7 Warisan Mama yang Tak Ternilai

Posted on December 20th, 2013

“A mother’s arms are made of tenderness and children sleep soundly in them.” (Victor Hugo)

HARI ITU, KAMIS 22 APRIL1999, adalah hari penting: Pembagian warisan peninggalan Mama Imelda. Dia meninggalkan kami jelang pergantian hari 13 April 1999. Wah.. apakah keluarga kami kaya??

Hasil rembugan saya dan ketujuh adikku, kami meminta Pastor Piter, adik kandungku yang akan memimpin Perayaan Misa Syukur, agar khotbah diganti dengan acara Pembagian Warisan. Pengamatan kedelapan anak tentang Mama selama hidupnya, kami tuangkan dalam “Tujuh Butir Mutiara Kehidupan Mama” yang kami anggap sebagai warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh Mama, dan bukannya harta duniawi.

Butir-butir tersebut dibacakan oleh masing-masing anak, dihadapan sekitar 100 warga lingkungan dan keluarga yang hadir, sementara saya yang sulung memfasilitasinya. Isinya seakan pesan langsung Mama kepada kami.

Warisan No. 1

Anakku, Tuhan mengirimkan rezeki untuk Mama dan Bapa dari berbagai sumber. Kami menikmati dengan penuh syukur. Tapi kenikmatan ini tak seberapa nilainya bila dinikmati sendiri. Kami akan lebih berbahagia kalau lebih banyak saudara yang turut menikmatinya. Dan Mama belajar bahwa dengan memberi, kami tidak pernah kekurangan.

Anakku, dunia ini penuh dengan rezeki. Terkadang rezeki orang dititipkan Tuhan melalui tangan kalian. Bukan harta yang ingin saya wariskan kepadamu, tetapi “Semangat membuka hati untuk peduli pada yang miskin dan terabaikan.” Lakukan ini sebagai peringatan akan daku.

Warisan No. 2

Anakku, Mama adalah manusia biasa yang juga berbuat kesalahan. Dan Mama akan berbahagia bila diampuni orang. Kalau Mama bahagia bila diampuni, maka saudara-saudara kita yang bersalahpun akan bahagia bila diampuni. Kita diajarkan doa: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami..”

Anakku, “Sikap mengampuni” ini tidak akan membuatmu kerdil, bahkan ini akan membuatmu berjiwa besar dan mendapat tempat di hati saudara-saudaramu. Ini adalah warisan tak ternilai bagimu. Laksanakan ini bila engkau ingin mengenang Mama.

Warisan No. 3

Anakku, dalam adat istiadat kita, keluarga tidak sebatas orang tua dan anak, tapi dalam lingkungan sanak keluarga yang lebih luas. Dan kita semua menginginkan “DAMAI.” Tapi dunia nyata penuh konflik, pertengkaran, beda pendapat, dan sebagainya. Kita tidak bisa hanya menunggu datangnya damai. Perlu peran aktif kita semua. Dengan segala keterbatasan, Mama sudah mencoba berperan aktif sebagai juru damai bila ada anggota keluarga berselisih paham.

Mama mencoba menengahi yang ngotot dalam perbedaan. Berupaya mengakhiri permusuhan berkepanjangan. Terkadang berhasil, tapi sering pula tidak mendapat tanggapan. Mama pernah alami pintu rumah ditutup untuk tidak terima Mama; harus berlutut memohonpun Mama sudah pernah lakukan demi “perdamaian.” Mama terus mencoba dan mencoba karena percaya upaya seperti itu sulit, tapi diberkati. Anakku, inilah yang Mama wariskan kepadamu, yaitu “Semangat sebagai juru damai.” Lakukan ini sebagai peringatan akan daku.

Warisan No. 4

Anakku, kita tidak pernah tahu kapan Tuhan menyapa kita. Kita mungkin tidak sadar bahwa kunjungan seorang saudara adalah cara Tuhan menyapa kita. Atau salam persahabatan seorang di depan rumahmu adalah sapaan Tuhan.

Bukalah pintu rumahmu lebar-lebar seperti Mama lakukan, untuk menyambut setiap tamumu, karena tamu yang datang seakan berkata (baik dengan suara atau dalam batin): “Semoga Damai Tuhan turun dan tinggal dalam rumah ini.”

Bila ada 10 tamu, kamu akan menerima 10 doa semacam itu. Anakku, kembangkan sikap seperti itu, seperti yang Mama tunjukkan. Bukalah diri dan rumahmu untuk siapa saja yang menyapa dan mengunjungimu, karena sebetulnya Tuhan yang menyapa dan mengunjungimu. Lakukan ini sebagai peringatan akan daku.

Warisan No. 5

Anakku, kebahagiaanku adalah bila berada di tengah keluarga terutama dengan kehadiran kalian 8 kakak beradik. Kebahagianku adalah bila melihat canda di kala sarapan pagi bersama. Kebahagiaanku adalah kala kalian tertawa gembira di seputar meja makan; kebahagiaanku adalah kala melihat senda gurau kalian sambil menghabiskan makanan kecil di balai-balai depan dapur.

Berkumpulnya kalian ber-8 di sini sudah lama saya rindukan, dan sekarang dapat saya saksikan.

Terimalah semangat kekeluargaan dan persaudaraan ini sebagai warisan dari Mama, dan teruskan kebiasaan ini sebagai peringatan akan daku.

Warisan No. 6

Anakku, berbeda dengan apa yang tampak dari luar, hidupku begitu indah, karena saya berusaha mengimbangi karya dengan do’a. Siang dan malam. Pagi dan sore; dalam susah maupun senang, semuanya saya bawakan dalam do’a. Dalam do’a, saya mendapatkan kekuatan; dengan do’a saya mengiringi anak-anakku dalam setiap langkah mereka. Semangat dan ketekunan dalam do’a ini merupakan karunia tak ternilai, yang ingin Mama wariskan bagimu. Terimalah ini, dan lakukan ini sebagai peringatan akan daku.

Warisan No. 7

Anakku, jalan yang benar penuh dengan batu sandungan. Banyak rintangan, banyak cobaan. Mama percaya bahwa di balik penderitaan itu ada kebahagiaan; di balik dukacita ada sukacita. Perjalanan hidup Mama penuh dengan derita fisik, silih berganti. Tapi Mama sungguh percaya bahwa di balik semua ini pasti ada sukacita.

Di akhir derita ini akan ada rahmat yang menanti, entah untuk saya sendiri atau untuk anak-anakku. Semua derita fisik ini saya terima dengan tabah; saya bawakan dalam doa kepada Tuhan untuk mohon pengampunan dan kekuatan. Kiranya buah derita ini dapat dipetik oleh keluarga, terutama anak-anakku.

Anakku, “Sikap tabah dan tekun serta penuh penyerahan diri kepada Tuhan” dalam menghadapi berbagai derita dan tantangan hidup, merupakan sebuah warisan yang saya berikan kepadamu. Jalankan itu setiap kamu menghadapi kesulitan dalam hidup, sebagai peringatan akan daku.

Dari Mama Imelda

Koleksi pribadi tersebut ingin kami bagi untuk para pembaca sekalian. Semangat dan do’a Mama untuk kami anaknya akan terus hidup bersama kami.

“A mother is she who can take place of all others, but whose place no one else can take.” (Cardinal Mermillod)

Bookmark and Share

18 Responses to 7 Warisan Mama yang Tak Ternilai

  1. Supandi says:

    Warisan yang sangat menyentuh pak dan it’s priceless…

    • josef josef says:

      Terima kasih Supandi, kalau kita bisa kompilasi pengalaman yang serupa dari teman2 semua, kita akan sangat kaya dengan pembelajaran tentang kehidupan.

  2. Terima kasih sharingnya, pak. Menyentuh. Jadi ingin meluk mama 🙂

  3. Damianus Rangga says:

    Terima kasih inspirasinya Pak Yosep, luar biasa warisan yang telah dibagikan pagi ini, apalagi diakhir tahun ini menjadi introspeksi. Apa yg dilakukan orangtua kita selama ini.Terima kasih Pak Yosep.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus, moment yang tepat untuk refleksi dan introspeksi, sekaligus mempertebal rasa syukur kita atas apa yang sudah dilakukan ibunda masing2

  4. Hanny says:

    Ternyata ini alasan Bapak menjadi orang yang “kaya”. Tujuh butir warisan yang luar biasa.
    Terima kasih inspirasi paginya Pak. Have a nice day…

    • josef josef says:

      Terima kasih Hanny, tidak semuanya mudah dilaksanakan, namun butir2 itu tetap ada di depan sebagai mercu suar kehidupan. Have a blessed day

  5. Efrata Bolung says:

    Wah ini baru Warisan sangat berharga Pak,, Terima kasih Pak Yosep

  6. elfi prawitasari says:

    membaca warisan ini sambil secara kebetulan di mobil mendengarkan Ave Maria by Paul Potts rasanya seperti Ibu Maria yang bicara pada saya untuk selalu belajar rendah hati, menerima dan mengasihi, mengampuni, bersyukur.. terima kasih Pak atas sharingnya yang penuh dengan kesederhanaan namun bermakna sangat dalam…

    • josef josef says:

      Terima kasih Elfi, refleksi pribadi yang akan membantu mindset diarahkan untuk menghayati, berpikir, berperilaku dan bertindak sesuai penghayatan positif tersebut. Dan radiasinya akan kuat terasa dilingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat. Saat itu, ketika orang bicara tentang ELFI, semoga semua label positif diatas akan meluncur begitu saja dari mulut orang2 itu. Itulah Personal Branding !

  7. agnes murniati says:

    Pak Josef, keren banget hiks hiks… God blesd you

  8. Doris Maruli Purba says:

    Terima kasih Pak Josef telah membaginya dengan saya. Salam Damai

  9. Theodorus Radja Ludji says:

    Terima kasih atas artikel yang inspiratif dari Pak Josef.
    Kebetulan saya juga pemuda kelahiran NTT, tepatnya di Kupang, dan saat ini tengah menuntut ilmu di Tanah Jawa, tepatnya di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.
    Bpk. Josef benar2 adalah contoh figur putra NTT yang berhasil di Jakarta, bahkan di tingkat nasional. Saya sangat mengidolakan Bapak dan berharap suatu hari nanti bisa mengikuti langkah sukses Bapak.
    Trima kasih dan Tuhan Memberkati Bapak sekeluarga !

    • josef josef says:

      Terima kasih Theodorus, dan salam kenal dari Jakarta. Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Ada sekitar 218 artikel di blog ini, yang berisi perjalanan saya sejak dari desa Lamalera Lembata. Ikuti terus posting berikutnya yang akan hadir setiap selasa dan jumat pagi jam 08:00. Kalau kamu percaya Bisa, kamu pasti BISA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life