Posted on July 4th, 2023
“A good coach can change a game. A great coach can change a life.” (John Wooden)
COACHING itu bukan sertifikat, walau perlu disertifikasi. Sertifikat sebagai coach menandakan bahwa seseorang sudah dianggap mempunyai skill dan knowledge yang memadai untuk menjadi seorang coach. Tapi mengumpulkan sertifikat coaching dari berbagai level tak akan ada artinya, kalau tidak mengimplementasi coaching sesuai tujuan awal belajar dan meraih sertifikat. Jadi coaching merupakan komitmen dari hati untuk membantu yang lain. Ketulusan mendengarkan untuk bisa secara tepat membantu coachee untuk memaksimalkan potensinya. Kita sering tidak menyadari potensi diri, banyak blind spots yang tabirnya perlu dibuka agar kita bisa melihat sendiri, bahwa dalam diri kita banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk tumbuh dan berkembang.
Relevansinya untuk Aparatur Sipil Negara (ASN)
Bila ceritanya seperti diatas, berarti setiap insan berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, di lingkungan dimanapun dia berada. Bisa di organisasi swasta atau kantor pemerintahan dan lain-lain. Namun sering terjadi, potensi diri yang bisa diberdayakan untuk berkembang, tidak nampak, tidak diketahui atau tidak disadari keberadaannya. Kita membutuhkan orang lain untuk menunjukan kepad kita, apa yang dikenal dengan blind spot. Dan semua kita punya blind spots tersebut. Dan salah satu tool ampuh untuk membantu kita adalah COACHING.
Menurut International Coach Federation (ICF), coaching adalah kemitraan dengan klien/coachee (orang yang dicoaching) melalui proses kreatif untuk menstimulasi pikiran coachee agar dapat memaksimalkan potensi diri dan professional mereka.
Coaching dapat membuka sumber imajinasi, produktivitas, dan kepemimpinan yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Ini berarti sangat penting untuk para pimpinan, termasuk pimpinan ASN untuk dibekali dengan kompetensi sebagai seorang coach.

LAN dan Panggilan Profesional
Beruntung sekali, para pimpinan Aparatur Sipil Negara, mendapat perhatian penting. Muncul kesadaran bahwa para pimpinan ASN hendaknya memiliki kompetensi sebagai seorang coach. Karena itu LAN mendapat tugas yang harus diemban, merumuskan kurikulum tentang Coaching untuk ASN. Saya diminta untuk berbagi pengalaman tentang implementasi coaching di sektor swasta, dan saya sanggupi mewakili GNIK (Gerakan Nasional Indonesia Kompeten). Bersama saya, juga hadir mba Widiatmanti Hantoro dari Kemenkeu, yang membagi pengalaman sejauh ini dalam melakukan training dan juga pendampingan untuk coaching. Mereka yang hadir adalah para trainer, yang bersama2 akan mempersiapkan kurikulum coaching tersebut.
Niat mulia untuk membekali para pemimpin Aparatur Sipil Negara dengan kompetensi sebagai coach, patut mendapatkan acungan jempol. Dan banyak pihak dari komunitas SDM, terutama para pegiat Coaching tentu siap sedia untuk membantu memperlancar program ini.
Intuitive Coaching Card
Banyak sekali model Coaching di masyarakat. Mana yang menurut bapa yang lebih relevan untuk kami gunakan? Begitu pertanyaan salah seorang peserta. Saya lebih cendrung untuk menjawabi pertanyaan ini dengan memberikan saran. Saya menyarankan agar mereka mengirimkan anggotanya ke beberapa sekolah coaching yang ada untuk belajar berbagai model. Dengan memperhatikan situasi dan budaya kerja di lingkungan pemerintahan, mereka kemudian meramu semua input tersebut dan menelorkan kurikulum model LAN. Namun fokus yang harus diperhatikan adalah, bagaimana membekali para pimpinan untuk benar2 menjalankan coaching. Bukan sekedar memiliki pengetahuan dan sertifikat coaching.
Saya juga berkesempatan memperkenalkan Intuitive Coaching Card (ICC), alat bantu untuk menggugah intuisi dalam menggali berbagai potensi diri. Dua peserta saya minta mengambil kartu ICC untuk menjawabi pertanyaan: Apa yang dilihat sebagai masa depan implementasi Coaching di ASN? Salah satu kartu yang dibuka, seperti ini.

Saya serahkan kepada imaginasi dan intuisi anda semua untuk menjelaskan pertanyaan tersebut menggunakan kartu ini. Karena ini sesungguhnya tujuan penggunaan kartu ICC tersebut, intuisi masing-masing kita digugah dalam menjelaskan gambar tersebut.
Merujuk pada definisi coaching menurut ICF diatas, maka Intuitive Coaching adalah bagian dari proses kreatif tersebut, yang tidak hanya menstimulasi pikiran atau sisi rasional dan obyektif dari klien tapi juga mendorong mereka untuk eksplorasi sisi intuisi dan inspirasi, yang sangat mempengaruhi pemahaman, pemilihan, pengambilan keputusan, munculnya ide, dan penentuan langkah dari klien.
Pengambil inisiatif di LAN mempunyai peluang besar untuk menggunakan model yang dianggap relevan. Mereka dipacu dengan waktu dimana perubahan juga berjalan sangat cepat. Kita doakan dan kita dukung semoga langkah ini membawa hasil maksimal untuk SDM Indonesia yang lebih tangguh.
“In the past a leader was a boss. Today’s leaders must be partners with their people… they no longer can lead solely based on positional power.” (Ken Blanchard)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...