Posted on August 3rd, 2012
If you do build a great experience, customers tell each other about that. Word of mouth is very powerful. (Jeff Bezos, CEO Amazone.com)
DEWASA INI, dunia terasa sangat kecil. Jarak sudah tidak ada masalah, terutama kalau kita bicara tentang mengirim berita, barang atau uang.
Namun tidak demikian halnya, kalau kita kembali ke tahun 1970-an.
Kantor Pos memainkan peran yang luar biasa, baik untuk pengiriman barang, surat ataupun uang. Tapi bagaimana kalau kampung halaman saya jauh dari titik pelayanan Kantor Pos terdekat??
Untuk memudahkan pemahaman situasi waktu itu, harap membaca terlebih dahulu artikel yang berjudul:
“Rp 10.000 yang Menentukan Masa Depanku”
Artikel itu bercerita tentang perjuangan saya di awal kuliah pada tahun 1974. Setelah saya bisa bernapas, maka di tahun 1975, saya mulai berpikir untuk mengirimkan uang untuk orang tua di kampung. Tidak banyak, tapi bukan nilai rupiah yang ingin saya ceritakan, tetapi proses pengirimannya.
Setelah mencari informasi kesana-kemari, saya akhirnya menemukan bahwa cara tercepat mengirim uang, adalah melalui jalur misi katolik. Uang yang saya setorkan di kantor misi di Jakarta, akan dikirim ke Prokurator Pusat di Surabaya. Selanjutnya akan berpindah ke Prokurator Wilayah di Larantuka.
Di kantor ini, mereka akan mengirimkan melalui rekening pastor setempat. Berita akan dikirimkan kepada Pastor di kampung saya. Namun karena dia tidak selalu berada di kampung, disebabkan berbagai tugas ke kampung-kampung lainnya, berita pengiriman uang bisa diterima dalam beberapa minggu kemudian.
Dan lama perjalanan uang tersebut sejak disetor di Jakarta sampai di tangan orang tua saya di kampung kurang lebih 3 bulan. Namun kami bersyukur bahwa ada tangan yang membantu untuk bisa meneruskan uang kiriman itu kepada orang tua kami. Proses ini terjadi hingga tahun 1986.
(Keterangan foto: Suasana Kantor Pos Jakarta 1971, diambil dari website PT Pos Indonesia)
Suatu saat saya pergi ke Kantor Pos di Mayestik, Jakarta Selatan, untuk mengirim uang untuk adik saya. Sambil ngobrol dengan Kepala Kantor Pos di sana, saya mengungkapkan keluhan, “Bagaimana mungkin sudah lama bangsa ini merdeka, tapi untuk mengirim uang untuk orang tua di kampung saja sulitnya setengah mati.”
Kepala Kantor Pos pun kaget, dan bertanya, “Apakah bapak pernah mendengar tentang fasilitas Wesel Berlangganan?”
“Apa itu?” tanya saya, yang kemudian saya mendapatkan jawaban, bahwa Wesel Berlangganan merupakan pelayanan yang di buat terutama untuk para mahasiswa yang kuliah jauh dari orang tua.
Setelah mendapatkan penjelasan detail, saya pun langsung menyetujui untuk mulai menggunakan pelayanan Wesel Berlangganan, yang cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Komitmen Kantor Pos untuk Pelayanan Prima
Pelayanan ini kami gunakan hingga tahun 2000, di tahun mana kami beralih ke transfer bank. Namun 14 tahun pelayanan Kantor Pos sungguh melegakan.
Lantas, apakah tidak ada masalah dalam pelayanan itu??
Suatu ketika, orang tua saya tidak menerima pembayaran sampai tiga bulan. Bulan pertama, adik saya ke kantor pos terdekat menanyakan perihal kiriman uang, jawabannya, “Belum menerima kontrak yang diperbaharui.”
Bulan kedua, jawabannya, “Maaf sedang ada pergantian pimpinan.”
Setelah bulan ketiga tidak ada jawaban yang memuaskan, adik saya menghubungi saya melalui telepon umum. Keluhan tersebut saya teruskan ke Kantor Pos di Mayestik.
Di luar dugaan saya, Kantor Pos Mayestik mengeluarkan surat laporan resmi, ditujukan ke kantor Pos Besar Bandung, dengan tembusan Kantor Pos Jakarta, Nusa Tenggara di Bali, kantor Pos Kupang dan Kantor Pos di Lewoleba Lembata. Bukan hanya itu. Tim Audit (inspeksi) diterjunkan dari Bali untuk mengunjungi unit sekecil Lewoleba (mungkin saja ini bertepatan dengan jadual inspeksi rutin).
Luar Biasa. Adik saya kebetulan lagi menunggu giliran untuk menanyakan nasib kiriman uang tersebut, ketika Tim Inspeksi datang ke Lewoleba. Sejak saat itu, hingga kami berpindah ke transfer bank, tidak pernah ada kesulitan apa-apa lagi.
Luar biasa sekali komitmen Kantor Pos untuk melayani masyarakat. Cara mereka menanggapi laporan kami, menunjukan betapa peduli mereka akan Pelayanan Prima. Terima kasih Kantor Pos. Karena mereka menganggap pelayanan mereka bukanlah job tapi JOY, seperti kutipan di bawah ini:
We shall serve for the joy of serving, prosperity shall flow to us and through us in unending streams of plenty (Charles Fillmore)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...