Harmoni Sebuah Orkestra

Posted on March 1st, 2019

“It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences.” (Audre Lorde)

BERSATU karena kesamaan atau BERSATU karena berbeda. Kedua pernyataan tersebut bisa berdiri sendiri atau bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Hasilnya kita bisa menjadi tim yang solid karena perbedaan yang masing-masing kita miliki demi mencapai tujuan bersama.

Solid karena Perbedaan

Dunia ini berisi ragam bangsa, yang didalamnya berbeda Suku Agama Ras dan Antar Golongan (SARA). Dan semua pihak berusaha dengan berbagai cara untuk bisa menyatukan perbedaan itu, bukan dengan membuatnya sama. Kitapun mengenal beberapa semboyan: Bhineka Tunggal Ika, E Pluribus Unus, Unity in Diversity, dan lain2

Dan semua kita menyadari bahwa, kita memang beda, bukan saja dalam konteks SARA, tapi juga gender atau generasi. Di lingkungan keluarga saja kita bisa membuat daftar panjang perbedaan saat memutuskan makan apa dan dimana, mau liburan kemana, mau sekolah apa dan dimana. Karena itu sejak kecil kita sudah belajar bahwa kita memiliki banyak perbedaan, dan bagaimana kita bisa hidup bersama dengan damai dalam perbedaan itu.

Dalam sebuah organisasi, biasanya diperlukan talenta yang beragam. Mereka akan mengisi berbagai fungsi yang ada di dalam organisasi itu, dengan tuntutan keahlihan yang berbeda-beda. Sinergi maksimal akan diperoleh bila semua kita bisa menerima perbedaan ini, karena memang diperlukan perbedaan seperti itu. Namun demikian, Organisasi akan mencari apa yang akan menjadi pijakan bersama dalam melangkah. Pijakan bersama itu umumnya adalah Visi Misi dan Value. Dengan perbedaan yang semua kita miliki, kita akan bersatu meraih Visi Misi yang ditetapkan bersama, serta hidup sesuai dengan Value yang menjadi panduan hidup dalam organisasi, sekaligus menjadi perekat kebersamaan.

Orkestra

Gambaran yang paling pas untuk menjelaskan kedua unsur diatas adalah Orkestra. Disana berkumpul berbagai talenta dengan alat musik yang juga berbeda-beda. Namun dibawah pimpinan sang conductor mereka memiliki kesamaan tujuan, yaitu menciptakan harmoni musik untuk dinikmati pendengarnya. Namun ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan disini:

  • Semua unsur pemain sama pentingnya, karena masing-masing memberikan kontribusi demi mencapai tujuan bersama.
  • Mereka bisa saling menerima dalam perbedaan itu, bahkan tidak pernah mempermasalahkannya, karena tidak ada yang menganggap perannya lebih penting dari yang lain.
  • Semua anggota menerima tanggung-jawab yang sama saat latihan dan pentas, karena satu saja dari mereka yang tampil kurang sempurna akan berpengaruh pada performa seluruh tim

Bila tingkat kesadaran ini kita bangun dan senantiasa dibawa kemanapun kita pergi, maka berbagai perbedaan yang kita temui akan bisa kita terima untuk membuat hidup ini pernuh warna warni. Dan hidup warna-warni seperti itu yang lebih menggairahkan.

Inspirasi dari UBUNTU

Satu hal penting yang muncul dari pembahasan diatas adalah bagaimana semua unsur dalam tim itu bisa meredam ego untuk kepentingan bersama. (Tulisan dan foto berikut bersumber dari www.connectingdotz.com)

Suatu ketika anthropologist Jean-Pierre Hallet mengusulkan permainan kepada anak-anak suku Afrika. Dia menempatkan sebuah keranjang berisi buah-buahan di bawah pohon. Kemudian dia memberikan aba-aba kepada anak-anak itu, siapa yang lebih cepat lari menuju keranjang tersebut dialah yang akan mendapat semua buah-buahan itu. Saat dia memberi komando untuk lari, anak-anak itu malah berlari sambil bergandengan tangan untuk mengambil buah tersebut kemudian mereka duduk dan menikmatinya bersama-sama. Saat ditanyakan mengapa, anak-anak itu menjawab: “UBUNTU. Bagaimana mungkin satu dari kami menikmati kebahagiaan, sementara yang lainnya bersedih?”

 

Secara khusus, Ubuntu memberikan pengertian bahwa, kita tidak mungkin eksis sebagai manusia secara terisolasi:

“It speaks about our interconnectedness. You can’t be human all by yourself, and when you have this quality – Ubuntu – you are known for your generosity.”

Kita memang terlalu sering memikirkan diri kita sendiri, terpisah dari yang lain, padahal kita semua berhubungan, dan apa yang kita kerjakan tentu berdampak pada yang lain.

Filosofi Ubuntu memberi makna:

“I am who I am because of who we all are”

Apapun perbedaan yang kita punyai, pada kenyataannya kita semua terhubung satu sama lain, kita saling mempengaruhi dan semua kita adalah bagian dari umat manusia. Dengan menyadari ini, kita akan saling mengapresiasi, berhubungan dan peduli pada sesama umat manusia di muka bumi ini, seperti penjelasan Uskup Desmon Tutu pada petikan penutup dibawah ini.

“Regardless of our background or differences, we are all connected, we all influence each other in some way and are all part of the same human race.” (Desmond Tutu)

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan