Pengembangan Talent Seumpama Biji Sawit

Posted on June 17th, 2014

“Our talents are the gift that God gives to us. What we make of our talents is our gift back to God.” (Leo Buscaglia)

GEDUNG ANGGUN INI sering dijadikan tempat sesi foto pre-wedding. Selain unik sebagai bangunan tua, di dalamnya bisa kita temukan lift yang juga berusia lebih dari 100 tahun. Lift ini dioperasikan oleh tenaga yang selain trampil, tapi mempunyai skill unik yang tidak dimiliki orang lain. Bayangkan saja, lift serupa, hanya tinggal tiga di dunia. Dua lainnya ada di Turky dan Australia. Dari gedung ini, berbagai rencana kegiatan pengelolaan kelapa sawit berpusat. Gedung Lonsum, salah satu National Heritage, yang dilindungi. Di sini kami memulai kunjungan ke kota Medan dan perkebunan yang berjarak 3 jam perjalanan. Kami selalu ingin meluangkan waktu untuk bertemu karyawan kami di lapangan, dan berdialog dengan mereka untuk lebih memahami aspirasi mereka. Lonsum Pengembangan Talent adalah Serupa Pengembangan Bibit Unggul Di bawah rindangnya pohon sawit, kami mendapatkan penjelasan tentang alur proses panen. Sengaja akhir sebuah proses ini yang diceritakan untuk memberikan kami gambaran tentang hasil unggul di akhir proses itu seperti apa. Ini akan membantu kami memahami berbagai proses awal sejak pembibitan dilakukan. Yang tidak kalah mengagumkan adalah keberadaan mereka yang jauh secara geografis dari pimpinan, sehingga pengawasan melekat harus dibangun dalam diri setiap individu dan tim: Mereka bekerja sungguh-sungguh bukan kerena diawasi, tapi karena itulah panggilan tugas mereka. Seperti halnya bibit sawit yang mengalami proses tahap demi tahap, mereka yang bekerja di sana juga mendapatkan bimbingan tahap demi tahap untuk bisa menapaki jenjang yang lebih tinggi. Pengetahuan dan skill saja tidak cukup. Ini memerlukan karakter khusus, yang perlu dicermati pada saat rekrutmen. alur proses panen Kesabaran dan Ketulusan dalam Mengembangkan Bibit Unggul Terkadang kita tidak sabar menunggu perkembangan tenaga potensial yang kita rekrut, apalagi dari tahap management trainee. Karena itu ada perusahaan yang lebih memilih mencari tenaga jadi yang sudah memiliki pengalaman di pasar tenaga kerja. Mengagumkan sekali mendengar paparan dari pimpinan Laboratorium dan R & D Unit. Beberapa kali keluar dari mulutnya:

“Kami memperlakukan bibit-bibit ini sebagai bayi sendiri. Mereka memerlukan perhatian dan treatmen setiap hari, dengan treatmen berbeda sesuai usianya.”

Dan mereka tidak segan untuk mengeluarkan bibit yang tidak berhasil, agar tidak mengganggu performa bibit lainnya, ataupun untuk memberi pelaksana fokus yang lebih banyak pada bibit yang baik. Ketulusan dan kesabaran karyawan di sana, bukan saja terekam dari ekspresi selama paparan, tapi dengan menyaksikan sendiri perjalanan bibit dalam proses dan usia berbeda sampai mereka benar-benar siap di tanam di tanah di luar, siap menghadapi berbagai tantangan hidup. tanaman awal Kalau bibit sawit saja bisa kita perlakukan seperti itu, perusahaan yang peduli pada pengembangan talent akan juga berhasil kalau mereka menempatkan hati, pikiran dan karya nyata mereka dalam mengembangkan talent, karena mereka adalah bibit unggul yang sudah diseleksi untuk mengawal perusahaan menuju masa depan yang sukses. Perhatian Kecil dan Sentuhan di Lapangan Semua unsur di perusahaan ini penting, tanpa membedakan level dan lokasi di mana mereka bekerja. Sentuhan kemanusiaan akan sangat membantu untuk membuat karyawan di sana mau terus tinggal di perusahaan. Kehadiran kami bersama tim di sana sudah memberikan arti tersendiri akan perhatian dari pusat. Apalagi, ketika saya mengawali sapaan saya, dengan memberikan apresiasi untuk tiga hasil kerja yang saya ketahui dari obrolan awal:

  • Estate untuk supply CPO terbaik di mata refinery proses kami.
  • Juara 1 Tingkat Propinsi, Program Perlindungan Ibu (Pekerja) dan Anak yang Menyususi;
  • Juara 2 Nasional Program KB.

Mereka tentu senang dengan apresiasi demikian, terutama untuk dua yang terakhir, yang dalam kacamata kebanyakan, bukan unsur penting untuk mendapatkan perhatian. Tapi buat kami ini sangat penting, karena memperlihatkan bahwa semua unsur di perusahaan ini bekerja sungguh-sungguh, penuh ketulusan hati, bukan sekedar untuk mendapat pujian. Refleksi Penuh Pembelajaran dari Lapangan Bibit sawit memang bukan manusia. Dia hanya menunjukkankan ketidak-beresan perlakuan melalui hasil selama pertumbuhan itu. Dengan alasan itu, tenaga lapangan sangat hati-hati dalam memberikan perhatian. Karena akan terlambat mengambil langkah bila bibit itu sudah telanjur tidak berkembang. Proses di atas bisa menjadi sebuah analogi yang sangat menyejukkan dalam konteks pengembangan Talent sebagai bibit unggul di perusahaan. Bila kita bisa menempatkan hati kita untuk mengembangkan bibit sawit  itu secara tulus dan sungguh-sungguh, kita pasti akan bisa memberikan hati kita dalam pengembangan Talent di Perusahaan. Dan kepuasan kita yang tertinggi adalah bila kita menyaksikan Talent tersebut berhasil, tumbuh di lingkungan mana saja, dengan tantangan beragam, karena mereka sudah dipersiapkan sejak dini.

“Think of talent management as links in a chain supporting your organization. If any of these links fail, the whole chain fails, causing your organization to fail in meeting its goals.” (John Ha)

Bookmark and Share

2 Responses to Pengembangan Talent Seumpama Biji Sawit

  1. Sri Mahayani says:

    Bagus sekali artikel nya Pak Yosef , bila hal tersebut diaplikasikan di lapangan/perusahaan …akan meningkatkan produktifitas dan loyalitas karyawan2 nya .Thanks .

    • josef josef says:

      Terima kasih Sri, itu yang semua kita harapkan, agar diterapkan di setiap perusahaan. Terima kasih untuk luangkan waktu mengunjungi blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET