Boss is (not) Always Right

Posted on January 22nd, 2019

“Some employees who are abused by their bosses resolve not to repeat that pattern with their own subordinates and become exceptional leaders of their teams,” (Shannon Taylor)

DOA SEKALIGUS HARAPAN setiap karyawan, semoga diberikan pemimpin yang handal, yang mempunyai hati penuh pengertian dan bijaksana. Melalui tangan pemimpin seperti itu umumnya tercipta lingkungan kerja yang menyenangkan, yang positif, yang mendorong setiap anggota untuk memberikan prestasi yang terbaik. Tetapi dunia ini tidak selamanya seperti yang kita harapkan. Terkadang karyawan sangat berpotensi merasa tertekan dibawah pimpinan yang memperlakukannya tidak manusiawi. Haruskah karyawan meninggalkan perusahaan dalam situasi kepemimpinan seperti itu? Tunggu dulu!

Anda bisa menjadi Pemimpin Handal

Sebuah studi yang dipublikasikan akhir tahun lalu oleh Shannon Taylor melalui Science Daily mengemukakan bahwa ada saja top management yang berperilaku tidak sewajarnya sehingga karyawannya merasa dilecehkan, atau diperlakukan tidak sebagaimana mestinya (abuse and mistreatment). Menariknya adalah para supervisor yang mendapat perlakukan semena-mena dari atasannya, banyak yang bertekad untuk tidak mengulangi perilaku yang sama kepada anak buahnya. Mereka sudah merasakan dampak negatifnya. Alhasil supervisor seperti ini bahkan berubah menjadi leader yang luar biasa, dengan perilaku yang diterima sesuai nilai-nilai yang berlaku di perusahaan itu.

 

 

 

 

Tentu saja studi ini tidak menganjurkan untuk recruit leader berperilaku tidak terpuji untuk mendidik anak buah menjadi lebih baik. Pada contoh diatas, mereka sudah sama-sama berada di perusahaan, dan tentu perusahaan punya jalan untuk memperbaiki leader yang kurang baik perilakunya. Tapi yang terpenting di garis-bawahi adalah, mereka yang berada dibawah leader seperti itu, hendaknya berani mengambil sikap, membuat tekad:

“Saya tidak mau menjadi seperti bossku, dan saya akan mencari jalan untuk tidak menerima perilaku negative dari mereka. Dan saya akan memperlakukan anak buah saya secara lebih manusiawi.”

Nah, apakah masih mau memutuskan untuk keluar dari perusahaan sekarang karena alasan diatas?

(simak https://www.sciencedaily.com/releases/2018/12/181203150505.htm)

Bahaya Boss Selalu Benar

Kita pernah mendengar lawakan ini sambal tertawa lebar:

Basic rules about Boss:

Rule no 1: The boss is always right

Rule no 2: If the boss is wrong, then go to rule no 1

Dalam nuansa kelakar, memang mengundang ketawa, tapi sebenarnya kita juga sedang menertawakan diri sendiri, bila tanpa disadari kita juga berperilaku seperti itu.

Dalam postingan awal tahun ini dengan judul The Danger When a Leader is always Right, David Dye yang juga bersama Karin Hurt menulis buku Winning Well, mengedepankan frustrasinya sebagai dosen. Bayangkan mahasiswanya: rajin masuk, berpartisipasi aktif dalam proses belajar dan bekerja keras untuk mempelajari materi kuliahnya. Tapi hasilnya tidak lebih baik dari mahasiswa level D atau bahkan F. Lebih lagi saat dia menyampaikan frustrasinya kepada rekan dosen yang lebih senior, jawaban mereka tidak kalah sengitnya:

“Saya sudah memberikan materi kuliah yang harus saya berikan, dengan instructional method yang sempurna, selanjutnya mahasiswa yang bertanggung jawab untuk belajar. Karena itu tidak ada alasan untuk mengubah metode mengajar saja.”

Pendapat dosen itu mungkin mewakili banyak dosen lain atau bahkan mewakili banyak pimpinan di perusahaan: We are RIGHT, the boss is always RIGHT.

Eksperimen demi eksperimen di lakukan dan menyesuasikan metode mengajar, sampai akhirnya dosen ini bisa memetik hasilnya. Banyak mahasiswanya yang selama ini mendapat nilai F atau D berubah menjadi B atau tidak sedikit yang menjadi A.

(simak di link ini: https://letsgrowleaders.com/2019/01/08/the-danger-when-a-leader-is-always-right/)

Siapa Tahu ini adalah sikap kita sendiri

Beberapa contoh pertanyaan membela diri, yang dikedepankan oleh David Dye, yang mungkin pernah keluar dari mulut kita atau pernah kita dengar. Renungkan ini baik-baik dan ambil sikap untuk bisa menjadi lebih baik:

  • “Why should I have to tell them again? I said it once.”

 

    1. Betul, sudah diberitahu 3 bulan yang lalu. Namun banyak sekali prioritas orang yang perlu mendapat perhatian mereka. Karena itu perlu untuk diulang lagi dan dalam forum yang berbeda-beda.
    2. “Why should I encourage/thank them? They’re just doing their job.”
      Setuju. Tetapi orang akan lebih engaged bila merasa dihargai dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai mesin.
  •  “Why should I hear opposing viewpoints? I’m an expert in this subject and I’ve looked at all the options.”

 

  1. Setuju dan saya yakin anda adalah pakarnya serta sudah melakukan analisa yang cermat. Namun kalau anda ingin membuat keputusan yang terbaik dan membuat teammu berkomitmen dengan keputusan itu, maka suara mereka patut didengarkan. Boleh jadi anda akan surprise dengan perspektif yang berbeda dari anggota teammu sendiri.

Petikan di akhir tulisan ini lebih merupakan dorongan dari David Dye kepada kita semua, untuk membuka diri mendengarkan dan mengambil keputusan bijak dimana semua merasa menjadi bagian dari pengambilan keputusan tersebut. Dengan demikian, seluruh tim juga akan sepenuhnya komit untuk melaksanakannya.

“It takes courage and humility to look honestly at what you’re doing and ruthlessly assess whether or not it’s working. And it’s something the best leaders do regularly.” (David Dye)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

 

Bookmark and Share

4 Responses to Boss is (not) Always Right

  1. Zarnelis Kotto says:

    Terimakasih untuk artikelnya yang membangun pak Josef, sangat menginspirasi untuk saya pribadi bgm saya memperlakukan org lain…

    • josef josef says:

      Terima kasih Imel, sdh mengunjungi blog ini. Kita semua diingatkan untuk senantiasa memanusiakan manusia, apapun statusnya.Salam

  2. Santi Sumiyati says:

    Terima kasih Pak Josef…ruh tulisan seperti tulisan Bapak saat ini yang sedang saya cari dan ingin saya pelajari…seperti ditunjukkan oleh Tuhan ya…terima kasih banyak Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, Semoga tulisan pendek ini bisa menyemangati untuk belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih. Semua kita punya kontribusi untuk menciptakan lingkungan untuk tumbuh kembangnya mindset...

Ratih:
Penutupnya keren Pak, “fokus pada solusi”. Hal ini akan mudah diterapkan jika kita punya mindset...

josef:
Terima kasih Ratih, sungguh cantik, hanya terbatasnya ruang untuk penyajian saya di blog. Salam

Ratih:
Cantik sekali ya Pak pemandangannya..

josef:
Terima kasih Tromol untuk waktunya menyimak kisah ini. Banyak momen hadir dihadapan kita, untuk mengingatkan...


Recent Post

  • Kick-off Coaching Program
  • Suasana Penuh Kedamaian
  • Jadikan Pelajaran Berharga
  • Swedia Negara Ribuan Pulau
  • World’s Happy Countries
  • Indahnya Ciptaan Tuhan
  • Meaning dibalik Aktivitas
  • Optimisme Pekerja Mandiri
  • Positive Organization
  • Benih Positif di Taman Kehidupan