Posted on September 5th, 2017
“That is your legacy on this Earth when you leave this Earth: how many hearts you touched.” (Patti Davis)
MOMEN HARI KEMERDEKAAN RI bisa menjadi momen perayaan di seantero tanah air. Cara merayakannyapun bervariasi. Kreativitas tidak hanya terbatas di kota besar. Di pelosok-pelosok pun ada saja program yang dirancang, selain yang rutin berupa mengibarkan bendera mera putih.
Warna-warni di Lamalera
Jauh di Lamalera Lembata Nusa Tenggara Timur, keluarga merancang sebuah acara sederhana untuk memeriahkan Peringatan Hari Kemerdekaan RI. Semua kami kakak-beradik dengan kaos merah dan mengenakan sarung khas Lamalera. Hari itu banyak yang akan hadir di rumah untuk saling berbagi cerita.

Warna-warni ini bisa nampak pula dari variasi tenun ikat yang dipakai oleh mereka yang hadir hari itu di rumah.
Acara utama yang bertepatan dengan 17 Agustus adalah kesempatan untuk bertatap muka dengan kelompok orang tua, jompo, janda, yang selama ini mendapatkan perhatian dari kerabat kerja yang menjadi perpanjangan tangan kami.
Petikan sederhana dari kata-kata Bunda Teresa yang tercantum di kaos biru tersebut sekedar meneguhkan bahwa kita bisa berbuat kebaikan dari hal yang kecil, asalkan kita melakukannya dengan sepenuh hati, dengan penuh kasih.

Kesempatan ini juga saya gunakan untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas peran serta mereka, para kerabat kerja, yang memungkinkan sejumlah orang tua, jompo dan janda di desa kami secara berkala mendapat perhatian. Mereka bisa merasakan bahwa mereka tidak sendirian. Ada yang memperhatikan mereka, tanpa peduli hubungan keluarga, hubungan darah. Yang ada adalah hubungan kekerabatan sebagai sesama manusia, sesama warga desa.
Warisan Mama
Dalam sapaan singkat, saya menyampaikan bahwa apa yang kami bersaudara lakukan adalah menjalankan pesan mama, yang bisa dibaca dalam Buku ‘Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku’.

Saya kutipkan butir warisan mama almarhum yang menjadi dasar acara kami hari itu dan hari-hari lainnya sepanjang tahun:
Warisan No.4 (hal 137): “Bukalah pintu rumahmu lebar-lebar seperti mama lakukan, untuk menyambut setiap tamumu, karena tamu yang datang seakan berkata (baik dengan suara atau dalam batin): Semoga damai Tuhan turun dan tinggal dalam rumah ini. Kembangkan sikap seperti yang mama tunjukkan. Bukalah diri dan rumahmu untuk siapa saja yang menyapa dan mengunjungimu, karena sebetulnya Tuhan yang menyapa dan mengunjungimu.”
Pesan di Hari Kemerdekaan
Sambil menikmati kopi yang disediakan, sesepuh desa Bapak Thomas Krova menyampaikan pesan yang menggugah:
“Hari ini kita merayakan kemerdekaan. Tapi merdeka dari apa? Semoga kita semua merdekakan diri dari kebiasaan tidak baik, dari mulut yang berbicara negatif tentang orang lain, dari kebiasaan berprasangka buruk pada orang lain. Dengan demikian kita bisa membangun kekerabatan kita atas dasar saling percaya satu sama lain. Di samping itu hari ini kita diberikan contoh tentang berbagi kebaikan. Ini juga merupakan pesan bagi kita untuk meneruskan kebiasaan berbuat baik ini kepada sesama sekitar kita, dalam bentuk apapun.”

Melayani dan Keteladanan
Di samping pesan yang saya sampaikan di atas, saya bersama istri kemudian mengundang lima orang wakil dari masing-masing kelompok. Kepada mereka kami berdua melayani secara langsung dengan membagikan piring berisi nasi makan siang. Lihat foto 3 bagian kanan bawah.
Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, kehadiran kami di desa ini bukan untuk dilayani, tapi hadir untuk melayani. Kelompok kerabat kerja hari inipun hadir untuk bersama kami melayani semua yang datang. Dan ketika kami berada jauh dari desa ini, teman-teman kerabat kerja ini akan menjadi perpanjangan tangan kami untuk terus melayani, memberikan perhatian kepada yang membutuhkan perhatian itu.
Semangat yang membara di dalam diri kerabat kerja tersebut karena mereka bisa membuat orang lain merasakan bahwa selalu ada harapan dalam kehidupan. Para kerabat kerja merasa bahagia bisa melakukan kebaikan, bisa berbagi kebaikan dengan orang lain. Semoga teladan perbuatan mereka juga bisa dicontoh lebih banyak orang.
“Cultivating the habit of good deeds will not only affect those around us, it will improve our own emotional well-being.” (Debbie Macomber)
josef:
Terima kasih untuk testimoni Randy. Senang dengan progress yang dialami. Perjalananmu masih panjang, banyak...
Randy:
15 years ago, your storytelling inspired me to join HR. Your trust to choose me as a future leader made me...
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....