Perayaan Syukur Bersama Masyarakat

Posted on September 1st, 2015

“If you concentrate on finding whatever is good in every situation, you will discover that your life will suddenly be filled with gratitude, a feeling that nurtures the soul.” (Harold Kushner)

MENCERMATI berkat yang diperoleh dalam kurun 25 tahun, tentu sangat banyak kalau kita secara sadar terus menerus mengangkatnya untuk disyukuri. Kalaupun ada rintangan yang menghadang, itu lebih merupakan kesempatan untuk membuat kita tambah bijak, tambah kuat menghadapi badai yang mungkin saja lebih besar lagi di masa mendatang.

Minggu pagi, 16 Agustus 2015, diiringi koor anak-anak SMP dan tarian selamat datang, kedua Yubilaris: Pater Piter Bataona SVD dan Sr. Sintha Bataona CB melangkah menuju Altar, untuk misa konselebrasi oleh 10 pastor. Suara anak-anak yang bening menggema, membuat seluruh tubuh kita bergetar, ingin turut bergoyang bersama para penari. Dan seluruh indra diaktifkan untuk merekam apa yang terjadi selanjutnya.

Foto1

Kamu yang Menciptakan

Dalam kata pembukaan, pater Piter Bataona memaparkan:

“Bapa Ibu saudara/i sekalian yang saya cintai. Kalian semua sudah menciptakan hari ini, hari penuh syukur pada Tuhan, karena karunia imamat dan hidup membiara. Semua ini bukan jasa kami, kami tidak punya apa-apa untuk menyandang karunia yang begitu besar. Kami ada karena Tuhan membutuhkan kami untuk pelayanan. Hari ini tercipta karena kalian semua: hari yang sungguh indah.”

Foto2

Mereka Anak Biasa, Anak Desa Nelayan

Mewakili rekan-rekan pastor yang hadir, Pater Bernard menyampaikan dalam khotbanya, yang diawali dengan pertanyaan:

“Apakah kedua Yubilaris ini manusia istimewa?”

“Tidak! Kedua Yubilaris adalah manusia biasa, putra-putri desa nelayan seperti kita semua. Karena sentuhan dan panggilan Tuhan, mereka tampil beda. Mereka telah menjalani kehidupan mereka secara unik, karena mampu menguasai diri melalui tiga kaul utama: Selibat (tidak menikah), Kemiskinan dan Ketaatan. Mereka hadir disini membawa kesaksian bahwa mereka BISA dalam kurun 25 tahun lalu.”

Begitu diberi kesempatan untuk berbicara, Pater Piter Bataona menjelaskan makna tema Misa hari ini. Berikut kami sajikan penggalannya:

“Untuk apa kalian datang dari berbagai pelosok? Untuk melihat buih yang diombang badai, lihat deburan ombak pantai selatan, lihat kisah unik Lamalera?

Saya tidak merasakan ada sesuatu yang hebat dalam diri saya. Belum banyak hal yang dilakukan untuk sebuah perayaan Perak 25 tahun.

Di tahun, 1990, saya bertanya pada diri sendiri, apa makna hidup saya, mengapa saya dipanggil. Ketika kubuka alkitab langsung ditunjukan bacaan injil tadi. Tuhan Membutuhkan (Mat. 21:3)

Siapakah saya sebenarnya ?

Sebagaimana halnya keledai, saya tidak mencari mahkota kemuliaan atau kursi kepangkatan, tapi cukup seperti keledai. Saya hanya menjadi keledai tunggangan. Kalau saat itu orang banyak menghamparkan pakaian di jalan dan bersorak sorai, itu untuk dan karena sang Raja yang masuk kota Yerusalem,  Saya hanya sebagai keledai, siap ditunggang, demi kemuliaan Tuhan, demi pewartaan.”

Sebuah pengakuan yang tulus, sekaligus rendah hati, sebagai pelayan masyarakat. Tugas mereka adalah MELAYANI tanpa pamrih.

Lintas Suku dan Agama

Undangan yang datang dari luar Lamalera umumnya adalah sahabat kedua Yubilaris. Mereka datang dari pulau atau kota lain, termasuk dari Timor, Jakarta, Jogya. Panitia dengan rapih mengundang mereka untuk menginap di rumah-rumah penduduk. Menarik juga bila kita simak, mereka yang hadir juga sahabat dari suku dan agama lain.

Foto3

Pemandangan terasa sejuk, begitu melihat perhatian kerabat beda agama hadir menebar senyum gembira, menyatu dalam kegembiraan di Lamalera hari itu. Seakan menyampaikan pesan: “Kita semua bersaudara, yang hidup bersatu dengan rukun.” Dan ini bukan saja pesan tapi juga doa, yang hendaknya dikumandangkan tiada hentinya, oleh dan untuk kita semua.

Foto4

Tarian di atas, baru merupakan tarian mengantar Yubilaris dari rumah Adat Olalangu menuju rumah Besar Bataona. Perayaan di Lamalera memang belum sepenuhnya lengkap, bila semua yang hadir belum diundang makan dan menari bersama, tarian rakyat. Lebih lengkap, ikuti posting berikutnya.

“I believe that life is a journey towards God, and that no one has the right to insist that you go a certain road.” (Pat Buckley)

Bookmark and Share

4 Responses to Perayaan Syukur Bersama Masyarakat

  1. Vina says:

    Satu lagi budaya indah Indonesia…suatu keberuntungan dapat melihatnya secara langsung.

    Selamat untuk kedua Yubilaris, tetap semangat dan setia dalam karya-karya pelayanannya, Tuhan memberkati.

    Salam.

    • josef josef says:

      Terima kasih Vina, kekayaan budaya nusantara sungguh mengagumkan, semoga bisa terus dilestarikan dan menjadi fondasi positif menuju Indonesia yang lebih baik. Terima kasih atas kunjungannya ke blog dan menyimak kisah ini

      • Agnes Keraf says:

        Kutipan “Tuhan Membutuhkan” sangat tepat untuk 2 kakak-ku yang kubanggakan: Sr. Sintha dan Pater Piter. Juga menjadi peneguhan dan spirit bagiku. Jika “Tuhan membutuhkan” kita menjadi pelayan-Nya (meskipun kita tak pantas) tak ada yang dapat menghalangi. Tuhan juga-lah yang selalu memberi ‘jalan’ bagi kita dalam mengatasi aneka kesulitan….

        • josef josef says:

          Inspirasi perjalanan kedua Yubilaris sangat bermanfaat bagi banyak orang, termasuk kita, dan selanjutnya tugas kita juga untuk menginspirasi yang lain, melalui perbuatan nyata dalam hidup kita. Terima kasih suster sudah memberikan garis bawah pada tema perayaan ini. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET