Posted on September 28th, 2018
“Delight in the beauty that surrounds you. There is something infinitely healing in the repeated refrains of nature – the assurance that dawn comes after night, and spring after the winter.” (Rachel Carson)
SAAT DI IBU KOTA YANG TERIK, membayangkan sedang berenang di tengah hutan lindung jauh di Nusa Tenggara Timur. Tapi mungkin lebih menarik lagi kalau kita memang langsung terjun dan berenang di sana, di Air Terjun Lapopu, Sumba.

Mungkin satu foto lagi bisa menambah kuat niat bagi mereka yang mau berkunjung ke sana.

Desa Adat Praijing
Kabut masih meliputi desa ini saat kami tiba, udaranya dingin.

Rinduku Pada Sumba
Tiba di Waingapu, situasi hotel kental memberikan nuansa lokal, yang menggugah niat untuk mengambil beberapa foto.

Melihat kuda yang berlarian di padang belantara di Desa Kanjonga, mengingatkanku akan puisi Taufik Ismail yang berjudul:
Beri Daku Sumba
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
Perjalanan Kebersamaan
Belumlah lengkap bilamana seluruh tim belum berkesempatan untuk berfoto dengan memakai kain Sumba, foto dalam team kecil.

Atau juga foto berduaan…

Ibarat menenun kain Sumba, perjalanan kami juga dalam rangka menenun kebersamaan, persahabatan, persaudaraan. Di ujung perjalanan itu, hasil tenunannya akan nampak dan terasa indah dalam foto bersama ini.

Walau semua foto di iPad atau HP-ku saya tampilkan di blog ini, rasanya belum cukup untuk menggambarkan seluruh perjalanan kami. Karena itu saran kami yang terbaik adalah, silahkan teman-teman merencanakan untuk berlibur ke sana.
“We all have our own life to pursue, our own kind of dream to be weaving, and we all have the power to make wishes come true, as long as we keep believing.” (Louisa May Alcott)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Hi Pak Josef,
Menyenangkan sekali melihat2 fotonya…menarik tempatnya…bila nanti saya ada kesempatan ingon berlibur ke Sumba.
Terimakasih sudah sharing mengenai Sumba.
Salam,
Sri.
Terima kasih Sri, sangat disarankan untuk refreshing, jauh dari kesibukan di kota besar. Salam