Tiga Cermin di Momen Bahagia

Posted on July 17th, 2026

“The unexamined life is not worth living.” (Socrates)

Setiap ulang tahun selalu membawa ruang untuk berhenti sejenak. Bukan sekadar mensyukuri bertambahnya usia, tetapi juga merenungkan perjalanan yang telah dilalui dan arah yang masih ingin dituju.

Tahun ini, ada tiga peristiwa yang hadir hampir bersamaan. Tiga peristiwa sederhana yang saya rasakan seperti tiga cermin. Masing-masing membantu saya melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.

 

Cermin Pertama: Apa yang Dilihat Orang Lain

Sebuah pesan dari sahabat saya, Pak Wirjawan, membuat saya terdiam cukup lama.

“Di dunia profesional, Pak Josef dikenal sebagai jagoan bidang Human Capital. Mulai dari consumer good sampai perbankan. Tapi lebih dari itu, Pak Josef mengingatkan kita bahwa perusahaan hebat bukan dibangun oleh angka, tapi oleh manusia yang bertumbuh, dihargai, dan dimanusiakan.

Kita juga mengetahui Pak Josef seorang penulis.

Tulisan Pak Josef bukan sekadar kata. Ia jadi cermin, jadi tamparan lembut, jadi pengingat bahwa memimpin itu soal hati, bukan hanya soal target.

Saya mengenal Pak Josef seorang Humanis.

Pak Josef percaya setiap orang punya cerita, punya luka, punya potensi. Dan karena itu, Pak Josef memperlakukan semua orang dengan hormat yang sama.

Selamat ulang tahun Pak Josef Bataona. Terima kasih sudah menjadi guru yang tidak menggurui. Sudah jadi pemimpin yang melayani. Sudah jadi penulis yang membangunkan kesadaran.

Semoga di usia baru ini senantiasa sehat. Tuhan terus memakai Pak Josef untuk menumbuhkan lebih banyak manusia unggul, menulis lebih banyak pemikiran yang mencerahkan, dan menebar lebih banyak kemanusiaan.”

 

Membaca pesan tersebut, saya justru merasa diingatkan kembali tentang sesuatu yang sering terlupakan: hidup kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita kerjakan, tetapi juga oleh bagaimana orang lain mengalami kehadiran kita.

Selama ini saya hanya berusaha menjalani keyakinan sederhana bahwa manusia selalu lebih penting daripada sistem, jabatan, atau angka-angka. Jika ada yang melihat nilai dari perjalanan itu, saya menerimanya sebagai pengingat untuk tetap setia pada jalan yang sama.

 

Cermin Kedua: Apa yang Masih Bisa Dibagikan

Cermin berikutnya datang dari postingan Mbak Yana Arisman. Saya kutipkan:

”Persembahan kasih yang diuntai setiap tahun, adalah bagian dari makna hidup yang digelar dalam perjalanan masa tata Josef Bataona. Saya pernah menjadi bagian dari kelompok kecil yang ikut membagikannya di kampung Lamalera bersama yang baru saja “pergi”, Suster Agnes.

Tata Jos, selamat menikmati bertambahnya usia, semoga berkah-Nya juga menyertai, sehat selalu dan bahagia bersama keluarga tercinta.” (Catatan: Tata artinya kakak)

Tulisan singkat itu membawa saya kembali ke Lamalera, kampung halaman yang membentuk banyak nilai dalam hidup saya.

Apa yang kami lakukan setiap tahun sebenarnya sangat sederhana. Bersama keluarga, dibantu oleh Kerabat Kerja Bunda Teresa, kami berusaha berbagi dengan para jompo, janda, dan mereka yang membutuhkan. Tidak pernah kami pandang sebagai sesuatu yang istimewa.

Namun saya belajar bahwa MAKNA sebuah tindakan sering kali tidak terletak pada besar kecilnya bantuan yang diberikan, melainkan pada kesediaan untuk hadir dan peduli. Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa sebagian rezeki yang dipercayakan kepada kita memang ditujukan untuk mengalir kepada orang lain.

 

Cermin Ketiga: Apa yang Masih Menunggu di Depan

Cermin terakhir hadir saat santai berakhir pekan bersama istri dan putri kami. Obrolan sederhana bertiga yang mengalir begitu saja. Di tengah percakapan, muncul sebuah pertanyaan yang kemudian kami renungkan bersama:

”Menatap hari esok, banyak yang dilihat, tapi muncul satu pertanyaan untuk diskusi: Apa Arti Hidup Yang Lebih Baik?

Obrolan berlanjut sambil makan siang.   Pertanyaan tidak harus dijawab tuntas hari ini. Jawabannya boleh berbeda. Yang penting, perjalanan mencarinya terus dilakukan bersama.”

Saya menyukai pertanyaan itu karena tidak meminta jawaban cepat. Justru pertanyaan semacam itulah yang semakin penting ketika usia bertambah. Kita mulai lebih sedikit berbicara tentang pencapaian dan lebih banyak berbicara tentang MAKNA.

Apa lagi yang masih perlu dilakukan?

Panggilan hidup apa yang belum selesai?

Kontribusi apa yang masih bisa diberikan?

Warisan nilai apa yang masih perlu diteruskan?

Saya tidak memiliki semua jawabannya. Tetapi saya merasa bahwa pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini menjadi kompas perjalanan berikutnya.

 

Tiga Cermin, Satu Pelajaran

Ketiga peristiwa itu menghadirkan tiga cermin yang berbeda.

Yang pertama mengajak saya melihat kembali jejak yang mungkin telah ditinggalkan.

Yang kedua mengingatkan bahwa hidup menemukan maknanya ketika kita berbagi.

Yang ketiga mengajak menatap masa depan dengan kerendahan hati dan rasa ingin terus bertumbuh.

Pada akhirnya, saya tetap berpegang pada moto hidup yang selama ini saya yakini:

Be Yourself, but Better Everyday.

Menjadi diri sendiri. Tetapi terus belajar menjadi lebih baik. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Dan selama masih diberi kesempatan, terus berusaha menghadirkan manfaat bagi sesama.

“The meaning of life is to find your gift. The purpose of life is to give it away.” (Pablo Picasso)

Bookmark and Share

2 Responses to Tiga Cermin di Momen Bahagia

  1. Sriroosyana says:

    Saya belajar,
    Saya sedang menjalaninya satu per satu
    Doakan saya ya, Tata..

    • josef josef says:

      Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua yang dihadirkan Universe di hadapan kita. Sukses usahamu #kitaselaras, bahagia bersama keluarga. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...

Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..

josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam

sofia:
Do you care about me (connection)? Can you help me (competency)? Can I trust you (character)? ini yang akan...

josef:
Terima kasih coach. Kita saling berbagi inspirasi. Di blog ini ada lebih dari 1000 tulisan. Yang baru...


Recent Post

  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama
  • Menjadi Cermin Kepemimpinan
  • RUANG Belajar dan Bertumbuh (Blog Seribu Tulisan)
  • Blog Seribu Tulisan – KATA Yang Mengubah Hidup