Logika dan Tenggang Rasa

Posted on April 22nd, 2014

“Always be nice to people on the way up; because you’ll meet the same people on the way down.” (Wilson Mizner)

EMAIL INBOX kembali saya telusuri untuk membaca kembali berbagai pesan sahabat baik sekedar sharing atau meminta saran. Ada beberapa di antaranya yang masih berkaitan dengan promosi. Dan saya pikir sangat relevan untuk saya angkat kembali, setelah kisah Titi yang saya posting di hari Selasa 8 April 2014 dengan judul: “Apakah Saya Harus Menolak Promosi?

Kebanyakan dari kisah seperti ini, masih mempertimbangkan kesungkanan, tenggang rasa, dan akhirnya ingin mengorbankan kepentingan pribadi demi hidup berdampingan secara damai (nama-nama mereka sengaja saya samarkan). Tapi, sering kita lupa bahwa setiap perubahan memang berdampak ketidak-nyamanan. Dan ini bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi secara bijak, agar terus melangkah maju. Kata anak-anak sekarang: move on!

photo

(Courtesy of Google Image)

Ani di Sebuah BUMN

Dinamika di BUMN boleh dibilang beda dengan dinamika antar karyawan di perusahaan swasta. Setiap langkah yang diambil memerlukan pertimbangan kebijaksanaan yang lebih dari sekedar logika dan tenggang-rasa pada umumnya.

Berita sudah beredar, kalau kepala bagian Ani akan di-demosi (karena alasan yang serius dan penting, tapi tidak perlu saya ceritakan di sini). Dan gosip yang beredar cukup seru, bukan saja berkaitan dengan alasan tersebut di atas, tapi siapa gerangan yang akan menggantikan sang kepala bagian. Sampai akhirnya Ani dipanggil untuk mendapatkan berita gembira dari Kepala Divisinya: “Ani, kamu diberi kepercayaan untuk menjadi Kepala Bagian menggantikan bossmu.” Ani mendadak kaget, bukan karena gembira, tapi berkaitan dengan dua hal yang serius di mata dia:

  • Dia menggantikan atasannya. Apapun alasannya, seberapa logik pun alasannya, tapi kenyataan yang dilihat orang termasuk atasan yang dia gantikan, adalah bahwa Kepala Bagiannya digeser dan tempatnya digantikan oleh Ani
  • Kedua, dia akan menjadi atasan dari semua rekan kerjanya.

Secara logika, Ani paham akan skenario ini dan bisa menerima logikanya. Tapi hidup ini tidak sepenuhnya diatur logika. Tenggang rasa ketimuran menurut Ani, adalah aspek yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena itu, dengan penuh kehati-hatian, dia mengajak tukar-pikiran dengan kepala divisinya. Tidak sekali, tapi berkali-kali.

Akhirnya mereka bisa sampai ke solusi yang sangat manis. Ani tetap dipromosikan, tapi dipindahkan ke sebuah cabang, masih di bilangan Jakarta. Semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan ini bernapas lega. Sebuah keputusan yang sangat melegakan Ani. Ketika sharing hasil akhir keputusan ini, Ani sepertinya tidak henti-hentinya mensyukuri moment ini, sebuah solusi yang tidak membuat orang lain sakit hati.

Keseimbangan Logika dan Tenggang Rasa

Lain lagi kawan yang bekerja di perusahaan multi nasional ini. Semua perencanaan mengenai talent diramu secara matang. Rencana jangka panjang tentang talent itupun diikuti dengan menempatkan setiap talent di bawah radar untuk mengikuti perkembangan mereka dan mengambil langkah yang diperlukan untuk terus memacu perkembangan mereka menuju setiap titik target yang direncanakan.

Bukan saja satu pasang mata, tapi banyak pasang mata dalam Talent Council (istilah untuk komite yang bertanggung jawab mengurusi talent). Mereka mendiskusikannya berkali-kali, baik sebagai potret individu yang bersangkutan, atau juga dalam perbandingan relative dengan talent lain.

Anton adalah Talent HR yang cemerlang, dan sudah diidentifikasi sejak awal. Perjalanan kariernya sudah bisa dibaca teman-temannya di HR, terutama karena sering mengalami akselerasi dalam perjalanan ke atas, alias promosi. Dan sampailah dia pada level di mana dia masuk dalam peta persiapan menduduki posisi nomor satu.

Tapi setingkat dengan Anton ada beberapa seniornya, yang nama mereka sering disebut-sebut sebagai calon mengisi posisi nomor satu. Entah dari mana rumors itu berasal, tapi itu sekaligus membuat senior tersebut punya harapan (mungkin harapan dalam hati)

Tapi dalam system yang sudah mapan, walau tidak diberitahu secara explisit, orang bisa membaca sendiri, apakah dia sedang dipersiapkan untuk posisi promosi atau tidak. Dan tibalah diskusi di putaran persiapan terakhir.

Setahun menjelang promosi, Anton diberitahu tentang rencana tersebut, dan program coaching yang akan dijalani selama setahun untuk persiapan itu. Selama setahun itu juga, berbagai signal dikirimkan kepada tim, langsung atau tidak langsung, bahwa Anton adalah calon yang sedang dipersiapkan. Termasuk pada saat-saat di mana pimpinannya berhalangan (atau mungkin sengaja dibuat berhalangan), Anton akan otomatis menggantikannya.

Hingga tibalah hari berbahagia itu. Anton mendapat promosi. Seluruh tim tidak ada yang kaget, termasuk senior rekan kerjanya. Ucapan selamat yang diterima Anton, adalah ucapan selamat secara tulus dari rekan kerjanya.

Perilaku yang Menunjang

Terlepas dari rencana dan upaya perusahaan dalam konteks kedua contoh di atas, peran Ani dan Anton dalam membawa diri dalam kerjasama dengan tim juga sangat menentukan. Mereka tidak sombong dengan berbagai kesempatan yang bagus itu.

Interaksi mereka dalam tim juga diterima secara positif. Bukan pada saat menjelang promosi yang diceritakan di atas, tapi sepanjang perjalanan karier mereka. Mereka adalah pribadi yang menyenangkan, suka menolong teman, tekun berjuang dan sering tampil untuk membantu bila teman mengalami kesulitan. Mereka kenal betul setiap anggota timnya, dan apa yang perlu dilakukan sebagai bagian dari tim itu.

Knowing others is intelligence;

knowing yourself is true wisdom.

Mastering others is strength;

mastering yourself is true power.

– Lao Tzu –

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan