saya untuk fokus diskusi dengan saya tentang materi yang mereka harapkan dari saya.

Keragaman Potensi Sukses2

Keragaman demi Sukses

Mencermati topik: “Teamwork: Success through Unity” secara sederhana adalah sebagai berikut: Kita tidak mungkin bicara tentang tim kalau tidak ada pekerjaan, tugas atau proyek yang digarap (unsur teamwork). Dan tidak mungkin kita bicara sukses, kalau tidak ada sesuatu yang dikerjakan. Walau judul ini juga memberikan fokus pada Unity, saya menawarkan sudut pandang lain lagi untuk turut disimak, yaitu Diversity. Semua mereka adalah pengurus OSIS, tapi dengan latar belakang dan sekolah yang beragam.

Pertemuan pertama ini memang lebih banyak berbagi pengalaman. Namun kalau dikemudian hari mereka akan melangkah ke inisiatif yang dilakukan dalam berbagai proyek, maka pemahaman tentang siapa diri sendiri dan siapa anggota timnya adalah kunci. Kerja sama yang dibangun di atas keberagaman menuntut ketrampilan dalam memberdayakan talenta setiap anggota tim demi keberhasilan bersama.

Karena itu tidak berlebihan, kalau diakhir presentasi saya menawarkan dua saja kata yang menggambarkan karakter sebuah tim yang keren: KEPO dan BAPER.

KEPO, KEnali POtensi diri sendiri dan KEnali POtensi anggota tim agar talenta masing-masing bisa diberdayakan secara maksimal.

BAPER, BAwah PERubahan. Tim yang dibentuk dan proyek yang dirancang hendaknya membawa perubahan. Perubahan pada mindset dan perilaku setiap anggota terhadap kenyataan keragaman budaya yang kita punya, tetapi juga perubahan yang ingin diraih melalui berbagai proyek yang akan dirancang dan dikerjakan.

Tanpa disadari, mereka telah memulai langkah strategis untuk melakukan networking. Bersama, mereka adalah calon-calon pimpinan masa depan di negeri ini. Semoga niat tulus mereka diberkati, dan menginspirasi yang lainnya untuk berbuat yang sama, demi Indonesia yang lebih baik.

“You cannot contribute anything to the ideal condition of mind and heart known as Brotherhood, however much you preach, posture, or agree, unless you live it.” (Faith Baldwin)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET