Tanggapan Spontan dan Positif

Posted on July 28th, 2015

“A positive attitude causes a chain reaction of positive thoughts, events and outcomes. It is a catalyst and it sparks extraordinary results.” (Wade Boggs)

HAMPIR SETIAP SAAT, di hadapan kita, alam menyajikan berbagai kejadian, yang bisa direkam indra kita. Berbagai kejadian itu bisa menghadirkan sesuatu yang dipandang bermanfaat untuk dicermati, dan kemudian dijadikan bahan pelajaran bagi kehidupan.

Ada yang tersimpan di alam bawah sadar, yang akan dimunculkan bilamana diperlukan. Namun ada juga yang akan berlalu begitu saja. Bukan karena kita tidak mau menyimaknya, tapi bisa jadi karena secara alami kita menyaring apa yang paling diperlukan saat itu. Atau bisa jadi karena kapasitas kita untuk menyimak sudah maksimum.

Semua pengalaman tersebut, tanpa disadari sudah ikut memberikan kontribusi pada kepribadian seseorang. Kita pun bisa membaca berbagai rekaman itu dari bagaimana seseorang berperilaku, atau bagaimana seseorang menggunakan kata-kata, atau juga dalam menanggapi sesuatu.

Ancaman atau Kesempatan?

Mengenang masa kanak-kanak, adalah mengenang kegembiraan bermain. Menyimak obrolan istriku dengan seorang tantenya di rumah, kisah mereka tidak lepas dari suasana gembira walau dalam keterbatasan ekonomi. Tante yang fotonya saya hadirkan disini, dipanggil Batin Jun. Sehari-harinya jualan Kue Bugis.

Batin Jun – Penjual Kue Bugis

Kue ini yang menjadi daya tarik, membuat dia sangat dekat dengan keponakannya. Mereka tahu, jam berapa harus mendekat ke warungnya sambil berharap masih ada Kue Bugis yang tidak terjual, sehingga mereka bisa menikmati kue tersebut.

“Apa tidak terpikir bahwa keponakan itu mendoakan agar kuenya tidak laku?” tanyaku, dan spontan dia menjawab:

“Nggaklah, mereka masih terlalu polos untuk berdoa seperti itu. Mungkin mereka malah berdoa agar tidak disuruh orang tuanya ke tempat lain, sehingga hilang kesempatannya mendapat pembagian kue.”

Sementara itu, sharing seorang teman:

“Ada juga penjual kue yang tidak mau membagi kue sisa tidak terjual kepada tetangga dekat. Katanya takut mereka mendoakan kuenya tidak laku.”

Dan teman lain menimpali:

“Sungguh keterlaluan, bukan saja pelit, tapi sudah berprasangka buruk pada tetangganya. Padahal, kue itu bisa menjadi pintu masuk untuk menjalin hubungan dengan tetangga. Kesempatan itu sudah dia abaikan.”

Dua perilaku yang berbeda, tapi nyata hadir di hadapan kita!

Kesempatan Itu Diciptakan

Dalam kunjungan saya ke tempat kontrakan saudara di Bogor, ketika saya baru tiba di Jakarta, puluhan tahun silam, saya menyaksikan bagaimana tukang bakso keliling yang juga kontrak di sebelahnya, datang membawa dua mangkok mie bakso untuk saudaraku. Ternyata hal ini kerap dilakukan. Setelah memindahkan mie bakso ke mangkok sendiri, saudaraku mengembalikan mangkok kepada tukang bakso, sambil mengucapkan terima kasih yang tulus.

Dan spontan tukang bakso menjawab: “Doain ya bu biar laris.”

Tentu saja yang dia harapkan adalah mendoakan dia agar sukses. Dialog sederhana di alam pedesaan ini, tanpa basa basi. Tukang bakso merasa dia mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai tetangganya, karna itu dia iklas berbagi. Berbagi sebelum jualan, bukan dari sisa jualan. Hati kecil saya mengatakan, saudara kami ini tentu akan juga iklas mendoakan keberhasilan sang tukang bakso. Dan tukang bakso juga melihat bahwa itu merupakan peluang untuk menjalin hubungan dengan tetangganya.

Bijak Menyikapi

Lain lagi dengan pengalaman dengan nenek kami di kampung. Kesempatan untuk membuat kue, adalah kesempatan yang sangat jarang. Karena itu, cucu sang nenek tidak akan beranjak jauh dari dapur. Dan ada kebiasaan unik yang kami tidak pernah berusaha menanyakannya.

Kalau dia sedang membuat kue, pintu dapur akan ditutup, dan dia meminta kami semua agar jangan membuat ribut di luar dapur. Katanya, kalau ribut kuenya tidak jadi. Logiskah itu?

Ternyata sebagai kanak-kanak kami tidak berpikir logika, kami hanya berharap, kuenya cepat jadi agar kami bisa menikmatinya. Setelah dewasa baru kami bertanya kepada mama, mengapa nenek selalu menutup pintu dapur kalau membuat kue? Apa hubungannya suara ribut dan jadi/tidak jadinya kue?

Dengan senyum mama bercerita bahwa cucu-cucu nenek itu pada tidak sabaran. Kalau kue sudah jadi, mereka masuk dapur, merengek minta di bagi. Kalau satu dikasih, yang lainnya akan datang minta dibagi. Alhasil, orang-orang dewasa lainnya tidak akan kebagian. Jadi nenek membuat skenario seperti itu, biar pada nunggu dan bisa makan kue bersama-sama. Sayang cucu, sama pentingnya dengan kebersamaan!

Kesempatan liburan mungkin sekali menjadi kesempatan baik untuk bernostalgia, menggali berbagai kisah unik di masa kecil. Semua itu adalah pelajaran hidup yang dipaparkan alam semesta di hadapan kita.

Mau luangkan waktu untuk menyimaknya? Silahkan!

Mau mengangkatnya sebagai pembelajaran hidup? Pilihan di tangan masing-masing kita.

Saya sendiri akan memilih belajar dari berbagai kenyataan hidup itu setiap hari, sebagai bagian dari komitmen untuk belajar menjadi Pribadi yang Lebih Baik dari waktu ke waktu, sesuai motoku: Be Yourself but Better Every Day.

“Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom.” (Viktor E. Frankl)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET