Creating Moments

Posted on September 4th, 2026

“Cherish every moment spent with your family; they are the moments you’ll look back on with joy.” (Rachel White)

Kapal ferry express perlahan meninggalkan Merak. Lima mobil membawa 22 anggota keluarga menuju Bakauheni. Di Lampung, sepuluh anggota keluarga lainnya sudah menunggu. Di atas kapal, kami sempat berfoto bersama.

Sederhana saja. Tetapi kemudian saya berpikir, bukankah sebenarnya momen seperti inilah yang perlu kita ciptakan lebih sering dalam keluarga?

Kita sering mendengar ungkapan be there, be present dalam dunia pelayanan. Seorang customer service harus hadir untuk pelanggan. Seorang leader harus hadir untuk timnya. Tetapi bagaimana dengan keluarga? Apakah kita juga sudah being there and being present untuk mereka?

Bukan hanya hadir secara fisik. Tetapi benar-benar hadir: ngobrol, mendengarkan, bercanda, makan bersama, menikmati perjalanan, dan sesekali meletakkan kesibukan kita di luar pintu.

 

Arisan sebagai alasan untuk bertemu

Di permukaan, perjalanan ini hanyalah arisan keluarga. Tetapi kami tahu, arisan hanyalah alasan. Yang sesungguhnya kami cari adalah kesempatan untuk bertemu.

Kami sengaja memilih 9 kamar hotel Grand Mercure di tengah kota agar mudah mengunjungi keluarga yang tinggal di Lampung. Management hotel bahkan memberikan sentuhan kecil yang menyenangkan: foto saya dengan ucapan selamat datang muncul di televisi kamar. Kelihatan kecil. Tetapi bukankah kebahagiaan memang sering datang dari hal-hal kecil?

Di lobby hotel masih ada ornamen Dirgahayu Indonesia. Kami pun memanfaatkannya untuk berfoto bersama, keluarga demi keluarga. Foto-foto itu mungkin hanya beberapa detik.

Tetapi suatu hari nanti, ketika kita membuka kembali album foto, yang muncul bukan hanya gambar. Ada cerita. Ada wajah. Ada kenangan.

 

Yang dicari bukan tempatnya

Minggu itu, adalah hari yang kami tunggu. Semua berkumpul. Ada generasi senior. Ada generasi yang lebih muda. Ada anak-anak. Ada pasangan yang baru bergabung dalam keluarga besar.

Masing-masing datang dengan kesibukan, karakter dan kesenangannya sendiri. Ada yang senang berenang. Ada yang senang kulineran. Ada yang menikmati perjalanan dengan bercanda. Anak-anak bahkan punya kesimpulan sendiri: yang paling menyenangkan adalah naik kapal.

Mungkin karena executive lounge-nya. Mungkin juga karena mereka bisa makan dan berkumpul bersama. Jawaban polos itu justru mengingatkan saya: Anak-anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa untuk merasa bahagia. Mereka hanya membutuhkan pengalaman yang bisa mereka rasakan bersama orang-orang yang mereka cintai.

Ada yang bercerita bahwa perjalanan ini menjadi spesial karena untuk pertama kalinya ia, istri dan anaknya melakukan perjalanan cukup jauh bersama keluarga besar. Ada satu momen kecil yang sangat membekas: melihat anaknya yang baru 19 bulan begitu menikmati berenang di hotel sampai tetap ingin bermain meskipun sudah menggigil kedinginan. Bagi orang lain mungkin biasa saja. Tetapi bagi sebuah keluarga, itulah moment.

Kelak, mungkin anak itu tidak mengingat hotelnya. Tetapi orang tuanya akan mengingat wajah bahagianya saat pertama kali berenang bersama keluarga besar.

 

Family is our First Team

Dalam perjalanan seperti ini, saya kembali melihat keluarga sebagai sebuah small team. Beragam, tetapi satu. Ada perbedaan usia, karakter, kebiasaan dan cara menikmati perjalanan. Namun kami tetap bisa bergerak bersama. Bahkan dalam perjalanan, ada yang harus menentukan arah, mengatur ritme, membaca situasi, dan memastikan semua anggota rombongan tetap nyaman.

Ada peserta yang melihatnya dari perspektif yang menarik: Perjalanan bersama membutuhkan leadership. Tanpa arah dan tujuan, acara mungkin tetap berjalan, tetapi cerita tentang keseruan dan kebersamaannya bisa berbeda.

Saya tersenyum membacanya. Ternyata leadership tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Mungkin laboratorium kepemimpinan pertama kita justru ada di rumah.

Di sanalah kita belajar mengalah, mendengarkan, mengatur ritme, memberi ruang, peduli pada yang lebih lemah, dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal.

 

Generasi muda sedang melihat

Dalam keluarga, generasi muda memang perlu diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Tetapi pada saat yang sama, mereka sedang melihat kita:

Cara kita memperlakukan orang tua; Cara kita berbicara kepada pasangan. Cara kita memperlakukan saudara. Cara kita menghadapi perbedaan. Cara kita berbagi. Cara kita bersyukur. Mereka mungkin tidak mencatat semua itu. Tetapi mereka menyimpannya. Karena pada akhirnya, contoh kehidupan sering berbicara lebih lantang daripada nasihat.

Itulah sebabnya para senior dalam keluarga juga perlu saling mengingatkan: kehidupan kita sendiri adalah bagian dari pendidikan bagi generasi setelah kita.

 

Apa yang sebenarnya kita bawa pulang?

Kami makan seafood segar di Pondok Nelayan Lempasing. Ikan, cumi, udang, kerang. Semuanya segar. Harganya membuat orang Jakarta mungkin geleng-geleng kepala. Kesempatan juga untuk merayakan ulang tahun anggota. Kami menikmati kelapa muda, pelayanan yang cepat, kemudian kembali ke hotel.

Ada yang berenang. Ada yang berjoget ringan untuk “mengurangi berat badan” setelah makan siang. Semua menyenangkan. Tetapi ketika peserta kami minta menyebutkan apa yang paling menyenangkan, jawaban yang muncul justru bukan terutama soal makanan, tetapi: Kebersamaan.

Ngobrol. Bercanda. Makan bersama. Konvoi bersama. Bertemu keluarga yang lama tidak berjumpa. Bahkan salah seorang peserta mengatakan, pengalaman ini membuatnya ingin bekerja dan menabung lebih baik agar suatu saat bisa kembali menikmati pengalaman baru bersama keluarga.

Peserta lain menyebutnya sebagai collective memory, kenangan yang sulit diperoleh kalau kita berjalan sendiri. Saya suka istilah itu. Karena memang ada kenangan yang hanya menjadi milik kita. Tetapi ada kenangan yang menjadi milik kita bersama. Dan mungkin, itulah salah satu kekayaan terbesar sebuah keluarga.

 

Creating Moments

Saya semakin percaya bahwa kita tidak harus menunggu momen besar untuk bahagia. Tidak harus menunggu ulang tahun. Tidak harus menunggu perayaan. Tidak harus menunggu semua orang punya waktu luang.

Kadang kita hanya perlu sengaja menciptakan kesempatan untuk hadir bersama. Karena waktu terus berjalan. Anak-anak bertumbuh. Orang tua menua. Kesibukan datang silih berganti.

Dan suatu saat, yang tersisa mungkin bukan berapa banyak uang yang pernah kita kumpulkan, tetapi berapa banyak cerita indah yang pernah kita ciptakan bersama orang-orang yang kita cintai.

Perjalanan ke Lampung selesai. Lima mobil kembali menyeberangi Selat Sunda. Kami masih sempat makan siang bersama di Fery Batu Mandi, suasananya bahkan terasa seperti makan di rumah sendiri.

Yang kembali ke Jakarta bukan hanya lima mobil. Kami membawa pulang cerita. Membawa foto. Membawa tawa. Membawa kenangan. Dan mungkin, yang paling penting: membawa hubungan yang sedikit lebih erat daripada ketika kami berangkat.

Bukankah memang demikian seharusnya sebuah perjalanan keluarga? Bukan sekadar going somewhere. Tetapi creating moments that stay with us long after we return home.

“We may forget the places we visited, but we will remember the people, the laughter, and the moments we created together.”

(Bersambung di Jumat depan)

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....

Rani Wijaya:
Pak Josef, saya salah satu peserta di purna bakti ini dan senang sekali sudah mengulik AHA saya :...

josef:
Terima kasih Rina. Bisa juga refleksinya dibuat bertahap. Sepuluh tahun dari sekarang Rina mau jadi apa? Untuk...

Rina Ismariati:
Pertanyaan tentang, “Kalau hidup ini diibaratkan sebuah buku, apa judul bab berikutnya?” jujur bikin...

josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...


Recent Post

  • Creating Moments
  • Sebelum Pensiun, Sudahkah Kita Menyiapkan Diri?
  • Pertemanan yang Mendorong Pertumbuhan
  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan