Posted on June 13th, 2014
“The price of anything is the amount of life you exchange for it.” (Henry David Thoreau)
LEBIH SERING sekaligus lebih mudah orang mengukur berapa nilai waktu yang diluangkan dengan menggunakan takaran uang. Karena itu muncul ungkapan: waktu adalah uang. Tapi sering kita tidak menyadari bahwa dalam kehidupan ini, ada nilai waktu yang tidak bisa diukur dengan uang, karena pada dasarnya tidak ternilai.
Sebut saja waktu yang diluangkan untuk bersama keluarga, menemani anak belajar, atau sekedar bercanda di akhir pekan. Semua itu tidak bisa diukur dengan uang. Tapi, pertanyaan yang selalu menggoda adalah: berapa porsi waktu perlu diluangkan untuk aktivitas lain di luar kerja itu sendiri. Atau sebaliknya, berapa persen waktu hidup kita yang pada kenyataannya di serap untuk bekerja?
Cermati Agenda dan Daftar Destinasi
Kami sendiri menyadari bahwa kerja itu penting. Tapi juga dari waktu ke waktu mencoba untuk mengimbanginya dengan waktu untuk keluarga. Adalah kebiasaan dalam keluarga kami untuk membuat daftar tujuan wisata pada liburan berikutnya.
Waktunya tentu akan dirancang dengan mempertimbangkan liburan sekolah, kegiatan kerja kami dan saatnya harus memutuskan karena akan berkaitan dengan biaya. Semakin jauh hari kita rencanakan, akan bisa mendapat peluang dapat rate hotel atau penerbangan murah.
Tidak kalah pentingnya juga adalah mencermati hari-hari merah di kalender, guna memaksilkan hari-hari cuti. Semua pertimbangan ini akan membantu dalam menentukan setiap rencana perjalanan apakah untuk waktu panjang/pendek; perlu biaya banyak/sedikit, pergi sendiri atau dengan panduan tour dan lain-lain.
Dan 2 (dua) hari tanggal merah di tengah minggu akhir Mei, memungkinkan kami untuk hanya mengambil cuti tiga hari tapi bisa liburan maksimum 9 hari. Pilihan kami sekeluarga kali ini adalah Korea.
Mengapa Korea?
Korea memang lagi gencar menjual segala potensi yang ada di sana. Menariknya, pemerintahnya sangat peduli untuk menunjang aneka peluang di berbagai sektor. Sebut saja promosi K-Pop melalui group andalan seperti EXO, SUJU, BIG BANG dan lain-lain. Atau Running Men Reality Show.
Tapi tidak kalah pentingnya adalah daerah-tujuan wisata. Di Jeju Island misalnya, ada Cheonjiyeon Waterfall, one of the 7 world wonder, kampung asli Jeju, World Natural Heritage, Global Geoparks. Atau di sekitar Seoul dengan Nami Island, tempat shooting drama Korea terkenal Winter Sonata. Atau tempat-tempat jualan produk asli Korea seperti Kosmetik, Ginseng, Madu, Coklat dengan rasa aneka buah seperti jeruk, strawberry dan buah kaktus, dan tentu saja masih banyak lagi.
Apakah daftar ini saya buat untuk mempromosikan Korea?? Tidak !! Sebagian besar dari daftar pilihan wisata tersebut ada di tanah air. Yang berbeda adalah:
Jujur saja, anak saya termasuk kelompok yang sangat menggandrungi group musik SM Town, sejak generasi 1 (BOA, KANGTA, DBSK), generasi 2 (SUJU, SNSD), generasi 3 (Shinee, F(X)), dan generasi 4: EXO.
Karena itu Korea sebagai tujuan liburan kami, sudah masuk daftar sejak lama.
Service Excellence Seorang Tour Leader
Libur memang harus dinikmati. Tapi saya tidak bisa menutup diri untuk mencermati setiap kejadian sekitarnya untuk belajar. Kali ini saya sengaja mengangkat sebuah contoh Service Excellence yang saya cermati dari tour leader kami.
Dia seusia putri saya, 21 tahun. Sangat cekatan, gesit. Pagi-pagi dia sudah duluan di coffee shop dan siap menyapa tim tour-nya sambil menginformasikan untuk menghindari tempat menu PORK.
Dia akan make sure bahwa bis ada pada waktunya, dan semua peserta selalu on time (untuk yang satu ini dia sangat berhasil). Sebelum bis bergerak, dia selalu mengingatkan kami untuk mengenakan seat-belt demi kenyamanan dan keselamatan kami. Dia tidak pernah berasumsi bahwa semua kami sadar akan safety dan selalu disiplin menggunakan seat-belt. Ini menggaris bawahi safety awareness tinggi dari seorang tour leader.
Dan terakhir, hal yang kecil tapi tidak perna alpa: SENYUM selalu menghiasi wajahnya, entah pagi, siang atau malam. Kami sangat menghargai dan memberikan apresiasi kepada team leader ini, Elena Tjau, yang mendapat inspirasi untuk berkarya sebagai tour leader dari kakaknya. Foto berikut adalah Eka bersama Elena.
Semoga waktu yang digunakan untuk liburan keluarga, di tengah padatnya jadual kerja kami di kantor, bisa memberikan nilai tambah pada kebersamaan keluarga, sebuah nilai yang tidak bisa diukur dengan uang.
“The time to relax is when you don’t have time for it.” (Sydney Harris)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...