Kebanggaan Karyawan dan Engagement via iPad

Posted on November 9th, 2012

Penghargaan Masa Kerja

KESEMPATAN kunjungan kali ini juga saya gunakan untuk mempertebal sekaligus menyebarkan virus kebanggaan karyawan yang sudah mempunyai masa kerja lama. Di quarter ke-3 tahun ini ada tiga orang di Kantor Cabang Kupang telah 15 tahun bekerja di Danamon, karena itu mereka berhak menerima Penghargaan berupa Piagam dan Pin Emas. Mereka adalah: Meity Barbara Pellokila; Andreas Ita dan Fransiskus Bouk Nana.

Disaksikan oleh semua karyawan di cabang itu, mereka pun senyum bangga menerima penghargaan tersebut, sambil berkesempatan untuk foto bersama, seperti yang terlihat berikut ini. Dan kegembiraan itu dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Bangga dengan Pin Emas di Leher

Pada waktu karyawan mempunyai masa kerja genap 15 tahun, mereka diberikan Piagam Penghargaan dan Pin Emas.  Macam-macam yang dilakukan karyawan terhadap Pin Emas tersebut.

Ada yang menyimpannya baik-baik di rumah sebagai kenangan akan perjalanan panjang karier di Perusahaan. Ada juga yang menyematkan di baju ketika mereka ke tempat kerja. Lain lagi yang dilakukan oleh Djonias Ndoly, seorang Sopir, yang telah mempunyai masa kerja 18 tahun.

Tiga tahun lalu, ketika genap 15 tahun masa kerja, dia juga menerima Piagam Penghargaan dan Pin Emas. Djonias malah memakai Pin Emas tersebut sebagai kalung di lehernya, setelah dia menambahkan dengan rantai kalung.

Ketika saya bertanya tentang alasannya melakukan itu, sambil tersenyum dia menjawab:

“Saya bangga menjadi karyawan Danamon. Saya bangga telah melampaui masa kerja 15 tahun. Karena itu, mengenakan Pin Emas di leher, akan selalu membuat saya merasa bangga, dan terus mengingatkan saya akan karya saya di perusahaan ini.

Kebersamaan melalui Kuliner Lokal

Selama perjalanan kunjungan ke daerah, tidak lupa kami mencoba kuliner lokal. Setibanya di Ende, saya memberitahu tim, bahwa saya tidak mau makan kue atau roti, tapi singkong yang terkenal. Kalau di Jawa, kita mengenal ada Ubi Cilembu, di Ende ada singkong yang mereka namakan Ubi Nuabosi.

Singkong ini direbus atau digoreng, tapi nikmatnya kalau dimakan selagi panas, dengan sambal yang pedas. Sementara itu di Ruteng, mereka tidak akan lupa menyajikan Roti Kompiang untuk menemani Kopi Ruteng yang terkenal. Di Kupang, makan siang dirancang bersama daging sei (daging asap) ditemani sayur jantung pisang, dan makan malam bersama ikan bakar rica dan sayur bunga papaya.

Ada pula candaan lokal ala penjual Indomie di kaki Gunung Kelimutu, ketika kami memesan Indomie sebelum mendaki Gunung Kelimutu. Saya pun menanyakan.

“Ada dua bule yang lagi duduk disana, kalau mereka pesan Indomie, rasa apa yang akan mereka pesan?”

Dengan polosnya yang empunya warung menjawab.

“Indomie Rasa Bersalah.

Loh, baru kali ini saya dengar varian tersebut. Dan dengan senyum jenaka, ibu penjual Indomie menjelaskan.

“Habisnya sudah sejam lebih mereka duduk disitu, hanya isi teka-teki silang tanpa pesan apa-apa! Jadi khan kasian bapak harus berdiri, tidak kebagian tempat!”

Jempol buat pemilik warung, yang mengajarkan saya tentang kejenakan pada moment seperti itu.

Bonus Perjalanan

Dalam kunjungan ini, ada porsi yang harus ditempuh melalui jalan darat. Namun demikian, karena ada berbagai obyek yang bisa ditemui sepanjang jalan, perjalanan itu jadi menyenangkan bagi tim yang menemani kunjungan:

  1. Foto atas: Sawah yang lagi menghijau yang bisa dilihat sepanjang perjalanan Ende – Maumere (kiri) dan Rumah Adat Ruteng (kanan).
  2. Foto tengah: Kerangka Ikan Paus di Museum NTT Kupang (kiri) dan bekas rumah pengasingan Bung Karno di Ende (kanan).
  3. Foto Bawah: Bersama tim di pinggir Danau Kelimutu.

Engagement via iPad

“Narsis !”

Demikian karyawan saya suka menyebut diri mereka, karena itu moment foto-foto tidak akan pernah dilewatkan.

“Tolong dikirim fotonya, pak..

Inilah permintaan yang sering kita dengar, bilamana kita foto bersama di moment-moment penting. Dan yang umum terjadi foto itu akan dikirim beberapa hari, atau bahkan berminggu-minggu kemudian. Apalagi kalau itu masih ada di kamera.

Sebuah pengalaman yang ingin saya share adalah, bagaimana saya melakukan engagement dengan memanfaatkan kebiasaan karyawan berfoto. Saya akan meminta orang untuk mengambil foto-foto saya bersama tim atau foto dengan karyawan yang memintanya.

Kemudian dari Camera Roll di iPad, saya membuka foto yang barusan diambil. Melalui menu yang tersedia saya klik untuk mengirim foto tersebut melalui email. Saya kemudian menyodorkan iPad saya kepada karyawan yang menginginkan foto itu, untuk mengetik sendiri alamat emailnya untuk pengiriman foto tersebut.

Tidak lupa saya menanyakan kapasitas penerimaan di email dia, karena saya bisa menyesuaikan Image Size dengan range dari 40 KB hingga 2.2 MB. Dengan demikian hanya dalam hitungan menit foto-foto tersebut sudah sampai ke alamat email masing-masing, yang lantas mereka semua bisa langsung melihat preview-nya melalui gadget BlackBerry atau HP.

Ini yang membuat karyawan lebih suka foto bersama dengan iPad saya daripada melayani fotografer yang sudah disiapkan. Di saat meminta foto bersama inilah merupakan moment di mana karyawan merasa bahwa mereka sangat dekat dengan pimpinannya, tidak merasa malu, kikuk, ataupun takut.

Semua hambatan formal seakan sirna. Sebuah pendekatan yang sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Dan dalam perjalanan kembali ke Jakarta, waktu luang ketika menunggu pesawat, saya gunakan untuk merangkai berbagai foto bersama dengan PickFrame di iPad dan saya kirimkan kepada mereka melalui Kepala Kantor Cabangnya. Dan mereka pun bangga menggantikan Profile-nya di BB/FB dengan foto-foto dari iPad-ku atau yang mereka ambil langsung dari BB mereka. (*)

Bookmark and Share

4 Responses to Kebanggaan Karyawan dan Engagement via iPad

  1. Tromol says:

    Pagi Pak Joef, ceritanya simple dan biasa saja, namun Mai Anya sangatlah dalam yang dapat menbangkitkan motivasi berbuat yang kecil dan biasa namun hasilnya yang LUAR BIASA yang menyentuh semangat untuk berbuat yang terbaik.

    Selamat buat rekan-rekan di cabang/unit yang ada di NTT ya.

    • josef josef says:

      Terima kasih Tromol, memang cerita2 harian sekitar kita sayang untuk dilewatkan begitu saja. Semoga teman2 disana terus bersemangat sebagai Danamoners. Salam

  2. Erlina says:

    Great trip Pak…jadi pengen jalan” kesana juga hahahaaha :p

    • josef josef says:

      Telat ngomongnya Erlina, ada belasan teaman2 berangkat kemarin untuk tujuan wisata di Flores sampai hari minggu. Setuju untuk di plan. Terima kasih dan selamat pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan