Train the Brain for Growth Mindset

Posted on September 17th, 2019

“To attain iconic status, you must seek to enhance and play to the strengths of your team.” (Scott McKain)

LEADER yang berbeda pada zaman yang berbeda. Ada Leader yang mempersiapkan dan mengantar timnya ke posisi leadership, kemudian memberikan tongkat komando kepada mereka. Leader yang baru ini belum tentu bisa mengadopsi gaya kepemimpinan terdahulu untuk meneruskan perjalanan ini. Mengapa? Karena ecosystemnya sudah berbeda. Orang-orang yang dipimpin sudah berbeda, dan organisasi juga sudah sangat berbeda. Irama gerak juga berbeda.

Pagi itu kami dituntun untuk hadir di sekolah Laskar Pelangi di Belitung, sebelum sesi siangnya. Apakah ini sebuah kebetulan? Tidak! Ulasan berikut akan menjelaskan.

Comfort Zone

Tiap perubahan yang terjadi, comfort zone ini selalu digaungkan, sebagai potensi penyebab hambatan. Dalam situasi apapun, kalau memang mau berubah, setiap kita harus siap melangkah keluar dari zona nyaman. Kemana? Untuk memulai perjuangan menuju apa yang ingin dicapai.

Chart berikut ini mungkin bisa menjelaskan.

Namun umumnya langkah ini bisa mengalami tantangan berat karena kita memasuki zona yang membuat kita takut (fear zone). Di zona ini, percaya diri kita tertantang, tergoda oleh pikiran untuk mencari alasan untuk tidak melanjutkan langkah, atau bahkan terlalu banyak mengandalkan apa kata orang lain. Bila kita simak kata-kata bijak berikut ini, kita bisa mengatasi situasi sulit sekalipun:

“All things are DIFFICULT before they are EASY.”  (Thomas Fuller)

Zona Pembelajaran

Dengan mengatasi tantangan di fear zone tersebut diatas, kita sebetulnya sedang membangun keyakinan bahwa apapun yang dihadapi merupakan pembelajaran untuk masa depan. Apapun yang akan dihadapi di kemudian hari, tergantung pada bagaimana kita mempersiapkan diri dengan belajar dan terus belajar untuk menghadapi berbagai persoalan atau tantangan. Untuk itu kita akan memikirkan tentang skill apa lagi yang perlu saya miliki. Siapa lagi yang bisa saya jadikan sumber untuk mendapatkan ilmu atau pelajaran dari pengalaman mereka. Dengan cara seperti ini, tanpa kita sadari kitapun memperlebar zona nyaman kita. Di zona ini, learning zone, kita menikmati kesempatan belajar hal-hal baru. Dan ini akan menuntun kita untuk memasuki zona Growth Mindset.

Train the Brain for Growth Mindset

Sering kita terjebak dengan pola pikir yang justru menghambat, yang kita kenal dengan fixed mindset. Pemikiran seperti berikut ini sering muncul dan sekaligus menghambat:

  • Saya tidak bisa
  • Terlalu sulit untuk saya
  • Saya angkat tangan dan menyerah
  • Saya tidak bisa menghasilkan lebih baik lagi
  • Hasil seperti ini kan sudah bagus, masa belum cukup? Dan lain2

Pemikiran seperti itu mengurung kita dalam zona dimana kita percaya bahwa memang kita tidak bisa. Kita terjebak dalam zona penuh dengan fixed mindset, seakan kita tidak bisa berubah menjadi lebih baik. Alhasil perkataan dan perbuatan kita juga merefleksikan fixed mindset tersebut. Namun perlu disadari bahwa otak kita bisa dilatih untuk berpikir sebaliknya. Pikiran yang bernuansa negatif seperti diatas, pelan-pelan bisa kita ganti dengan cara pikir yang lebih positif dan memotivasi. Ini akan juga mempengaruhi bagaimana cara kita mengeluarkan kata-kata dalam percakapan keseharian. Contoh negatif diatas bisa kita ubah menjadi:

  • Saya tidak bisa, diubah dengan bertanya, apa lagi yang perlu dilakukan untuk membuatnya lebih baik?
  • Terlalu sulit untuk saya, diubah menjadi saya masih memerlukan waktu dan usaha untuk menyelesaikannya.
  • Saya angkat tangan dan menyerah, diubah menjadi saya akan mencoba strategi lain yang sudah saya pelajari.
  • Saya tidak bisa menghasilkan lebih baik lagi, diubah menjadi: selalu ada ruang untuk perbaikan, saya akan usahakan
  • Hasil seperti ini kan sudah bagus, masa belum cukup? Bisa diubah dengan bertanya, apakah ini hasil terbaikku?

 

Seperti yang sudah disampaiakn diatas, Alam semesta memang telah menuntun kami untuk hadir di sekolah Laskar Pelangi di Belitung, sebelum sesi siang itu.

Mengukir Mosaic Kehidupan

Kalau kita jelas tentang apa yang menjadi tujuan kita, tujuan hidup, tujuan professional atau tujuan lain yang sudah ditentukan, kita akan memastikan bahwa kita tetap fokus melangkah dengan arah yang jelas. Panggilan professional kita telah menghadirkan orang lain untuk menjadi anak buah kita, dan kita bertanggung jawab untuk membuat mereka tumbuh menjai pribadi yang positif bermanfaat bagi masyarakat. Panggilan hidup kita juga telah memungkinkan kita berada dalam keluarga atau komunitas organisasi, dimana kita akan saling membantu untuk melengkapi kehidupan kita dengan berbagai nilai tambah hasil karya kita semua.

Karena itu bukan sebuah kebetulan bahwa acara pagi tadi, menjelang sharing sessionku, kami berkunjung ke sekolah Laskar Pelangi. Ini mengingatkan saya pada penulis buku Laskar Pelangi, Andrea Herata, yang menulis  dalam sebuah bukunya, bahwa setiap pengalaman hidup kita seumpama membentuk sebuah mosaic. Dan dikemudian hari, ketika semua mosaic kehidupan itu disusun menjadi satu, maka akan nampak betapa indahnya kehidupan ini.

Karena itu, langkah untuk keluar dari fixed mindset dan melangkah ke zona Growth Mindset (inti dari sharing hari itu), memungkinkan kita untuk bisa terus mengukir mosaic kehidupan dan professional kita dengan warna-warni pikiran dan tindakan yang lebih positif dan produktif. Foto bersama peserta.

Peran seorang leader sangat menentukan dalam memfasilitasi proses belajar dan membangun Budaya Kerja dengan Growth Mindset. Contoh perilaku leader akan berbicara lebih lantang dari kata-kata atau slogan. Hal-hal yang nampak awalnya sulit dan tak mungkin, akan dihadapi sebagai tantangan penuh pembelajaran. Dengan demikian di kemudian hari, saat kita melihat seluruh perjalanan yang sudah dilalui, kitapun bisa dibuat kagum, ternyata perjalanan sulit bisa dilalui, betapa indahnya seluruh mosaic kehidupan kita. Dan di titik itu bila kita mencermati pikiran dan kata-kata yang kita ucapkan, kitab boleh bangga bahwa semuanya berdasarkan Growth Mindset, positif dan memotivasi.

“We try to have the kind of a culture that doesn’t value excuses in the sense that when you’re supposed to accomplish something, and you’re at a high level, then your job is to accomplish it, in spite of difficulty. And you’re rewarded for dealing with that.” (Phil Libin)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Roy, pasti ada waktunya untuk masing-masing kita, sesuai kebutuhan. Salam sukses

roy:
Senang sekali bila malam itu saya bisa ikut bergabung, berbagi cerita, dan bersilaturahmi dengan pak Jos dan...

josef:
Terima kasih Denitri, pa Pungki sudah mulai membangun dialog untuk menemukan jalan agar CHRP bisa mendapat...

josef:
Selalu sehat dan jangan lupa olahraga rutin, serta ajak teman2 lainnya untuk ikut bersama2. Terima kasih Ratih

josef:
Terima kasih Ratih, kontribusi nyata bisa diberikan ditempat kerja, membuat diri kompeten karena terus...


Recent Post

  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat
  • Leading with Love
  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong