Marah Itu Pilihan

Posted on December 16th, 2014

“Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets burned.” (The Buddha)

DESEMBER YANG BERSALJU di Amerika Serikat, tidak cukup untuk meredam amarah seorang penumpang VIP di penerbangan Korea yang akan lepas landas dari New York menuju Seoul, 5 Desember 2014. Kemarahan ini gara-gara seorang flight attendant menyajikan kacang tanpa bertanya dan masih dengan bungkusnya, bukan dalam tempat (piring) memadai sesuai prosedur service di pesawat itu. Apalagi si flight attendant tidak bisa menjawab secara benar pertanyaan sang penumpang tentang prosedur melayani kacang yang benar itu seperti apa.

Alhasil, sang penumpang itu akhirnya memerintahkan agar flight attendant yang melayani dia tadi langsung dipecat dan juga memerintahkan pesawat yang sudah siap-siap lepas landas untuk kembali ke gate dan menurunkan flight attendant tersebut. Penumpang VIP itu adalah vice president airline tersebut yang juga adalah putri dari chairman perusahaan penerbangan itu. (Sumber: Asia Economic Daily, 9 Desember 2014)

Alasan dan Cara yang Tepat?

Orang sering berujar, “Kalaupun seseorang perlu marah, harus dengan alasan yang tepat, pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat.” Namun demikian saya lebih cenderung menyarankan untuk “memilih untuk tidak marah.” Kenapa begitu, karena yang sedang dilakukan adalah sebetulnya memberikan feed-back.

Apakah “marah” dilakukan agar orang lain tahu bahwa kita marah dan tujuannya adalah melampiaskan emosi?? Atau supaya orang yang dimarahi tidak melakukan perbuatan yang sama lagi?? Bila yang terakhir ini merupakan tujuannya, maka ada banyak cara feed-back yang lebih elegan untuk dilakukan.

Mengapa harus marah? Orang bisa berargumentasi bahwa itu merupakan luapan emosi alami. Tapi pengalaman banyak orang juga menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk menunda atau bahkan meredam kemarahan.

Dan yang paling penting adalah: Marah itu Pilihan. Ada sepersekian detik waktu untuk memutuskan untuk marah atau tidak, seperti kata A.S. King: “Only you can allow yourself to be angry.

Berlebihan atau Bertanggung-jawab?

Sang Vice President (VP) tersebut memang in charge untuk in flight service, dan sangat kecewa bahwa flight attendant tidak memberikan pelayanan mengikuti tata cara yang seharusnya tentang menyajikan kacang. Ada juga tanggapan yang bernada membela, bahwa kemarahan yang bersangkutan itu wajar sebagai bagian dari tanggung jawabnya.

Tapi apakah perlu memerintahkan pesawat untuk balik ke gate untuk menurunkan flight attendant yang dipermasalahkan? Toh, sangsi bisa saja diberikan setelah pesawat mendarat di Korea.

Atau komentar lain yang mencoba membenarkan: ini merupakan suara customer terhadap pelayanan penerbangan yang selama ini memang kurang memadai. Tapi apakah perlu mengorbankan 250 penumpang yang harus menunggu dan terlambat lepas landas untuk urusan sebungkus kacang?

Perilaku ini dilihat masyarakat sebagai “berlebihan” dari seorang penguasa di perusahaan. Apalagi belakangan, seperti dilansir BBC News Asia, 13 Desember 2014, diketahui juga bahwa flight attendant tersebut juga dipaksa berlutut untuk minta maaf pada sang VP.

Tidak heran kalau berbagai label negatif bermunculan baik untuk yang bersangkutan, maupun untuk maskai penerbangannya. Bahkan sampai ada gerakan masyarakat di negaranya untuk memboikot penerbangan tersebut, karena kata pengguna social media di sana: “Kejadian itu memalukan bangsa.

Dampak dari kejadian tersebut bukan saja bagi pribadi sang VP tapi juga menyangkut reputasi perusahaan. Perusahaan harus membayar mahal dan perlu waktu lama untuk memulihkan kembali image negatif tersebut.

Maaf yang Tulus

Sang VP memang sudah memutuskan untuk mengundurkan diri, diiringi dengan pernyataan: “I am sorry for causing trouble to the passengers and the people, I seek forgiveness from those who were hurt by what I did.

Harapan kita semua, semoga ungkapan penyesalan tersebut di atas keluar dari hati tulus yang bersangkutan, bukan sekedar standar response yang keluar dari computer corporate comunication.

Kita juga diberikan beberapa pelajaran berharga:

  • Belajar untuk meredam kemarahan, karena kemarahan akan memberikan dampak negatif, bukan saja pada yang dimarahi tapi juga kepada diri sendiri.
  • Bukan orang lain yang menjadi penyebab kita marah, karena marah itu adalah pilihan kita sendiri.
  • Pemimpin di puncak akan selalu menjadi contoh. Semua mata karyawan akan tertuju ke sana untuk mencontoh.
  • Kekuasaan bisa besar, tapi tidak harus digunakan secara berlebihan.
  • Kemarahan yang berlebihan bisa jadi menunjukkan jati diri yang bersangkutan, seperti kata Amit Kalantri: “The most dangerous irony is, people are angry with others because of their own incompetence.

Semoga kita cukup belajar dari kejadian ini, tidak perlu harus belajar dengan melakukannya sendiri.

Your smile can heal thousands; but your anger can kill millions. Your “hand-shake” can encourage tens of people while your “finger-pointing” can turn ten thousands away from you!”  (Israelmore Ayivor)

Bookmark and Share

4 Responses to Marah Itu Pilihan

  1. Elfi says:

    Baik sekali Pak artikelnya, menjadi reminder untuk kita dalam menjalani keseharian kita dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak pernah lepas terpapar masalah, seperti di rumah, di jalan, di kantor, di lingkungan/ komunitas, dll. Kita seringkali marah karena suatu masalah, tanpa sadar kemarahan kita justru lebih mendatangkan masalah dan kerugian yang lebih besar dan luas dampaknya daripada masalah awalnya. Akhirnya tujuan memberi feedback malah tidak tepat sasaran. Terima kasih Pak untuk point2 pelajaran berharganya.

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 Elfi. Kesadaran akan dampak tindakan tersebut merupakan langkah awal yang positif. Membunyikan klakson mobil berkali2 karena kesal dg pengendara motor ? Ngomel sendirian di mobil karena mobil sebelah ambil jalan kita ? Dan masih banyak lagi contoh, dimana energi terbuang, sambil dampak negatif malah kena pada kita sendiri. Melakukan inisiatif untuk menunda, atau bahkan memilih untuk tidak marah adalah bijak.

  2. Hari says:

    Pak Jos, mohon berbagi tip untuk melatih pengendalian diri untuk tidak marah dengan cara yang tidak tepat baik kepada bawahan maupun keluarga (meledak-ledak, teriak, memaki-maki, dsb). Seperti yang pernah Pak Jos tulis saat anak buah Bapak tanya kenapa Pak Jos kenapa Bapak tidak marah padahal ybs telah membuat kesalahan.Terimakasih Pak Jos. Tuhan memberkati

    • josef josef says:

      Terima kasih Hari untuk waktunya menyimak tulisan ini dan membuat komen disini. ikuti terus tulisan2 berikutnya yang akan menyentuh aspek ini. Sebagai langkah awal: Belajar mendengarkan lawan bicara, untuk memahami. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET