Posted on May 13th, 2014
“The more you engage with customers the clearer things become and the easier it is to determine what you should be doing.” (John Russell)
HR TERUS BERBENAH sesuai tuntutan zaman. Paling tidak dalam separoh abad yang lalu, HR sudah mengalami 4 tahap evolusi. Ini terjadi karena tuntutan perubahaan yang harus ditanggapi oleh bisnis secara serius, yang juga berdampak pada perubahan pendekatan dari berbagai termasuk HR.
Karena itu para praktisi HR hendaknya terus mengupdate dirinya untuk bisa terus eksis dan memberikan peran yang masih terus dianggap dan diterima oleh bisnis. Foto berikut ini memperlihatkan gaya Dave Ulrich dalam sesi yang diselenggarakan di Jakarta baru-baru ini, yang ngakunya bukan ngajarin tapi mengajak peserta untuk “belajar bersama.”
Waves of HR dari Dave Ulrich
Dalam perjalanan HR sejak dini, atau setidaknya dalam separoh abad terakhir, telah terjadi 4 (empat) Gelombang Evolusi HR (sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”):
Walaupun suatu perusahaan sudah berada pada tahap 4, tiga keutamaan di tahap sebelumnya hendaknya terus dilakukan secara prima: Administrasi HR mengalir lancar; praktek HR hendaknya innovative dan integrated, dan HR hendaknya mampu menerjemahkan aspirasi strategic ke dalam kegiatan HR.
Menjaga Balanced 6 Paradox
Seberapa pun rapihnya konsep yang disusun, Dave mengetengahkan berbagai tantangan dalam implementasinya, terutama bila kita ingin mempertimbangkan keseimbangan dari berbagai aspek seperti diagram di bawah ini. Menjaga keseimbangan ini akan turut menentukan bentuk response dari HR. (Sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”)
Pertanyaan tentang seberapa besar porsi fokus pada bisnis atau people, administrasi atau strategy, eksternal dan internal focus, dan lain-lain. Tidak ada statistic yang memperlihatkan kesempurnaan. Namun demikian, ilustrasi di atas, yang akan menjadi bahan refleksi, akan terus membuat kita menganalisa, di mana fokus kita seharusnya pada saat tertentu berdasarkan kepentingan bisnis yang dirancang berdasarkan tuntutan dari berbagai stakehoders.
Values Perusahaan untuk Siapa??
Selama ini kita mengenal prinsip pada waktu menyusun Values, berdasarkan pertanyaan: “What we want to be known for, by external world?,” itu sudah bagus tapi belum cukup. Dave Ulrich menyarankan agar kita membawa Values tersebut dan tanyakan kepada external stakeholders, misalnya kepada 2-3 key customers:
Pendekatan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk mendiskusikan Values atau aspek HR lainnya dari perspektif customer, atau juga stakeholders luar lainnya. Untuk bisa melakukan ini semua, HR Professionals perlu bertanya untuk refleksi pada diri sendiri:
External Customer Menginterview Calon GM
Mengakhiri sesi Dave Ulrich sore itu, sempat dihadirkan Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II. Beliau membagi pengalaman mereka dalam men-drive pengelolaan SDM. Secara gamblang beliau mengutarakan pendapatnya bahwa transformasi di bidang HR hanya bisa dilakukan dengan berhasil kalau driver utamanya adalah orang nomor satu di Perusahaan itu.
Karena pada level itu dapat ditarik garis keterkaitan akan inisiatif tersebut dengan berbagai tuntutan perubahan bisnis karena tuntutan berbagai stakeholders. Salah satu yang dikisahkan adalah proses rekruitmen top leaders. Pelindo barusan menunjuk GM. Mereka meminta dua key customers untuk mewawancarai calon yang diidentifikasi oleh tim Perusahaan, untuk memberikan pandangan apakah profile calon ini sesuai dengan pandangan key customers tentang seorang GM Pelindo. Ini merupakan salah satu contoh nyata praktek “HR from OUTSIDE In”.
“Quality in a service or product is not what you put into it. It is what the client or customer gets out of it.” (Peter Drucker)
josef:
Terima kasih sama2 Helda, kebersamaan kita melangkah dalam perjalanan karier membuahkan banyak kisah menarik....
Helda:
Selalu hangat dan beri insprirasi setiap cerita yang bapak buat…hal hal jecil jd sangat dalam dan sangat...
josef:
Terima kasih Emmi, banyak cerita yang saya hadirkan, merupakan cerita kita bersama. Saya sengaja merangkumnya...
Emmi:
Baca tulisan Pak Jos itu berasa lagi ngobrol dalam 1 ruangan, face to face. Temen2 yg pernah ngalamin pasti...
josef:
Terima kasih Cita. Satu dua menit waktumu untuk mengunjungi blog dan menyimak tulisan disana sangat berarti....