Pulang Kampung dengan Bantuan Siaran RRI

Posted on March 30th, 2012

DALAM era seperti sekarang ini, membuat rencana perjalanan ke mana saja di penjuru tanah air, relatif mudah. Semua ini bisa dilakukan dengan hanya memencet keyboard di komputer. Tapi coba sesekali, bayangkan situasi di tahun 1977!

Setelah lebih dari 6 tahun meninggalkan kampung, rindu pulang kampung sudah sulit dibendung. Tapi bagaimana membuat rencana perjalanan yang ringkas? Karena di berbagai forum, saya menemukan bahwa banyak sahabat saya yang bahkan tidak tahu yang namanya Pulau Lembata, apalagi bicara tentang Desa Lamalera.

Setelah rencananya bulat, saya pun terbang dengan Merpati ke Kupang, Timor. Setibanya di sana, saya mencari informasi tentang bagaimana melanjutkan perjalanan ke desaku yang berada di pulau lain lagi. Dan pertanyaan yang paling sulit adalah bagaimana memberitahu keluarga di kampung untuk menjemput di pelabuhan.

Mengapa ini penting?

Saya menginap di rumah Om Matheus. Begitu saya mengutarakan pertanyaan tentang penjemputan di pelabuhan, dengan senyum dia menjawab, “nanti habis makan malam kita akan mengirim pesan.”

Dengan berjalan kaki, kami menuju ke sebuah gedung dengan menara tinggi… dan ternyata itu adalah studio RRI (Radio Republik Indonesia) Kupang. Kami menemui bagian pendaftaran, dan setelah beberapa waktu berselang, kami pun bisa mendengarkan siaran RRI Kupang, program “Berita Keluarga.”

Terdengar lantang:

“Berita ini ditujukan kepada bapak Sindolfus Srani Bataona di Lamalera Lembata’ dari anaknya Josef Bataona: akan tiba dengan kapal motor di pelabuhan Lewoleba Lembata, lusa, harap dijemput.”

Apa jadinya kalau tidak ada yang menjemput?

Dari Kupang, kami berangkat dengan kapal Fery menuju Waiwerang Pulau Adonara. Di sini, saya menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Lewoleba Pulau Lembata dan ini perlu menginap semalam lagi. Total menginap selama tiga malam.

Besok paginya sekitar jam 04.00, saya dan keluarga yang menjemput sudah harus berangkat berjalan kaki menuju kampung yang berada di sebelah Selatan Pulau Lembata. Jangan heran, berjalan yang dimaksud adalah jalan kaki sungguhan sambil memikul koper, naik-turun bukit, keluar-masuk hutan seharian.

Beberapa kilometer dari kampung, kaki ini tidak bisa diajak kompromi. Saya menyerah, tidak kuat lagi melangkah. Akhirnya saya harus berhenti untuk menunggu pertolongan.

Beruntung saat itu sudah sampai di pinggir pantai Selatan, dan hari itu bertepatan dengan ‘Hari Pasar.’ Jadi kami bisa titip pesan untuk meminta dijemput dengan sampan yang didayung.

Saya akhirnya sampai di rumah di Desa Lamalera sekitar jam 19.00. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, tetapi juga menyenangkan karena akan berkumpul dengan keluarga.

Apakah pesan radio tersebut diterima?

Ternyata tidak ada anggota keluarga saya yang saat itu mendengarkan RRI Kupang. Untung ada seorang bapa di kampung Lamalera A yang mendengar berita itu, yang kemudian meneruskan pesan tersebut ke rumah orang tuaku pada keesokan harinya. Luar biasa kekerabatan di desa, saling membantu dengan sukarela, hal yang seharusnya terus dipupuk.

Foto ini adalah saat saya bersama Om Matheus almarhum, ketika terakhir saya pulang ke kampung, 2011 silam. Kami masih sempat makan malam bersama, sambil berkisah tentang peran RRI tersebut di atas. Bayangkan kalau RRI tidak ada saat itu….

Terima kasih Radio Republik Indonesia, Sekali di Udara Tetap di Udara!

Baca juga:
Tentang Desa Lamalera, simak artikel, “Dari pantai ini semua kisah berawal” KLIK di sini.

Bookmark and Share

5 Responses to Pulang Kampung dengan Bantuan Siaran RRI

  1. Puput says:

    Saya suka cerita ini…sudah di baca 2 malam berturut-2…hehe..sekali lagi kayak minum obat y pak…
    Jadi kangen Kupang…waktu TK saya pernah nyanyi di RRI Kupang..hehehehe…
    Orang-orang yang hidup dalam kesederhanaan selalu tulus dalam melakukan sesuatu y pak..
    Hal sederhana memberi arti yang mendalam bagi orang lain.

    • josef josef says:

      Ini juga pertemuan luar biasa, saya ketemu seorang bintang penyanyi. Puput juga mengangkat suatu moment (RRI Kpang) yang bisa menggugah memori karena ada pengalaman Puput yang terekam sampai hari ini. Inilah asal muasalnya saya mau menulis berbagai kisah dalam perjalanan hidup saya, karena saya tidak sendirian dalam setiap moment. Ada juga yang yang akan tergugah memorinya, ada nostalgia dibalik itu, tapi juga ada pembelajaran yg ingin saya sodorkan, barangkali ada yang mau belajar dari sana. Semoga talenta nyanyi Puput pun masih dipupuk sampai sekarang. Salam

  2. mat pagi tata.. mohon ijin.. saya share tulisan ini ke forum ‘koteklema’ di facebook.. semoga bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik kita..
    selamat memasuki pekan suci.. tks..

  3. mat pagi tata..
    mohon ijin.. saya share tulisan ini ke forum ‘koteklema’ di facebook..
    semoga bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik kita..
    selamat memasuki pekan suci.. tks..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Roy, pasti ada waktunya untuk masing-masing kita, sesuai kebutuhan. Salam sukses

roy:
Senang sekali bila malam itu saya bisa ikut bergabung, berbagi cerita, dan bersilaturahmi dengan pak Jos dan...

josef:
Terima kasih Denitri, pa Pungki sudah mulai membangun dialog untuk menemukan jalan agar CHRP bisa mendapat...

josef:
Selalu sehat dan jangan lupa olahraga rutin, serta ajak teman2 lainnya untuk ikut bersama2. Terima kasih Ratih

josef:
Terima kasih Ratih, kontribusi nyata bisa diberikan ditempat kerja, membuat diri kompeten karena terus...


Recent Post

  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat
  • Leading with Love
  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong