Rezeki Yang Patut Disyukuri

Posted on November 24th, 2023

“Spending money on others provides a bigger happiness boost than spending money on yourself.” (David Rae)

AKHIR MINGGU di awal bulan Nopember, saat banyak yang beranjak ke tempat tidur, saya berkesempatan untuk belajar dari Coach Hideki Wira, di F1Learning Pitstop, dengan tema Joyful Money. Tema yang sederhana kalau kita hanya melihat uang sebagai lembaran rupiah yang hadir dihadapan kita. Dan tentu saja nilai di lembaran itu bisa membuat seseorang bahagia atau tidak. Itu baru sekedar pengantar untuk pemanasan. Berikut halaman pertama screen shot webinar malam itu.

4 Kelompok Manusia

Dalam konteks joyful money, manusia dapat dikelompokkan dalam 4 kategori:

  1. Miskin dan tidak bahagia
  2. Miskin tapi bahagia
  3. Kaya tapi tidak bahagia
  4. Kaya dan bahagia

Definisi kaya atau miskin tentu saja relatif dalam kaitannya dengan besaran rupiah atau banyaknya harta. Namun ada yang konsisten dalam memotret yang tidak bahagia: berapapun yang diterima atau dipunyai tidak pernah cukup. Karena itu mereka tidak pernah mensyukuri yang ada di tangan. Ini membuka peluang untuk menjadi seraka, terus mengejar harta, dan terkadang dengan cara yang tidak terpuji. Dalam kaitan ini, uang yang diterima yang tidak merupakan haknya, tidak akan menjadi berkat untuknya dan keluarga yang turut menikmatinya.

Rezeki yang tidak membawa berkat, juga bisa berasal dari harapan berlebihan sehingga saat menerimanya, muncul kekecewaan, kekesalan atau bahkan muncul pemikiran negatif lainnya.

Bahagia Yang Selalu Bersyukur

Sementara itu mereka yang berbahagia, entah mereka kaya ataupun miskin, mempunyai kesamaan:

  1. Senantiasa mensyukuri apa yang diterima dan yang ada di tangan. Mereka bekerja dan berusaha untuk menafkahi keluarganya dari pendapatan yang menjadi haknya.
  2. Mereka ringan tangan untuk membagi/memberi, karena mereka menyadari bahwa rezeki yang mereka terima boleh jadi sebagiannya adalah titipan untuk yang lain.
  3. Mereka senantiasa merasa berkecukupan, dan tidak akan memaksa diri untuk mendapatkan lebih dari yang menjadi haknya.

Tanpa disadari, universe akan menghadirkan mereka yang senantiasa berpikiran positif membahagiakan seperti itu untuk mengantarkan rezeki kehadapan kita, saat dibutuhkan.

Mensyukuri Tunjangan Cuti

Di Perusahaan terdahulu, kami mempunyai tunjangan cuti sebesar sebulan gaji untuk semua karyawan di level manapun, dibayarkan bersama gaji April. Apa sebetulnya tujuan tunjangan tersebut? Karyawan mempunyai hak cuti, yang dimulai dari 12 hari kerja, dan bisa bertambah hingga 18 hari atau 24 hari bagi management. Tapi apa yang bisa dilakukan bersama keluarga tanpa uang? Muncullah ide menerapkan uang cuti, setidaknya sekali dalan setahun karyawan bisa merencanakan sebuah momen kebersamaan dengan keluarganya. Namun kebersamaan itu sering digabungkan dengan libur hari raya untuk pulang kampung, walau THR pun diberikan.

Dibalik semua itu, karyawan diharapkan untuk bisa mensyukuri bahwa:

  1. Salah satu elemen paket remunerasinya (Tunjangan cuti dan THR) bisa memberi kesempatan untuk merancang kebersamaan dengan keluarga
  2. Dengan bekerja di perusahaan ini, maka fasilitas asyik itu bisa didapat
  3. Karyawan berkesempatan untuk merancang sesuatu yang menambah makna bagi keluarganya, dimana kehadiran diri karyawan sepenuhnya ditengah keluarga saat liburan bisa dinikmati seluruh keluarga
  4. Tentu saja, karyawan dan keluarganya akan terus membangun harapan dan sekaligus berkesempatan menyukuri rezeki yang diperoleh dari kerja keras sepanjang tahun.
  5. Mereka diharapkan juga bisa mendoakan pimpinan dan perusahaan agar terus tumbuh dan berkembang untuk jangka waktu yang lebih lama.

Walaupun peruntukannya adalah untuk cuti, karyawan mempunyai keleluasaan menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lainnya, misalnya membeli perlengkapan rumah tangga, dan lain-lain. Labelnya adalah tunjangan cuti, yang diterima berbentuk uang. Namun dibalik bentuk fisik uang itu tertanam makna mendalam, kesempatan memupuk kebersamaan keluarga karena ada perlengkapan di ruang keluarga, ada kesempatan libur bersama, dan masih banyak lagi, yang bisa ada karena uang yang namanya tunjangan cuti.

 

Kebahagiaan Dalam Menerima dan Memberi

Kita memang disarankan untuk juga memberi, setelah menerima. Saat memberi, apakah hati dan pikiran kita iklas karena bisa melakukan sesuatu bagi kebahagiaan orang lain? Hal ini penting untuk disimak, karena keterpaksaan dalam memberi tidak akan menumbuhkan kebahagiaan. Sebaliknya, memberi dengan penuh keiklasan, membuka peluang untuk mengalirnya rezeki ke tangan kita, karena aliran tersebut bukan saja untuk kebutuhan kita sekeluarga, tapi juga untuk banyak orang lain. Universe mempunya cara unik untuk melakukan ini.

Pesan penting untuk kita semua: Berterima kasih dan Bersyukur saat menerima maupun saat memberi.

“Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.” (Oprah Winfrey)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih untuk testimoni Randy. Senang dengan progress yang dialami. Perjalananmu masih panjang, banyak...

Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...

josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...

Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...

josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....


Recent Post

  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama
  • Menjadi Cermin Kepemimpinan
  • RUANG Belajar dan Bertumbuh (Blog Seribu Tulisan)
  • Blog Seribu Tulisan – KATA Yang Mengubah Hidup
  • Blog Seribu Tulisan: Pesan Konsistensi
  • Saya Bukan Siapa Siapa Tanpa Kalian
  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI