Posted on January 21st, 2022
“Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it.” (Lou Holtz)
KESEMPATAN belajar bisa dari mana saja. Kesempatan untuk meraih mimpi bisa dimana saja, dengan bantuan siapa saja, asalkan kita membuka hati dan pikiran kita untuk menerima kesempatan yang dihadirkan alam semesta kepada kita. Lebih bermakna lagi, kalau pengalaman dalam meraih sukses di tanah harapan, bisa diangkat menjadi pembelajaran berharga bagi orang lain yang membutuhkannya.
SDM Unggul di Sektor Migran
Banyak sekali pembahasan tentang Pengembangan SDM Unggul di tanah air, termasuk selama masa pandemi. Namun perlu disadari, bahwa selain SDM yang ada di Indonesia, ada juga sektor Migran yang mudah-mudahan mendapat perhatian berimbang. Jumlah PMI ( Pekerja Migran Indonesia ), merujuk pada hasil laporan dari World Bank tahun 2017, diperkirakan ada 9 juta di luar negeri. “Penempatan terbanyak ada di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Arab Saudi, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan,” kata Direktur Pembinaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) Kementerian Ketengakerjaan , Eva Trisiana. (Sumber: SINDOnews.com pada Rabu, 10 Maret 2021 oleh Michelle Natalia dengan judul “Ada 9 Juta Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri, 7 Negara Ini Mendominasi Tujuan”.)
Saya jadi tertarik, saat diminta untuk memberikan kata-kata endorsement pada penerbitan sebuah buku tentang Pekerja Migran, berjudul Hongkong, Kisah Pekerja Migran Indonesia Menjejak di Tanah Harapan. Buku ini juga mendapat perhatian Menteri Tenaga Kerja RI, Hj. Dr. Ida Fauziyah, M.Si, yang berkenan memberikan sambutan di buku ini. Penulisnya adalah Fransiska Sari, mantan Pekerja Migran di Singapore dan Hongkong.

Kontribusi Penting Pengembangan SDM
Menyimak seluruh isi buku KISAH PEKERJA MIGRAN MENJEJAK TANAH HARAPAN, HONGKONG, saya melihatnya lebih dalam dari sekedar berbagi pengalaman pekerja Migran di Hongkong. Demikian saya mengawali kata-kata endorsement untuk penerbitan buku HONGKONG.
Hemat saya, ini merupakan kontribusi penting bagi pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia), sektor Pekerja Migran. Buku ini menyajikan berbagai cerita nyata yang dialami, sekaligus tips untuk calon Pekerja Migran. Sering kita mendengar ada perasaan terpaksa saat mereka memilih karya sebagai Pekerja Migran, namun dengan membaca buku karya Fransiska Sari ini, diharapkan para calon Pekerja Migran bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas sebelum mengambil keputusan. Dan mereka juga akan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan. Karena itu saya pribadi menyambut baik hadirnya buku ini, untuk melengkapi persiapan dalam memilih karya sebagai Pekerja Migran.
Belajar Rendah Hati
Dengan cermat Fransiska bercerita pengalaman sendiri, tapi juga yang dialami teman2 seperjuangannya. Ya, mereka berjuang untuk meraih masa depan yang lebih baik, bagi diri mereka dan keluarganya. Secara terperinci, calon pekerja Migran dapat menyimak berbagai langkah dan persiapan yang harus dilakukan agar semua proses berjalan lancar. Bagi yang bekerja di rumah tangga, Fransiska menggaris-bawahi untuk mau menerima pekerjaan itu tanpa malu, serta belajar rendah hati.
Sambil memperingatkan calon pekerja agar melakukan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab, harus juga siap untuk menerima koreksi bila pekerjaannya tidak memuaskan. Tahu jelas apa yang menjadi haknya yang perlu diperjuangkan, tapi juga jangan lupa akan kewajibannya.
Menarik juga kalau ada makna penting yang digaris-bawahi: dalam menghadapi tantangan: ingat untuk apa dan siapa anda saat memutuskan untuk menjadi pekerja migran. Dengan mengingat alasan utama ini, maka motivasi akan bangkit lagi.
Ada lagi tips sederhana tapi sangat powerful, Three magic words yang berlaku di masyarakat Hongkong; maaf, tolong dan terima kasih. Tulus meminta maaf bila melakukan kesalahan, berani meminta tolong bila membutuhkan dan rajin berterima kasih. Disamping itu, para pekerja hendaknya mempelajari cara bersikap, bertutur kata, cara melakukan suatu pekerjaan, beradaptasi dengan karakter majikan atau perbedaan cara pandang, dan lain-lain. Demikian tulis Fransiska.
Contoh Positif Yang Patut Ditiru
Bekerja sambil menjalin hubungan baik dengan ibu rumahnya, merupakan hal yang patut di pertimbangkan. Untuk itu perlu mengetahui cara majikan memberikan nilai bagi seorang pekerja migran asal Indonesia dibandingkan pesaing terdekatnya asal Filipina. Aspek yang dinilai adalah language, attitude, cooking, education. Fransiska Sari, mempelajari semua itu dan menerapkannya dengan cermat. Karena itu tidak berlebihan kalau mantan majikannya, Mrs. Wong berkenan memberikan kata-kata penutup, sebagai epilog dari buku HONGKONG, yang sebagian saya kutip berikut:
“She became part of my family throughout the long service years (8 years). She helped me to take care of my two kids since they were born and until they were eight years old and five years old. I think good communication is an important clue for keeping a steady and good relationship between us. Even though she needed to return to her home country, we always keep in touch and wish her the best for her and her family.”
Menurut saya, kalimat-kalimat cantik dari sang majikan tersebut merupakan penilaian positif atas kinerja dan perilaku Fransiska Sari selama 8 tahun. Faktor ini juga yang menjadi motivasi Fransiska untuk menuliskan pengalaman untuk dibagi kepada Calon atau Pekerja Migran, sebuah kontribusi penting untuk pengembangan SDM Unggul di Indonesia.
“If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude.” (Maya Angelou)
Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...