Loh Pemimpin kok Melayani?

Posted on September 17th, 2013

People do not care how much you know until they know how much you care. (John C. Maxwell)

DUA TALENT MUDA menemui saya untuk ngobrol santai tentang masa depan karier mereka. Seperti biasa, saya berkisah tentang beberapa penggal pengalaman perjalanan karier saya di perusahaan itu, sebagai pendahuluan untuk menggugah inisiatif mereka untuk bertanya atau sekedar berbagi apa yang mereka sendiri alami sejauh ini. Sebagai calon manager masa depan, mereka memang sedang mengikuti berbagai program untuk mempersiapkan mereka untuk promosi ke level manager. Sebuah komentar yang cukup mengagetkan:

“Belakangan ini banyak orang yang bicara tentang Servant Leadership. Apa maskudnya?? Sekarang sebagai bawahan, kami sudah melayani. Sebentar lagi kami menjadi manager. Masak kami masih melayani juga kalau sudah jadi manager??”

Siapa yang Dilayani?

Saya mencoba mengajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan obrolan.

Tanya: “Siapa yang saat ini Anda layani?”

Jawab: “Atasan kami!”

Tanya: “Dalam hal apa Anda melayani atasan?”

Jawab: “Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan atasan kepada kami!”

Tanya: “Apakah atasan Anda puas? Apa alasannya?”

Jawab: “Sejauh ini puas, juga dari hasil penilaian. Menurut kami, dia puas karena kami bisa bekerja maksimal sesuai tugas kami. Dan itu artinya sudah maskimal juga kami melayani dia!”

Tanya: “Anda Yakin, atasanmu puas hanya karena hasil kerjamu sangat baik??”

“It is the employees who determine a company’s success or failure. — Dr. Tony Baron, The Art of Servant Leadership

Memang tidak salah, kalau karyawan sebagai bawahan akan menjalankan kewajiban mereka sesuai job description mereka, dan tidak berlebihan kalau kita juga mengatakan bahwa mereka juga yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalan perusahaan.

Karakteristik Pemimpin yang Melayani

Pertanyaan tentang Melayani dan Memimpin, tidak hanya ada di kepala telent muda di atas. Pensiunan AT&T Robert K. Greenleaf (1977-2002) bahkan mempertajam itu dengan memperkenalkan istilah “Servant Leadership.” Model Kepemimpinan ini mencoba mendobrak model otokratik dan hirarki yang menghambat. Model ini melibatkan orang lain dalam pengambilan keputusan, atas dasar perilaku etis dan kepedulian, dan memperhatikan pengembangan karyawan/bawahan sambil meningkatkan kepedulian dan kualitas hidup organisasi.

Banyak orang yang sering berpikir bahwa ‘Melayani’ dan ‘Memimpin’ adalah dua kata yang bertolak belakang, sama seperti kedua talent muda tersebut. Maka saya pun melanjutkan pertanyaan kepada mereka:

Tanya: “Hasil kerja kalian (atas suruhan atasanmu) sebetulnya untuk siapa??”

Jawab: “Untuk kepuasan pelanggan kami.”

Tanya: “Kalau begitu, apakah bukan berarti, pelayanan atasanmu ditujukan kepada pelanggan?? Dan untuk bisa memberikan pelanggan kepuasan maksimal, atasanmu juga dari waktu ke waktu peduli pada pengembanganmu, membantumu dalam situasi yang sulit, dan menggandengmu untuk berlari lebih cepat lagi dalam kariermu. Bukankah itu berarti atasanmu sedang melayanimu??

Dan dalam konteks ini, Servant Leader tidak akan menjalankan tugasnya dengan maksimal, kalau tidak punya jiwa melayani.

Larry C. Spears, dalam ‘The Journal of Virtues and Leadership,’ yang mencoba memahami konsep Greenleaf, memberikan kita 10 Karakter Servant Leadership:

  1. Listening.
  2. Empathy (apalagi kalau bisa sebagai empathethic listener).
  3. Healing (memperbaiki hubungan antar manusia yang bermasalah).
  4. Self-awareness (terutama dalam memahami situasi yang melibatkan etika, kekuasaan dan values, maka dia akan selalu melihatnya secara holistic).
  5. Persuasion (pedekatan, bukan pemaksaan dengan kewenangan).
  6. Conceptualization (berani bermimpi dan keluar dari rutinitas).
  7. Foresight (mampu melihat hasil ke depan, termasuk intuisi yang kuat).
  8. Stewardship (yang menekankan trust, keterbukaan dan persuasi).
  9. Commitment to the growth of people (karena percaya akan intrinsic value dari setiap karyawannya, maka dia akan terus berupaya untuk investasi di bidang pengembangan karyawannya secara personal maupun professional).
  10. Building community dalam organisasi tempat mereka bekerja.

Kata Greenleaf:  “All that is needed to rebuild community as a viable life form for large numbers of people is for enough servant-leaders to show the way, not by mass movements, but by each servant-leader demonstrating his or her unlimited liability for a quite specific community-related group.”

Kami memang belum sempurna, namun dalam mempraktekkan konsep ini, HR Directors Forum, kumpulan Direktur HR dari beberapa perusahan terkemuka di Indonesia, sepakat untuk men-develop modul-modul training untuk karyawan HR di semua perusahaan anggota tersebut. Dan fasilitatornya adalah kami yang men-develop modul itu. Foto di atas adalah Tim yang sedang mempersiapkan modul  keempat “Engagement and Retention,”di hari Kamis malam, 12 September lalu.

Penutup

Sejak diperkenalkan oleh Greenleaf, banyak penulis buku leadership yang gencar menggunakan istilah dan konsep Servant Leadership sebagai bagian dari konsep leadership di abad ke 21. Bahkan ketika saya ketik di mesin pencari Google dengan kata kunci “book about servant leadership,” dalam 0.34 detik sudah tampil di layar sebanyak 20.600.000 temuan artikel.

Ini berarti kesadaran akan karakteristik Pemimpin yang Melayani semakin mengedepan, walaupun tetap menjadi tantangan berat bagi banyak pemimpin di masa kini dan masa mendatang. Selagi kita menunggu munculnya berbagai pimpinan seperti itu, marilah kita mulai dari diri sendiri, belajar menjadi Servant Leader, dan menginspirasi lebih banyak orang lagi, terutama mereka yang berada dalam “Our Circle of Influence” untuk juga menjadi Servant Leader.

Servant Leadership does not require perfection; what it needs is a process involving dignity and civility and competencies that will equip, inspire and encourage others to become servant leaders. (Dr. Tony Baron, The Art of Servant Leadership)

Bookmark and Share

13 Responses to Loh Pemimpin kok Melayani?

  1. leonard says:

    Good thoughts Pa Josef. Sayangnya masih banyak perusahaan yang belum berhasil menerapkannya….

    • josef josef says:

      Terima kasih Leonard, lupakan sementara Perusahaan, dan mari kita mulai dari diri kita sendiri, ketika kita jadi pemimpin kita terapkan ini, kalau memang diperlukan. Salam

  2. Doris Maruli Purba says:

    ..seorang pimpinan akan memfasilitasi, menyediakan & medukung segala aktifitas bawahan u/ meningkatkan produktifitas bawahan untuk melayani
    Terima kasih Pak Josef. Salam

  3. albert tanoni says:

    Excellent Pak Bataona.appreciate for the sharing.

  4. Darwin F. Manao says:

    Thanks Pak Josef, seperti yg pernah Pak Josef share, “If your action inspire others to dream more, do more, and become more…you are the leader”. Dalam hal ini tentunya dalam hal Melayani. Izin share ya Pak…Tuhan Memberkati

  5. Banis says:

    Very inspiring… semakin pemimpin melayani, semakin ia dicintai oleh bawahannya.. <3

  6. zul says:

    “Good article Mr. Josef, thank you for u’r enlightenment”.

    • josef josef says:

      Terima kasih Achyar, atas komen dan waktumu mengunjungi blog ini

      • Dr. Baharuddin says:

        Terima kasih Pak Josef. Masalah yang paling besar untuk mengimplementasikan pendekatan ini adalah budaya kerja yang masih kita amalkan sekarang. Memang susah untuk mengajar ketam untuk berjalan betul.

        • josef josef says:

          Dear Dr. Baharuddin, terima kasih untuk kunjungannya ke blog dan catatan tambahan ini. Kalau saja setiap kita mulai refleksi dan memulai dari kita sendiri, kiranya banyak yang akan tersentuh untuk mengikuti contoh tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life