ORGAN Tua di Tanah Sumba

Posted on March 2nd, 2012

SERING orang mengatakan, apa yang kita alami sekarang adalah hasil dari apa yang terjadi di masa lalu. Tapi bagaimana kalau saya katakan sebaliknya? Apa yang saya alami sekarang adalah karena sesuatu yang akan saya alami di masa mendatang?

Seperti kata Charles Handy, “The future is not somewhere we travel to, it is something we create.

Selama belajar di bangku SMA, saya mempunyai kesempatan untuk belajar musik dan berkesempatan untuk menjadi dirigen koor (konduktor paduan suara) sekolah. Alat musik yang saya pelajari adalah organ model lama, yang harus digenjot pedalnya dengan dua kaki untuk menghasilkan angin, yang kemudian akan membunyikan tutsnya. Jadi organ tua ini tidak menggunakan listrik.

Lokasi sekolah kami terletak jauh di Hokeng, Flores Timur Nusa Tenggara Timur. Sebuah jarak yang tidak dekat dari mereka yang bisa dimintai bantuan, kalau saja organ kami rusak. Karena itu, setiap pemain organ harus mampu mengenali setiap detail alat musik itu dan mampu memperbaikinya bila rusak.

Akhir 1971, saya tiba di Waingapu, Sumba Timur. Pastor setempat memperkenalkan saya dengan tim koor yang sedang mempersiapkan diri untuk perayaan Natal yang hanya tinggal dua minggu lagi. Tapi (maaf), tim koor-nya masih setengah matang.

Saya pergi ke gereja dan melihat ada sebuah organ, dan menanyakan kenapa alat itu tidak digunakan? Ternyata sudah 5 tahun alat tersebut tidak disentuh karena rusak, padahal ada organisnya. Katanya tutsnya separoh bunyi, separoh tidak.

Berbekal pengetahuan semasa SMA, keesokan harinya saya mulai membongkar bagian belakang alat musik tersebut, dan tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan sumber permasalahannya. Lempeng tembaga di bawah tuts harus dicabut keluar, dibersihkan, dan semua beres hanya dengan menggunakan bensin.

Lempeng demi lempeng dibersihkan, dikeringkan dan di akhir hari itu juga sudah siap untuk dipasang kembali. Yang membuat lega, setelah dicoba suaranya yang nyaring mulai terdengar. Ini tentu saja mengundang tepuk tangan meriah dari seluruh anggota koor yang siap berlatih.

Malam menjelang Natal, 24 Desember 1971, di Gereja Waingapu menjadi sangat istimewa. Gegap gempita suara koor yang merdu diiringi suara organ, yang telah absen lebih dari 5 tahun. Ini mampu menciptakan harmoni Natal yang membuat seluruh umat terperangah, dan menjadi bahan pembicaraan tak ada habis-habisnya selama berhari-hari.

Pembelajaran selama SMA, yang saya jalankan dengan sungguh-sungguh, tidak disangka menjadi bagian dari “Divine Grand Plan” untuk diriku. Bahwa ketrampilan tersebut akan bisa menyentuh hati masyarakat Waingapu Sumba Timur, melalui suara merdu organ tua.

Dan ini menjadi perkenalan saya yang sangat bersahabat dengan masyarakat di sana, yang kemudian memberikan saya kesempatan untuk tinggal dan mengajar selama satu tahun sebelum akhirnya saya berpetualang ke Pulau Jawa. (*)

Bookmark and Share

14 Responses to ORGAN Tua di Tanah Sumba

  1. Hari says:

    Pak Jos, saya hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana Natal pada saat itu dan pasti menyentuh sekali.

    Apakah organ tua tersebut masih berfungsi sampai sekarang dan apakah sesudah menjadi seperti sekarang Bapak pernah menyentuh organ tua yang membawa kebahagiaan di Hari Natal tersebut, tentu luar biasa sekali.

    Salam,
    Hari

    • josef josef says:

      terima kasih Hari. Saya memang rencana mengunjungi Sumba bulan April nanti, tapi ngga begitu yakin apakah Organnya masih ada. Rasanya ngga ada yg mau cape ngegenjot pedal Organ tua kalau sekarang sdh ada Organ listrik.

  2. erlina says:

    Betul Pak…..Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan….apa yang terjadi sekarang itu untuk mempersiapkan kita di masa mendatang…Sip!

    • josef josef says:

      Setuju Erlina, Selama kita melakukan dengan sungguh2, dengan sepenuh hati, kita akan mendapatkan manfaat lebih jauh lagi, yang kita tidak tahu kapan datangnya. terima kasih Erlina

  3. Dear Pak Josef…saya sudah membaca beberapa tulisan Anda. Kenapa tidak dibukukan? Materi yang Anda tulis adalah semacam ‘guru jiwa’. Saya ingin terus membaca tetesan pena Anda selanjutnya…salam hormat Naning Pranoto

    • josef josef says:

      Terima kasih mba Naning. Saya baru mulai blog ini November lalu. Ini masih pada tahap recall berbagai pengalaman hidup dan menuangkan di blog ini secara nyicil dan acak. Mudah2an bisa ketemu pola untuk menyusun berbagai cerita ini dalam bentuk terstruktur seandainya harus dibukukan. saya sudah bangga dikunjungi oleh seorang penulis seperti mba Naning. Salam. kalau ke Pamulang, jangan lupa mampir

  4. massigit says:

    Kebetulan saat ini saya sering pindah tempat, sehingga saya sering berpikir bagaimana cara yg efektif agar cepat bisa berbaur dgn warga sekitar. Salah satunya dengan menggunakan keahlian yg saya miliki.
    Rasanya hidup ini akan lebih indah jika kita terus dapat bermafaat untuk orang lain. Bravo pak Jos.. 🙂

    • josef josef says:

      Indah sekali pandangan massigit ini. Sebetulnya kita memiliki banyak ketrampilan yang kita anggap hanya untuk urusan informal, untuk urusan excul, atau urusan di luar kerjaan utama. Ketrampilan seperti itu seringkali sangat berguna untuk menunjang kita disaat yang tidak kita sangka, dan sering membawa kejutan buat kita sendiri, kalau kita jeli untuk memanfaatkannya secara tepat. Terima kasih massigit telah mengangkat manfaat ini ke permukaan.

  5. Janet Poluan says:

    Dear Pak Josef, seems that everything you touch become gold. You are blessed.

  6. Fansi labi says:

    Tata, malam bae.Organ tua itu sudah tidak berfungsi lagi tapi kenangan itu masih berjejak. Semoga tata bisa ke Sumba Tanggal 29 Mei Nanti

  7. saiful hidayat says:

    dear pak josef,pengalaman bapak sungguh indah didengar dan dikenang walaupun itu sudah puluhan tahun,berbahagialah ketika kita bisa bermakna untuk orang lain.saya suka sekali membaca kisah ini,terima kasih pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Roy, pasti ada waktunya untuk masing-masing kita, sesuai kebutuhan. Salam sukses

roy:
Senang sekali bila malam itu saya bisa ikut bergabung, berbagi cerita, dan bersilaturahmi dengan pak Jos dan...

josef:
Terima kasih Denitri, pa Pungki sudah mulai membangun dialog untuk menemukan jalan agar CHRP bisa mendapat...

josef:
Selalu sehat dan jangan lupa olahraga rutin, serta ajak teman2 lainnya untuk ikut bersama2. Terima kasih Ratih

josef:
Terima kasih Ratih, kontribusi nyata bisa diberikan ditempat kerja, membuat diri kompeten karena terus...


Recent Post

  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat
  • Leading with Love
  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong