Saya Mengaku Salah

Posted on January 8th, 2021

“Many times what we perceive as an error or failure is actually a gift. And eventually we find that lessons learned from that discouraging experience prove to be of great worth.” (Richelle E. Goodrich)

EVALUASI akhir tahun banyak dilakukan. Baik berkaitan dengan pencapaian target, kinerja tahun berjalan, baik individu maupun team secara kolektif. Ini penting dilakukan karena, pembelajaran yang diperoleh dari evaluasi ini akan bermanfaat bagi perjalanan di tahun mendatang. Untuk itu team Du’Anyam merancang program Outing, dengan salah satu acaranya adalah sharing dari saya melalui zoom dengan tema: Menerima dan Belajar dari Kesalahan Diri Sendiri

Berikut keceriaan Sebagian peserta yang dihadirkan salah satu anggota BoD, Hanna Keraf di IG Storynya.

Iceberg of Ignorance

Pada kesempatan ini saya sengaja mengajak peserta untuk menyimak chart berikut, yang menurut cerita dilansir pertama di tahun 1989 oleh Sidney Yoshida. (simak tulisan Douglas E Dawson December 8, 2020 berjudul Finding Sidney Yoshida).

Chart ini bisa banyak berbicara, tak perlu dijelaskan. Namun penting untuk dicermati, seberapa terbukanya lingkungan kerja yang membuat team merasa nyaman untuk mengaku salah, kalau berbuat salah. Juga seberapa nyaman mereka menyampaikannya kepada pimpinan yang lebih tinggi lagi, bila diperlukan untuk mendapatkan solusi.

Berkaitan dengan ini, seorang peserta bertanya, apakah pak Josef pernah marah besar karena teamnya melakukan kesalahan? Atas pertanyaan itu saya bercerita:

Suatu siang sekretaris saya dan sekretaris pengganti (kalau sekretaris utama tidak masuk kerja) minta waktu untuk bertemu. Langsung mereka bertanya: Apa yang kami lakukan kemarin adalah kesalahan besar. Mengapa kami tidak dimarahi saat dipanggil kemarin? Kemudian terjadi dialog:

JOS: Apakah memang kalian melakukan kesalahan? Seperti apa kesalahan itu?

Sekretaris: Iya kami berbuat salah, kami minta maaf dan siap menerima konsekuensinya, termasuk dimarahi oleh bapak.

JOS: Apakah kalian sudah menindak-lanjuti setelah kejadian kemarin? Seandainya, kalian harus mengulang kembali tugas itu, apa yang akan kalian lakukan dengan cara berbeda?

Sekretaris: Merinci langkah yang bisa mereka lakukan agar bisa lebih baik lagi

JOS: Saat ini jarak duduk saya dengan kalian berdua hanya sekitar satu meter. Apakah nada suara saya terdengar jelas?

Sekretaris: Iya pak

JOS:  Dengan nada suara seperti ini, kita bisa berdialog, kalian bisa dengar jelas, kalian sudah mengakui kesalahan, berjanji untuk mengambil langkah lebih baik lagi di kesempatan berikutnya, lalu untuk apa saya harus marah dengan nada suara yang lebih tinggi? Orang yang marah sambil berteriak itu karena dia merasa seakan-akan  jarak hatinya dan hati orang yang diajak bicara begitu jauhnya sehingga hanya dengan nada suara tinggi, pesannya akan sampai. Saya tidak memerlukan nada suara seperti itu.
Demikian dialog pendek, yang saya akhiri dengan mengucapkan terima kasih karena mereka mau bercerita secara terbuka, menerima bahwa mereka salah dan belajar dari kesalahan tersebut.

Marah atau tidak dalam menanggapi setiap kejadian, adalah pilihan yang bisa kita lakukan secara spontan.

Bangkit dan Melangkah Maju

Kita semua, termasuk saya, tidak luput dari melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana tanggapan kita saat melakukan kesalahan. Peserta saya ajak untuk sharing contoh kesalahan yang mereka lakukan sebagai individu atau sebagai team, dan apa pembelajaran yang didapat dari kesalahan itu.

Disamping itu saya juga ingin mengangkat dua pertanyaan peserta sebagai bagian dari tulisan ini:

“Saat kita berbuat satu kesalahan atau mungkin tindakan kecerobohan, hal apa yang seharusnya kita lakukan pertama kali setelahnya?”

Tanyakan pada diri sendiri, apa kontribusimu dalam kejadian ini. Ini dilakukan agar tidak menyalahkan orang lain. Siapa yang terdampak? Ini untuk membuat keputusan tentang apakah ada yang perlu saya minta maaf, atau apa yang harus segera saya sampaikan, atau diskusikan untuk mendapatkan solusi.

Adapun pertanyaan lainnya saya hadirkan juga disini:

“Bagaimana tips agar kita mau menerima diri kita apa adanya dan tidak fokus untuk membandingkan diri dengan orang lain?”

Mulailah dengan mensyukuri apa saja yang sudah ada di tangan: keluarga, pekerjaan, penghasilan, kawan2, kesempatan untuk belajar serta tumbuh dll. Kemudian terus menggali, apa potensi diri yang belum diketahui. Kalau perlu minta tolong orang untuk membantumu. Usahakan untuk terus memoles talentamu dari waktu ke waktu. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Sesi ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk selanjutnya membuat komitmen berupa: Stop Doing, Start Doing dan Do More of, demi 2021 yang lebih baik. Selain daftar ini akan menjadi komitmen pribadi untuk ditindak-lanjuti, tapi juga bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran kolektif untuk seluruh tim.

“Mistakes are always forgivable if one has the courage to admit them.” (Bruce Lee)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih tanggapan Kelana. Tidak mau membalas argumen juga merupakan pilihan. Namun kalau argumen...

kelana:
halo pak josef, bagaimana cara upgrade rasa PD, saya tidak ragu dengan kemampuan tapi terkadang tidak mau...

josef:
Terima kasih, kalau insight yg Rolin dapat juga dibagi ke teman2, akan bertambah kaya ilmu Rolin. Salm

Rolin:
Terimakasih selalu menginspirasi,Pak Josef. Seperti sumur, semakin dalam digali, semakin jernih airnya

josef:
Terima kasih mba Nurlita Magdalena, sudah sempatkan menyimak kisah di blog ini dan memberikan komennya. Sukses...


Recent Post

  • Percaya Pada Diri Sendiri
  • Saya Mengaku Salah
  • Advis Utama Seorang CEO: Be Yourself
  • Building Resilience with Growth Mindset
  • Year End Meaningful Conversation
  • Inspirasi dari Pelosok Nusantara
  • Produktivitas Tanggung Jawab Semua Pemimpin
  • Terima Kasih Boleh Melayanimu
  • Tidak Semudah Itu Ferguso
  • Self Coaching for Better Tomorrow