Rancang Pensiun Sedini Mungkin

Posted on November 26th, 2021

“Planning is important. You must take steps to ensure that when the bell rings to announce your retirement, you’re ready for what’s in front of you.” (Ernie J. Zelinski)

KEHIDUPAN lansia hendaknya dirancang agar menyenangkan, membahagiakan dan dalam kondisi yang sehat walafiat. Sengaja saya gunakan kata merancang, karena itu harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum masa pensiun. Seberapa jauh? Setahun sebelum pensiun? Jawabannya, TIDAK. 5-10 tahun menjelang pensiun? Jawabannya, TIDAK. Lalu kapan mulainya? Hari ini. Serial Kedua Pembekalan Lansia, Pusat Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, mengambil tema: Mengelola Hari-hari Usia Pensiun. Tapi saya sengaja mengambil judul sharing: Kisah Perjalanan Putra Daerah Menuju Pentas Nasional. Berikut foto sebagian peserta.

Hari Ini Penentu Masa Depanmu

Setiap hari kita membuat keputusan untuk melakukan sesuatu. Dan keputusan itu akan memberikan dampak, bukan saja pada hari ini, tetapi terutama untuk hari besok atau bahkan untuk jangka yang lebih Panjang. Saat bangun pagi hari ini, saya memutuskan untuk berolah-raga. Bila ini saya lakukan secara rutin setiap hari, dampak positifnya akan terasa bahkan sampai ke masa pensiun. Hari ini saya melihat peluang untuk berbagi ilmu kepada mereka yang membutuhkan. Keputusan itu berulang pada kesempatan berikutnya lagi, dan akhirnya menjadi kebiasaan. Saat saya mengambil sebuah keputusan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan cara yang lebih positif, maka itu akan terbawa dalam kehidupan selanjutnya, termasuk dalam menghadapi ketidak-pastian memasuki masa pensiun.

Karena itu sharing saya dimulai bahkan sejak saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk merantau, dengan hanya berbekalkan pesan penting dari orang tuaku, seperti nampak pada foto berikut.

Pesan tersebut merupakan andalanku sepanjang perjalanan hidup dan karierku hingga mencapai masa pensiun, dan bahkan sampai saat ini.

Hal-hal kecil yang Membahagiakan

Saat masih sibuk bekerja, ada saja yang membayangkan kalau pensiun merupakan kesempatan untuk banyak tidur, rileks, santai nonton TV. Itu katanya akan membahagiakan. Tapi sebaliknya yang terjadi, mereka yang tidak mempunyai kegiatan di masa pensiun, malah mengalami depresi yang mengundang berbagai penyakit untuk hadir dalam tubuhnya. Pesan di awal tulisan ini penting: Pensiun harus direncanakan.

Ini merupakan kesempatan dimana waktu berpihak pada kita, namun kita perlu mempersiapkannya jauh2 hari. Dalam sesi hari itu saya sengaja menyampaikan pelajaran penting dari mamaku, merupakan hasil refleksi dari ke-delapan anaknya, dan dibacakan pada misa 3 hari sesudah mama meninggal:

Dan salah satu dari cara kami mengenang kepergian orang tua kami, adalah dengan terus melakukan apa yang mereka lakukan dan ajarkan kepada kami selagi mereka masih hidup. Di kampung kami, Lamalera Lembata NTT, ada Kerabat Kerja Bunda Teresa, yang dibentuk orang tua kami dan mereka terus berkarya sebagai bagian dari tim kami. Bersama adik-adikku di kampung, mereka mengunjungi orang tua jompo, yang sakit, membagi sembako pada janda dan jompo pada momen-momen tertentu. Mereka bekerja dengan panduan sederhana yang dikutip dari Bunda Teresa:

“Kami Tidak melakukan Hal Yang Besar. Kami Melakukan Hal Kecil Dengan Cinta Yang Besar.”

 

Membuka Mata Hati

Kisah perjalananku yang disampaikan pada sekitar 400-an peserta melalui zoom,  sekedar memperlihatkan, bahwa banyak sekali tantangan yang ditemui sepanjang hidup. Selama kita menyadari bahwa setiap tantangan hendaknya dihadapi untuk diatasi serta dipelajari untuk hari besok yang lebih baik, termasuk hari pensiun yang lebih membahagiakan. Bila itu dilakukan, maka kita akan semakin kaya akan pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi ketidak-pastian yang muncul kapan saja.

Hasil pembelajaran itu bukan saja untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk dibagi pada orang lain. Pengetahuan dan pengalaman sebagai seorang coach, ternyata bukan saja bermanfaat untuk karyawanku selama bekerja, tetapi juga bermanfaat untuk membantu masyarakat lain. Dan atas perkenan Tuhan Yang Maha Pengasih, selama masa pensiun, dan bersamaan dengan masa pandemi, saya dan beberapa teman coach berkesempatan untuk membantu memberikan coaching kepada Teman Tuli. Coaching juga kami berikan kepada Guru2 yang sedang goyah tingkat resiliensinya karena pandemi dan penerapan digital dalam proses belajar mengajar. Semua ini mewarnai hari-hari pensiun kami menjadi lebih membahagiakan, kami terus melayani.

Karena itu, saat seorang peserta bertanya: Jika kita melihat masalah kemiskinan di perempatan2, apa yg bisa kita perbuat?

Saya pun minta izin untuk mengubah kata KITA dengan SAYA sehingga  pertanyaan tersebut menjadi:

Jika SAYA melihat masalah kemiskinan di perempatan2, apa yg bisa SAYA perbuat?

Rumusan ini menjadi penting agar masing-masing kita langsung menerima panggilan dan mengambil tanggung jawab untuk bertindak, tanpa harus menunggu orang lain. Dan cara kita menanggapi berbeda-beda, tergantung kemampuan kita masing-masing.

 

Post Power Syndrome atau Kesempatan Berharga

Masa pensiun bisa jadi merupakan kesempatan untuk melihat kembali rencana atau mimpi kita yang belum terlaksana. Inipun juga membuahkan kegiatan-kegiatan yang membawa kebahagiaan.

Namun demikian ada saja yang mempunyai pengalaman berbeda, bahkan mengalami Post Power Syndrome. Orang seperti ini perlu disadarkan bahwa perubahan terjadi dalam penggalan hidup berikutnya, dimana kita dituntut untuk bisa menyesuaikan diri. Saat orang mengeluh tentang biaya hidup yang tidak terjangkau, kenyataan yang dihadapi sebenarnya adalah ketidak-mampuan untuk menyesuaikan Gaya Hidup, yang membutuhkan biaya tinggi.

Karena itu, saya juga berbagi tentang rencana pengeluaran kami, jauh sebelum saya pensiun, dengan mempertimbangkan sumber dan kondisi keuangan saat itu. Saya dan istri dan anakku duduk bersama dan mendiskusikan 76 item untuk menentukan mana yang perlu dihilangkan, dikurangi, ditambah atau sama. Dan kami juga sepakat bahwa aspek keuangan itu penting. Namun yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah aspek physical well-being, mental well-being dan sosialisasi atau social support entah itu keluarga ataupun teman2.

Mudah-mudahan dengan persiapan yang matang, kita bisa memasuki masa pensiun dengan lebih tenang dan bersama keluarga bisa hidup bahagia dan terus melayani.

 

“Open the window to your heart. Release all the warm, genuine love you hold inside so that it may shine on others and shatter the darkness.” (Nanette Mathews)

 

Bookmark and Share

2 Responses to Rancang Pensiun Sedini Mungkin

  1. Mudji says:

    Masyaa Allah, bekal penting dari ortu terutama dari Mama Imelda, sederhana namun juga benar² sarat makna & kasih sayang..

    Berdoa banget, diri ini bisa menjalankan semua yg ada di warisannya terutama di usia pensiun ini. Aamiin

    • josef josef says:

      Terima kasih Mudji, saya sendiri juga terus belajar untuk menjalankan warisan mama yang indah ini. Terus memacu diri untuk berusaha maksimal, dengan segala kemampuan yang ada. Setidaknya pedoman dari orang tua sudah ada. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna