RESPEK

Posted on March 17th, 2017

“If a mother respects both herself and her child from his very first day onward, she will never need to teach him respect for others.” (Alice Miller)

KATA INI sering kita dengarkan. Maknanya juga sederhana, mudah dipahami semua lapisan masyarakat dan semua usia. RESPEK!

Bukan sekedar sebuah kata, tapi kata yang punya makna sikap menghargai. Terhadap siapa?

Sejak kecil pun kita sudah diajarkan tentang hormat dan menghargai orang tua atau yang dituakan, saudara, keluarga. Dalam perjalanan hidup kita selanjutnya, daftar itu bertambah panjang, sehingga kita bisa sampai pada suatu titik di mana kita tidak perlu melihat siapa dia, apa pangkat dan jabatannya. Kita perlu respek pada sesama manusia, seperti yang dilakukan sahabat di foto ini, sambil tersenyum melambaikan tangan pamit pulang kerja, sampai jumpa besok pagi!

17 Maret 17_RESPEK

Sapaan Sederhana

Video pendek ini sedang beredar di WA (Whatsapp). Sangat menarik perhatian saya. Seorang karyawan wanita,di akhir jam kerjanya memasuki ruang pendingin tempat penyimpanan daging untuk memeriksa sesuatu. Tanpa disengaja, pintu tertutup dan dia terkunci di dalam tanpa ada yang bisa membantunya.

Sekuat tenaga dia berteriak dan memukul pintu tapi sia-sia saja karena tidak ada yang mendengarnya. Hampir semua karyawan telah pulang. Lima jam kemudian, di saat yang sangat kritis, seorang Satpam membuka pintu ruang tersebut dan melihat seorang wanita terduduk lemas kedinginan. Hari itu, secara ajaib wanita itu terselamatkan dari kematian.

Wanita itu menanyakan kepada Satpam, bagaimana dia bisa menemukannya? Satpam itu menjelaskan:

“Saya sudah bekerja di sini 35 tahun. Ratusan pekerja datang dan pulang usai bekerja, setiap hari. Banyak yang menganggap saya seperti tidak ada. Hari ini, kamu masuk kerja seperti biasanya dan menyapa: Selamat Pagi. Hanya kamu yang selalu menyapa saya. Dan sore usai kerja, saya penasaran karena saya belum mendengarkan sapaanmu: ‘Mari Pulang Sampai Jumpa esok.’ Saya putuskan untuk memeriksa seluruh tempat. Saya mencari ucapan Selamat Pagi dan Sampai Jumpa. Dengan ucapan salam sederhana itu, saya merasa dihargai. Dengan tidak terdengar ucapan sampai jumpa darimu hari ini, saya yakin pasti terjadi sesuatu padamu. Itulah sebabnya saya mencarimu ke setiap sudut gedung ini.”

Kisah sederhana yang saya tidak tahu sumbernya ini, bisa saja terjadi di banyak tempat dan kesempatan oleh orang yang berbeda-beda. Karena itu saya putuskan untuk mengangkat juga kisah berikut ini.

Perjalanan yang Mengubah Hidupku

Sungguh, ini adalah kisah yang diceritakan sendiri oleh Elizabeth Gilberts, penulis buku “Eat, Pray, Love“:

Di tengah kehidupanku yang sedang berantakan, saya memutuskan untuk pergi jauh selama 10 hari, sejauh mungkin ke tempat yang bisa saya temukan di peta, sebuah pulau nelayan kecil di Indonesia bagian tengah. Saya barusan bercerai, di mana saya kehilangan suami, rumah, uang, teman-teman, susah tidur dan bahkan kehilangan diri saya sendiri.

Di pulau ini saya menyewa sebuah gubuk bambu yang disewa hanya dengan beberapa dollar per hari. Niatnya untuk menyendiri. Dan memang di sana tidak ada internet bahkan saya tidak punya akses telpon. Sarana transportasi hanya ada perahu nelayan dan andong.

Rutin setiap hari, saya akan berjalan 2 kali sehari mengitari pulau, sekali di pagi hari dan sekali lagi di sore hari. Sembari jalan saya mencoba bermeditasi, tapi kenyataannya saya bergolak dengan diri sendiri tentang kegagalanku. Sisa harinya saya lebih banyak tertidur. Saya sangat depresi, tidak membawa buku, tidak berenang, jarang makan. Hanya berjalan dua kali sehari, dan selebihnya bersembunyi di pondok penuh kesedihan.

Ketika jalan pagi dan sore, ada seorang wanita, istri nelayan biasa yang memperhatikan aku. Pagi pertama ketika saya melewati rumahnya, wanita itu memandangiku sambil tersenyum. Saya pun membalas senyumnya sebisaku. Setelah itu, nampaknya dia selalu berdiri depan rumahnya ketika saya lewat di pagi dan sore hari, seakan-akan sedang menungguiku. Dia adalah satu-satunya human contact saya di bumi ini saat itu, dan perhatiannya sedikit memberikan saya perasaan bahwa saya tidak sendirian. Ketika saya menengok setelah melewatinya, nampak bahwa dia masih terus memandangiku.

Hari ke-8, saya jatuh sakit, mungkin keracunan makanan, demam keras, muntah-muntah dan ketakutan. Generator juga tidak berfungsi malam itu, jadi tidak ada lampu. Saya sempat merangkak ke kamar mandi sekitar 10 kali.

Saya hanya berbaring sepanjang hari berikutnya, keringatan dan dehidrasi. Saya merasa, ajal saya akan segera tiba di pulau itu sendirian dan ibuku pun tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padaku.

Sore harinya, ada yang mengetok pintu. Dengan kaki yang gemetaran, saya melangkah untuk membuka pintu. Ternyata wanita istri nelayan yang setiap hari mengamatiku berjalan kaki. Dia tidak bisa berbahasa Inggris, sementara saya tidak bisa Bahasa Indonesia. Tapi jelas bahwa dia sangat mencemaskanku maka dia berusaha mencariku. Melihat kondisiku, dia bahkan lebih cemas lagi. Dia memberi isyarat dengan jari seakan mengatakan, tunggu sebentar, lalu dia pergi.

Kurang dari sejam kemudian dia sudah kembali, membawa sepiring nasi dan beberapa daun ramuan serta satu kendi berisi air minum. Ia duduk di sampingku ketika saya menghabiskan makanan yang dibawa. Saya mulai menangis. Kami berdua saling merangkul seakan dia adalah ibuku sendiri.

Dia menemaniku sekitar sejam, walau tidak berkata apa-apa dengan tangan melingkar di leherku, seakan berkata: “Saya memperhatikanmu, engkau sungguh hadir, saya akan tinggal bersamamu, saya akan menjamin bahwa kamu selamat.”

Begitu dia pergi, saya pun menyadari, bahwa orang asing ini mencari saya karena dia tidak melihatku pagi dan sore hari itu. Dan dia berkesimpulan, sesuatu pasti terjadi padaku. Karena ini adalah pulaunya, tanah airnya maka dia tahu saya sedang menyendiri, makanya dia mencariku. Wanita sederhana ini merasa bertanggung jawab atasku dan berusaha menolongku.

Ketulusan hati wanita ini sungguh mengagumkan. Ribuan kilo meter dari rumahku, perbuatannya menyadarkanku bahwa apa yang sedang saya lakukan, mengurung diri, itu salah besar. Saya perlu koneksi dengan orang lain. Orang asing ini tahu betul kebutuhanku, karena itu dia menawarkan persahabatan. Melalui perbuatannya, dia mengajariku: “Jangan mengurung diri dan jangan sombong. Bangun kontak dengan orang lain dan biarkan kehadiranmu diketahui orang lain. Bantulah orang lain dan biarkan dirimu dibantu orang lain. Bukalah dirimu demi kebaikan.”

Sekembalinya ke rumahku, saya menuruti teladan wanita asing ini, saya mulai membangun kontak, membagi pengalaman. Saya mencari cinta dan pertolongan, dan akhirnya ini membuat saya oke kembali.

Kisah lengkap yang diceritakan sendiri oleh Elizabeth Gilberts, penulis buku “Eat, Pray, Love”, bisa disimak di link ini:

Elizabeth Gilberts: Story from Indonesia That You Havent Heard

Dua pelajaran menarik, sebuah sapaan sederhana pada Satpam dan senyum pada orang yang ditemui telah membuka mata kita semua bahwa kita semua adalah sesama manusia yang seharusnya saling menghargai satu sama lain, saling menolong dan saling mengasihi.

“I want to live in a world full of people who look into each other’s faces along the path of life and ask, Who are you, my friend, and how can we serve each other?” (Elizabeth Gilberts)

Bookmark and Share

16 Responses to RESPEK

  1. Rondang Silaban says:

    Nice Pak
    Kita memang hrs tetap menjalin relasi dgn semua orang. Karna pd dasarnya kira adl makhluk sosial,tidak bisa hidup sendiri.
    Kisahnya sangat menarik dan menginspirasi Pak.
    Salam sukses utk kita semua

    • josef josef says:

      Terima kasih Rondang, terkadang kita lupa justru untuk hal2 kecil seperti terima kasih sama OB yang berikan kita kopi di meja pagi hari, atau sekedar menyapa teman yg berpapasan di kantor. Tugas kita untuk saling mengingatkan. GBU

  2. Diana siregar says:

    Pak Josef…speechles pak, baca article bapak ini. Saya benar2 bahagia menunggu mingu demi minggu tulisan2 bapak.

    Benar2 luar biasa tulisan2 bapak. Saya baca, saya pahami, saya mengerti dan saya jalankan.

    Terima Kasih Bapak. Telah merubah hidup saya, hanya dengan rajin membaca santapan2 energi2 tulisan bapak.

    Bravo Pak Josef. Semoga Tuhan senantiasa melindungi dan memberikan banyak berkat buat Bapak sekeluarga

    • josef josef says:

      Terima kasih Diana, saya gembira kalau ada pembaca yang selain menyukai tulisan di blog, juga berniat untuk menjalankan sesuai pesan2 kebaikan di setiap tulisan. Dengan demikian kita semua akan terus saling belajar dan berbagi. Salam

  3. benny mamoto says:

    Cerita sederhana namun sangat menginspirasi…sangat mudah untuk dilakukan..terima kasih Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Benny, tantangannya justru disini: “sangat mudah untuk dilakukan” namun lebih sering kita lupa atau mengabaikan. Namun itu sudah terjadi. Kedepan harus lebih baik lagi

  4. Noni says:

    Very Inspiring Pak Josef…
    Membuka diri saya untuk tetap ingat menjadi seseorang yang rendah diri.

    Masih perlu belajar menjadi seseorang yang lebih baik lagi.. Aamiin

    Thanx untuk share nya Pak..

    • josef josef says:

      Terima kasih Noni, mungkin maksudnya bukan rendah diri tapi rendah hati. Bukan saja Noni, tapi kita semua termasuk saya akan terus belajar, untuk menjadi lebih baik besok dibandingkan dengan hari ini. Salam

  5. ceritanya inspiratif sekali, semoga saya juga konsisten untuk sll human connect dengan siapapun.

    Terimakasih sharingnya pak

    • josef josef says:

      Terima kasih Herva, berawal dari niat, lalu melaksanakannya berulang kali, semoga ini bisa menjadi kebiasaan. Salam

  6. It’s a wonderful story. Inspiring. Thank you for sharing it.

  7. Emi says:

    Saya sangat tersentuh dengan cerita Bapak. Semoga saya dapat terus belajar menjadi orang yang lebih baik. Terima kasih, Pak Josef.

  8. Agustinus Dolle says:

    Keren pak Josef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET