Posted on May 27th, 2016
“Great leaders are willing to sacrifice the numbers to save the people. Poor leaders sacrifice the people to save the numbers.” (Simon Sinek)
EMBRACE MILLENIALS within you! Kata-kata MC hari itu membuat hati saya menjadi sejuk. Karena ketika saya melihat sekitar saya, serasa berada di planet yang berbeda, karena sebagian besar peserta/undangan yang hadir hari itu adalah generasi yang lebih muda dari saya.
Tapi apakah perlu mempertentangkan ini? Saya hadir setelah diundang DDI di program “Talking Millenials, The New Game of Leadership”, untuk terus berusaha memahami yang namanya Millenial.
Semakin berusaha mengenal mereka, semakin sadar bahwa saya belum banyak paham. Sebagai leader saya harus terus membuka diri untuk belajar, berbicara dengan mereka untuk mengenalnya, dan tentu saja banyak bertanya untuk mencari tahu. Slide berikut ini saja sudah cukup menggugah rasa ingin tahu.

Informasi Sudah Melimpah
Pengetahuan yang sudah disajikan di muka bumi ini rasanya sudah cukup banyak. Dalam 0.63 detik tampil 19,7 juta hasil ketika saya mengetik di google search kata Millenials. Banyak survey, banyak buku, banyak seminar yang sudah membahas topik ini dari sudut pandang yang berbeda-beda. Beberapa karakteristik Millenials dari survey peserta yang ditampilkan hari itu juga tidak banyak beda, seperti:
Curiosity, demanding, gadgets, ambitious, collaborative/teamwork, creative, innovative, Tech-savvy, work-life-balance, need clarity, confident, networking, social network/social media, lack of sense of urgency, dynamic, value, mobile, purpose driven, expect quick result, never settle, dll.
Apakah ada yang baru yang mengejutkan? Tidak juga. Dari gambaran itu saja kita sudah bisa membayangkan benefit apa yang bisa diperoleh, kalau organisasi bisa menumbuhkan budaya Millenials di tengah karyawan dan pimpinannya, bukan saja menerima kelompok millennials:
Innovation, Creativity, Effective & Efficient, Agility, New Ideas, Business Growth, Less Bureaucratic, fast paced, out of the box thinking, dll.
Kedua daftar tersebut di atas nampak sangat menggembirakan. Tapi bagaimana dalam prakteknya?
Banyak Perubahan Sudah Terjadi
Kita tinggalkan sementara ball room ini dan pergi ke dunia nyata. Dalam tulisannya di 39Consulting.com, 17 September 2015, di bawah judul “Why Should We Treat Millennials Differently?” Ken Taylor mengajak kita untuk mencoba melihat berbagai perubahan yang terjadi, dan apa kesamaan yang bisa menjadi titik pijak bersama, tidak peduli generasinya itu apa. Ken Taylor berpendapat:
“Every generation has trouble identifying with former and later generations. That’s mainly because we don’t share the same context during our formative years.”
Beberapa contoh yang Ken kemukakan terkait perubahan:
Ken Taylor pun berargumentasi:
“Because everything changes, each generation owns a special and unique background.”
Keunikan itu yang perlu dicari dan dipahami. Tapi lebih sering kita terbenam dalam mencari perbedaan dan kita lupa untuk membangun tim dengan mempertimbangkan sesuatu yang sebetulnya merupakan kesamaan.

Bertanya Itu Penting
Nenek moyang kita sudah lama mengajarkan, “Malu bertanya sesat di jalan.” Kita perlu dan harus bertanya! Tapi mengapa kebiasaan bertanya itu terkadang mengganggu sebagian mereka yang dituakan? Beberapa butir di bawah ini sekedar sebagai contoh:
Tanpa disadari bertanya seperti di atas juga merupakan kebutuhan kita semua.
Hasrat untuk Berkontribusi
Sedikit gambaran di atas mudah-mudahan bisa menjelaskan ada kesamaan landasan pijak yang bisa kita perkuat. Bukan saja millennials, kita semua ingin memberikan dampak besar dalam setiap apa yang kita kerjakan dalam organisasi. Karena itu bertanya sangat penting untuk mendapatkan kejelasan arah dan kepastian tindak. Kita ingin tahu apakah saya masih fit dalam organisasi bersama lainnya dalam perjalanan menuju masa depan.
Bertanya itu adalah sebuah bentuk “check and balance” yang pada akhirnya memberikan manfaat positif maksimum kepada organisasi, dan juga kepada perkembangan karyawannya. Dan semua kita melakukannya, tidak saja Millenials: Bertanya agar bisa memberikan kontribusi maksimal.
“The best leaders are readers of people. They have the intuitive ability to understand others by discerning how they feel and recognizing what they sense.” (John C. Maxwell)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...